Penjualan Anjlok karena Sanksi AS, Huawei ‘Ancam’ Xiaomi – Samsung

Penjualan ponsel Huawei merosot ke bawah lima besar dunia. Petinggi Huawei 'mengancam' akan kembali menggeser posisi Apple, Xiaomi, dan bahkan Samsung.
Desy Setyowati
18 Agustus 2021, 14:00
Huawei, amerika, apple, xiaomi, samsung
123RF.com
Logo Huawei

Penjualan ponsel pintar (smartphone) Huawei merosot ke bawah lima besar dunia imbas sanksi Amerika Serikat (AS), berdasarkan data Canalys. Rotating Chairman Huawei Guo Ping menyampaikan, perusahaan tidak akan menyerah untuk kembali menggeser Apple, Xiaomi, dan bahkan Samsung.

“Huawei akan terus eksis di bisnis ponsel dan dengan kemajuan berkelanjutan dalam produksi cip (chipset), takhta smartphone pada akhirnya akan kembali,” kata Guo dalam transkrip tanya jawab dengan pegawai, dikutip dari Reuters, Rabu (18/8).

Huawei sempat mengungguli Samsung dari sisi penjualan ponsel pada kuartal II 2020. Rinciannya dapat dilihat pada Databoks di bawah ini:

Canalys pun mencatat, Huawei menempati pangsa pasar terbesar kedua mengalahkan Apple pada kuartal III 2020. Ini karena berhasil mengirim 51,7 juta ponsel, dengan 14,9% pangsa pasar.

Namun Huawei terlempar dari posisi lima besar pangsa pasar ponsel global pada kuartal I 2021. Perusahaan hanya mengirimkan 18,6 juta unit pada kuartal pertama tahun ini.

Pada Januari, lembaga riset TrendForce memperkirakan bahwa pangsa pasar Huawei menjadi ketujuh pada tahun ini karena sanksi AS. Ini artinya raksasa teknologi Tiongkok itu diprediksi kalah dari Samsung, Apple, Xiaomi, OPPO, Vivo, dan Realme.

Sebagaimana diketahui, Huawei masuk dalam daftar hitam (blacklist) terkait perdagangan AS sejak awal 2019. Alhasil, ponsel buatan raksasa teknologi ini tak didukung oleh Android dari Google.

Pendapatan Huawei turun 29,4% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 320,4 miliar yuan atau sekitar Rp 712,6 triliun. Penurunan paling besar terjadi di lini bisnis konsumen yang mencakup ponsel, anjlok 47% menjadi 135,7 miliar yuan.

Akan tetapi, Guo Ping menyatakan bahwa sanksi AS itu justru mendorong Huawei meningkatkan kemampuan merancang cip. Sedangkan cip langka setelah AS memblokir beberapa produsen asal Tiongkok, termasuk SMIC.

"Semua orang tahu bahwa cip ponsel membutuhkan teknologi canggih dalam ukuran kecil dengan konsumsi daya rendah. Huawei dapat mendesainnya, tetapi tidak ada yang dapat membantu kami membuatnya. kami terjebak," kata Guo.

Ia memastikan bahwa Huawei akan kembali mendorong penjualan ponsel meski ditekan AS.

Perusahaan asal Tiongkok itu berfokus bertahan di tengah tekanan AS. Salah satu caranya, memusatkan perhatian pada perangkat lunak (software), termasuk memperkuat bisnis komputasi awan (cloud).

"Kami harus berani memimpin dunia dalam domain perangkat lunak murni," kata Kepala Eksekutif Huawei Ren Zhengfei pernyataan. “Kami harus berfokus pada pengoptimalan software untuk melengkapi perangkat keras (hardware).”

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait