Survei PwC: 74% UMKM Belum Dapat Akses Pembiayaan

PwC memperkirakan, pinjaman yang disalurkan fintech lending mencapai Rp 223 triliun pada 2020.
Image title
28 Juni 2019, 13:15
UMKM fintech lending
ANTARA FOTO/MAULANA SURYA
Ilustrasi, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) bersama Menkominfo Rudiantara (kanan) menjadi pembicara saat seminar Fintech Goes to Campus di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Sabtu (9/3/2019). PwC menyebutkan, 74% UMKM di Indonesia belum mendapat akses pembiayaan.

Perusahaan jasa konsultan internasional Pricewaterhouse Coopers (PwC) menyebutkan, 74% Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia belum mendapat akses pembiayaan. Hal ini bisa menjadi peluang bagi perusahaan teknologi pinjaman (fintech lending) di Indonesia.

Dalam studi bertajuk ‘Indonesia’s Fintech Lending: Driving Economic Growth Through Financial Inclusion’, PwC menyampaikan bahwa pemahaman UMKM terkait inklusi keuangan masih rendah. Hal itu menjadi salah satu penyebab 74% UMKM belum memiliki akses pembiayaan.

Advisory Partner PwC Indonesia Sharly Rungkat mengatakan, perlu pendekatan lokal guna mengedukasi UMKM terkait akses pembiayaan. “Salah satunya bisa dilakukan lewat pendanaan dari fintech lending,” kata dia di kantornya, Kamis (27/6).

(Baca: Fintech Bisa Garap 35 Juta Orang dari Target Inklusi Keuangan)

PwC memperkirakan, pinjaman yang disalurkan fintech lending mencapai Rp 223 triliun pada 2020. Sebab, penyaluran pinjaman lewat fintech lending sepanjang 2016-2018 tumbuh 793%. PwC memperkirakan, pertumbuhan penyaluran pembiayaan oleh sektor ini sekitar 214% selama 2018-2020.

Ada empat faktor yang memungkinkan fintech lending menjangkau UMKM di daerah. Pertama, fintech lending memanfaatkan jejak digital sebagai pengganti dokumen fisik untuk verifikasi atau menggunakan data pihak ketiga seperti e-commerce. Dengan begitu, proses pendaftaran menjadi lebih mudah.

Kedua, fintech lending mengumpulkan banyak data terkait calon peminjam, sehingga tidak memerlukan jaminan. Ketiga, fintech lending perlu menyediakan tampilan aplikasi (user experience/UX) yang memudahkan pengguna saat mengajukan pinjaman.

Keempat, fintech lending menilai kelayakan kredit peminjam menggunakan algoritma di platformnya. "Pelaku fintech lending mengombinasikan model usaha, teknologi, dan pendekatan inovatif yang berbeda, sehingga memungkinkan mereka untuk menjangkau lebih luas ke daerah terpencil serta menyelesaikan tantangan infrastruktur dan manajemen risiko,” katanya.

(Baca: Astra Hingga Go-Jek Berebut Rp 1.000 Triliun Pasar Fintech Lending)

Central Bureau of Statistics menyebut, lebih dari 60% penduduk Indonesia berusia produktif. Hal ini menjadi salah satu bonus bagi Indonesia untuk mendorong Produk Domestik Bruto (PDB) melalui belanja konsumen dan produksi lokal.

Namun, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan puncak populasi usia kerja Indonesia terjadi pada 2031. Untuk memaksimalkan potensi dari banyaknya penduduk berusia produktif, peningkatan akses pembiayaan bisa menjadi salah satu solusi.

Fintech lending, menurut Sharly bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan akses pembiayaan. “Semua pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk memastikan bahwa industri ini mencapai pertumbuhan masa depan yang stabil dalam ekosistem yang kondusif dan dapat menciptakan dampak inklusi keuangan yang lebih besar untuk Indonesia," katanya

Adapun penelitian tersebut dilakukan terhadap 2.500 responden, yang terdiri dari peminjam (borrower) dan pemberi pinjaman (lender) di 18 kota di Indonesia. Survei dilakukan dengan metode wawancara langsung, pada April-Mei 2019. PwC juga berdiskusi dengan regulator dan sejumlah badan usaha terkait pandangan mereka mengenai lanskap fintech lending di Indonesia.

(Baca: OJK Sebut 90% Penyaluran Pinjaman Masih di Pulau Jawa)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait