Baru 17% UMKM Berjualan Online, Kominfo Gencar Gaet E-commerce

Ada 9,61 juta UMKM yang sudah go-online sejak 2017 hingga 2018. Namun, baru 739,85 ribu nelayan dan petani yang berjualan secara online.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
1 Juli 2019, 15:30
Kominfo, UMKM bisa go-online, e-commerce
Go-Pay
Ilustrasi, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan didampingi oleh Head of Government Relations and Public Policy Go-Pay Brigitta Ratih Aryanti dan Perwakilan Go-Jek Astrella mencoba metode pembayaran nontunai menggunakan kode QR Go-Pay di Pasar PSPT Tebet Timur, Jakarta Selatan pada Selasa (26/2/2019).

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, baru 9,6 juta atau 17,1% dari total 56 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia yang berjualan secara online atau go-online. Kominfo pun gencar menggaet perusahaan e-commerce dan teknologi finansial (fintech) supaya 56 juta UMKM bisa go-online.

Kali ini, Kementerian menggaet e-commerce asal Singapura, Shopee. “Lewat kerja sama ini, para marketplace bisa berbagi data analisisnya kepada UMKM untuk meningkatkan (kualitas dan kuantitas) produk kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan di kantor Shopee, Senin (1/7).

Semuel mengatakan, bergabung dengan e-commerce saja belum cukup untuk meningkatkan penjualan UMKM. Sebab, e-commerce bukan hanya membuka pasar lebih luas kepada UMKM, tetapi juga meningkatkan persaingan. Karena itu, menurut dia, UMKM perlu memahami tren penjualan melalui data-data yang dianalisis oleh marketplace.

(Baca: UMKM Berpeluang Selamatkan Indonesia dari Jebakan Kelas Menengah)

Berdasarkan data-data tersebut, UMKM bisa mengkaji strategi pemasaran yang sesuai dan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu, Kementerian mendorong e-commerce untuk memberi pelatihan kepada mitra UMKM.

Ia juga berharap, UMKM mendaftarkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) produk buatannya. “Itu (HAKI) adalah aset, sehingga harus didaftarkan dan dijaga. Karena menyalin (produk/karya) itu sebenarnya boleh, namun harus ada izin dengan pemilik idenya dengan membayar royalti," katanya.

Selain Shopee, Kementerian sudah bekerja sama dengan Tokopedia, Bukalapak, Blibli.com, dan Blanja.com untuk mendorong UMKM go-online. “Kami kerja sama dengan semua platfrom marketplace yang mempunyai program (misi) yang sama dengan kami,” kata Semuel.

(Baca: Shopee Target Ekspor 5 Ribu Produk Lokal ke Malaysia dan Singapura)

Direktur Shopee lndonesia Handhika Jahja  menambahkan, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia. Salah satu penopangnya adalah pertumbuhan pengguna ponsel pintar (smartphone) dan internet yang cepat.

Ia pun mencatat, sekitar 95% pemesanan melalui Shopee dilakukan menggunakan smartphone. “Dengan kerja sama ini, kami percaya dapat sama-sama menciptakan pertumbuhan ekonomi digital dengan memaksimalkan sumber daya yang ada dan terus beradaptasi dengan tren global saat ini,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian juga bekerja dengan fintech pembayaraan seperti Go-Pay untuk meningkatkan jumlah UMKM berjualan online. Kementerian pun menargetkan pedagang di 500 pasar tradisional menggunakan layanan pembayaran digital tahun ini.

Secara rinci, Kementerian mencatat ada 9,61 juta UMKM berjualan online sejak 2017 hingga 2018. Pada 2018 saja, UMKM go-online mencapai 4,91 juta dari target 2,67 juta. Sedangkan petani dan nelayan go-online sebanyak 739,85 ribu sepanjang 2017-2018. Khusus pada 2018 saja, 406,3 ribu dari target 400 petani dan nelayan yang go-online. Tahun ini, Kementerian berharap satu juta nelayan dan petani bisa go-online.

(Baca: Pemerintah Targetkan Satu Juta Petani dan Nelayan Go-Online Tahun Ini)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait