Video Hoaks Joe Biden Lupa Nama Daerah Ditonton Jutaan Kali Sehari

Video manipulasi yang menunjukkan seolah-olah pesaing Trump, Joe Biden lupa nama daerah di mana ia kampanye ditonton jutaan kali. Video deepfake di AS meningkat 2.000% jelang pemilu.
Desy Setyowati
3 November 2020, 12:07
Video Hoaks Joe Biden Lupa Nama Daerah Ditonton Jutaan Kali Sehari
ANTARA FOTO/REUTERS/Brendan McDermid/wsj/dj
Mantan Wakil Presiden Joe Biden yang mencalonkan diri untuk presiden Amerika Serikat dari Demokrat berorasi saat kampanye di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Senin (9/3/2020).

Twitter menandai video manipulasi yang menunjukkan seolah-olah calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden lupa nama daerah di mana ia kampanye. Konten ini ditonton 1,1 juta kali dalam 24 jam.

Dalam video tersebut, Biden naik ke atas panggung dan berkata, "Halo, Minnesota!". CNN Internasional melaporkan bahwa partisi di belakang Biden memang bertuliskan ‘Teks MN to 30330’ pada konten yang asli.

Sedangkan yang hoaks tertulis ‘Tampa, Florida’. Video manipulasi inilah yang disaksikan 1,1 juta kali dalam sehari di Twitter. Konten ini pun diberi label ‘media yang dimanipulasi’ oleh Twitter pada Minggu malam (1/11).

Video manipulasi Joe Biden
Video manipulasi Joe Biden (twitter/@donie)

Akibat video tersebut, beberapa warga menilai Joe Biden tidak sehat secara mental. Perempuan yang hadir pada acara Presiden AS Donald Trump di West Salem, Wisconsin, Selasa misalnya, mengatakan hal demikian. "Dia (Biden) lupa di mana ia berada. Lupa siapa yang dilawan. Lupa untuk apa dia mencalonkan diri," katanya dikutip dari CNN Internasional, Selasa (2/11).

Advertisement

Ketika ditanya maksud dari pernyataannya tersebut, perempuan itu merujuk pada klip yang diunggah tim kampanye Trump sepanjang minggu lalu. CNN Internasional mencatat, tim Trump dan para pendukungnya beberapa kali mengunggah video menyesatkan yang menunjukkan seolah-olah Biden tidak sehat secara mental.

Pada Maret lalu, Trump dan tim kampanyenya mempromosikan klip yang membuat Biden tampak mendukung presiden AS saat ini. Pada Agustus, direktur terkait media sosial Gedung Putih Dan Scavino membagikan video yang menunjukkan lawan Trump itu tertidur selama wawancara TV. Tim pencari fakta CNN Internasional mencatat konten ini palsu.

Kemudian pada September, tim kampanye Trump mengunggah video yang membuat Biden tampak lupa Ikrar Kesetiaan. Minggu lalu, mereka mempromosikan klip seolah-olah Biden mengatakan dia mencalonkan diri melawan George Bush, bukan Trump.

Marak Video Deepfake saat Pemilu AS

CEO CREOpoint Jean-Claude Goldenstein mencatat, peredaran video palsu berbasis teknologi deepfake berkembang pesat di media sosial dan internet. Sebagian besar berfokus pada politik dan pemilu AS yang akan datang, menurut studi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Deepfake adalah bentuk manipulasi suara dan wajah seseorang dalam bentuk video dengan mengandalkan deep learning. Teknologi deep learning merupakan bagian dari AI, yang secara umum mampu mengolah audio dan video.

Video deepfake biasanya digunakan untuk memfitnah target, memanipulasi peristiwa, memalsukan pernyataan atau bukti, dan membuat skandal.

CREOpoint mencatat, peredaran video deepfake naik 2.000% sejak akhir tahun lalu. Sekitar 60% menargetkan isu politik.

Video manipulasi yang menunjukkan kesehatan kognitif Joe Biden seolah-olah buruk misalnya, disaksikan lebih dari tujuh juta kali. Lalu klip ‘deklarasi kemerdekaan’ palsu Donald Trump disaksikan 18 juta kali lebih. Pada konten itu, kepala aktor Bill Pullman dalam sebuah adegan dari film ‘Independence Day’ diubah menjadi Trump.

“Peredaran video deepfake saat ini jauh lebih buruk dari yang dikira,” kata Goldenstein dikutip dari Forbes, September lalu (9/9). “Saat ketidakstabilan politik dipasangkan dengan perubahan teknologi yang cepat terkait manipulasi video dan amplifikasi algoritme, ini berpotensi menuju bencana pemilu dalam beberapa minggu."

Mantan Ketua Komisi Pemilihan Federal AS Ann Ravel pun menganalisis dampak penipuan digital sejak pemilu 2016. Hasilnya, “deepfake merupakan salah satu ancaman paling mengerikan bagi demokrasi kita," kata dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait