E-Commerce Dongkrak Permintaan Asuransi di Startup PasarPolis & Qoala

Transaksi asuransi logistik atas barang yang dipesan melalui e-commerce meningkat saat pandemi corona. Startup PasarPolis dan Qoala kebanjiran permintaan.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
25 September 2020, 15:15
E-Commerce Dongkrak Permintaan Asuransi di Startup PasarPolis & Qoala
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Ilustrasi, warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Jumat (27/12/2019).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Startup teknologi asuransi (insurtech) PasarPolis dan Qoala mencatat, permintaan produk perlindungan jasa pengiriman meningkat saat pandemi corona. Ini seiring melonjaknya transaksi di platform e-commerce.

Pendiri sekaligus CEO PasarPolis Cleosent Randing mengatakan, permintaan asuransi jasa pengiriman seperti GoSend dan GoBox meningkat 12 kali lipat selama pandemi Covid-19. Begitu juga dengan produk perlindungan atas transaksi di Tokopedia.

"Ini sinyal kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan meningkat saat pandemi," kata Cleosent kepada Katadata.co.id, Kamis (24/9).

Oleh karena itu, perusahaan berencana meluncurkan produk baru seperti asuransi untuk pengemudi ojek online. Selain itu, perlindungan terkait perjalanan dan wisata.

Sebagaimana diketahui, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi calon penumpang pesawat, salah satunya surat keterangan bebas Covid-19. Dengan pengetatan ini, rencana perjalanan berisiko batal sehingga asuransi menjadi kebutuhan.

Cleosent mengatakan, produk baru akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat pandemi virus corona. “Ada banyak kekhawatiran saat ini yang perlu kami jawab,” kata dia. “Ada banyak hal yang perlu diasuransikan.”

Secara keseluruhan, permintaan asuransi di PasarPolis meningkat setiap tahunnya. Peningkatannya 80 kali lipat pada tahun lalu dibandingkan 2018.

Pada 2019, perusahaan menerbitkan lebih dari 650 juta polis. Layanan ini diberikan kepada pengemudi ojek online, kurir pengiriman barang, penjual online, dan lainnya.

Namun Cleosent tidak memerinci data peningkatan permintaan hingga pertengahan tahun ini.

Perusahaan sejenis lainnya, Qoala juga mencatatkan peningkatan permintaan produk perlindungan jasa logistik. “Popularitas asuransi kesehatan dan logistik untuk e-commerce meningkat saat pandemi,” ujar Head of Partnerships Qoala Cindy Tan.

Namun ia tidak memerinci peningkatan permintaannya.

Ia hanya menyebutkan bahwa perusahaan memproses lebih dari dua juta polis per bulan pada tahun ini. Jumlahnya melonjak dibandingkan tahun lalu, tujuh ribu polis setiap bulannya.

Kedua startup itu pun memperoleh pendanaan pada tahun ini. PasarPolis menutup putaran pendanaan seri B US$ 54 juta atau sekitar Rp 796,5 miliar pada awal September.

Dana segar itu diperoleh dari LeapFrog Investments, SBI Investment, Alpha JWC Ventures, Intudo Ventures, dan Xiaomi.

Sedangkan Qoala mengumumkan perolehan pendanaan seri A US$ 13,5 juta atau sekitar Rp 209 miliar pada April lalu. Investasi ini dipimpin oleh Centauri Fund, perusahaan joint venture dari Kookmin Bank asal Korea Selatan dan Telkom Indonesia.

Selain itu, ada investor baru yang terlibat yakni Flourish Ventures, Kookmin Bank Investments, Mirae Asset Venture Investment dan Mirae Asset Sekuritas. Pemodal terdahulu seperti Central Capital Ventura dari Bank Central Asia (BCA), MDI Ventures, Surge, MassMutual Ventures Southeast Asia, dan SeedPlus juga berpartisipasi.

McKinsey memperkirakan terdapat 1,6 miliar paket atas transaksi di e-commerce yang dikirim per tahun, pada 2022. Jumlahnya bisa meningkat lagi, mengingat layanan e-commerce semakin diminati selama pandemi sebagaimana Databoks di bawah ini:

Berdasarkan laporan AppsFlyer bertajuk ‘The State of Shopping App Marketing 2020 Edition’, konsumen Indonesia menghabiskan waktu di platform e-commerce meningkat 70% selama Februari-Juni.

Selain itu, Facebook dan Bain & Company memperkirakan bahwa nilai transaksi belanja online di Indonesia hampir US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.047,6 triliun pada 2025. Angka ini melonjak dibandingkan proyeksi awal US$ 48 miliar.

Proyeksi nilai transaksi belanja online melonjak menjadi US$ 147 miliar di Asia Tenggara pada 2025. Angka ini juga meningkat dibandingkan prediksi awal yang hanya US$ 120 miliar.

(Revisi paragraf 16 pada Selasa, 29 September, Pukul 14.46 WIB)

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait