Bank Digital yang Didukung Gojek Gencar Gaet Fintech Pembiayaan

Bank Jago gencar menggaet fintech lending untuk menyalurkan ke kredit ke konsumen yang sulit dijangkau oleh bank. Bank yang didukung Gojek ini ingin meningkatkan skala bisnis.
Image title
9 Maret 2021, 15:47
Bukan Lawan, Bank Digital yang Didukung Gojek Gencar Gaet Fintech
Gojek
Platform digital Bank Jago dan Gojek

Kehadiran bank digital disebut-sebut bakal menjadi pesaing startup teknologi finansial (fintech). Namun, bank digital yang didukung oleh Gojek yakni Bank Jago memilih untuk gencar menggaet fintech pembiayaan (lending).

Head of Business Partnership Bank Jago Sonny Christian mengatakan, perusahaan gencar menggaet fintech lending untuk menjangkau konsumen yang sulit digapai oleh bank. “Ini untuk memiliki skala bisnis yang lebih besar,” ujar dia dalam webinar bertajuk ‘Fintech 2021’, Selasa (9/3).

Ia menyatakan bahwa fintech bukanlah lawan bagi bank digital. "Kami yakin, kolaborasi bank dengan fintech bisa saling melengkapi," kata Sonny.

Bank digital unggul dari sisi likuiditas. Sedangkan fintech, menurutnya lebih lincah menjangkau nasabah yang sulit dijangkau oleh perbankan.

Advertisement

Sonny tidak memerinci jumlah maupun nama perusahaan fintech yang digaet. Namun, pada November 2020, Bank Jago menggandeng Akulaku Finance Indonesia untuk memberikan pembiayaan melalui skema channeling.

Bank Jago berkomitmen memberikan pendanaan Rp 100 miliar kepada Akulaku saat ini. Dana ini untuk meningkatkan penyaluran pinjaman kepada pengguna.

Pada awal tahun ini, Bank Jago menyalurkan pendanaan Rp 50 miliar lewat Akseleran. Melalui kolaborasi itu, bank menjadi pemberi pinjaman (lender) institusi strategis atau super lender.

Seiring dengan perkembangan bank digital dan maraknya kerja sama dengan fintech, Sonny berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera merilis payung hukum terkait. “Apabila sudah ada, kami siap mengikuti semua peraturan baik dari Bank Indonesia (BI) maupun OJK," katanya.

Sebelumnya, OJK menyampaikan bahwa aturan bank digital ditarget rampung pertengahan tahun ini. Regulasi ini melingkupi persyaratan dalam mendirikan bank digital.

Persyaratan itu disesuaikan dengan jenis bank yang dibentuk. Pertama, bank yang memang sejak awal didirikan sebagai bank digital, maka minimal modalnya Rp 10 triliun. Investor juga harus menyampaikan proposal pendirian bank baru.

Kedua, bank yang sudah ada bertransformasi menjadi bank digital seperti Bank Jago. Minimal modalnya hanya Rp 3 triliun. 

Ketiga, bank digital yang berada di satu kelompok bank, modal minimalnya Rp 1 triliun. Bank Digital BCA yang merupakan anak usaha Bank Central Asia (BCA) kemungkinan masuk kategori ini.

Selain modal inti, regulasi itu bakal mengatur model bisnis, keamanan hingga tata kelola bank digital. "Aturan ini mengacu pada standar internasional," kata Pelaksana tugas (Plt) Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia OJK Tony Online Media KOINversation, Februari lalu (24/2).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait