Berencana IPO, Gojek Akan Gencar Ekspansi ke Luar Negeri

Gojek berencana gencar ekspansi ke luar negeri. Decacorn ini juga menargetkan bisa IPO tahun depan.
Image title
27 Oktober 2021, 15:37
gojek, ipo, goto
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Helm Gojek logo baru di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Gojek berencana gencar ekspansi ke luar negeri. Decacorn ini juga menargetkan bisa mencatatkan saham perdana alias IPO tahun depan.

Co-Founder sekaligus CEO Gojek Kevin Aluwi mengatakan, perusahaan ingin terus membidik pasar di luar negeri. "Kami akan terus mengembangkan layanan Gojek di luar Indonesia," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (27/10).

Gojek juga akan memperluas layanan di pasar yang sudah ada, yakni Singapura dan Vietnam. "Kami akan lakukan banyak perkembangan bisnis di Vietnam dan Singapura," katanya.

Pada awal 2021 atau ketika masih menjabat co-CEO Gojek, Kevin menyampaikan bahwa perusahaan memang berencana mengembangkan bisnis di luar Indonesia lebih pesat lagi tahun ini. Selain itu, akan berfokus pada lini bisnis pesan-antar makanan GoFood dan kebutuhan pokok (groceries).

Pada tahun lalu, Gojek mencatatkan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) naik 10% secara tahunan (year on year/yoy) meski ada pandemi corona. Total transaksi perusahaan pada 2020 mencapai US$ 12 miliar atau Rp 170 triliun.

Kevin mengatakan, kinerja bisnis Gojek di pasar luar negeri juga pulih di tengah pandemi Covid-19. Namun, investasi yang dikeluarkan untuk pasar di luar Indonesia tidak terlalu besar pada tahun lalu.

Itu karena perusahaan menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Pada tahun ini, decacorn Tanah Air itu ingin mengembangkan pasar di luar Indonesia.

"Kami melihat proyeksi pertumbuhan di luar Indonesia saat ini lebih cepat," ujar Kevin saat wawancara virtual dalam program Squawk Box CNBC, pada Januari (27/1).

Gojek memang berekspansi ke pasar luar negeri sejak 2018. Decacorn itu masuk ke pasar Thailand dengan nama GET. Lalu ke Vietnam melalui Go-Viet.

Pada pertengahan tahun lalu, perusahaan mengubah nama di kedua negara itu menjadi Gojek. Namun pada Juli, Gojek melalui GoTo melepas unit bisnis dan operasional di Thailand kepada AirAsia.

Startup jumbo itu juga hadir di Singapura. Selain itu, Gojek menguji coba layanan transportasi di Malaysia dengan menggaet perusahaan lokal, Dego Ride pada awal tahun lalu.

Decacorn Tanah Air itu juga memperluas ekosistem ke India pada 2019 dengan mengakuisisi startup rekrutmen karyawan AirCTO yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligince (AI). Selain itu, Gojek mengembangkan kantor baru di Gurugram, India.

Upaya Gojek menggenjot pertumbuhan bisnis dengan berinovasi dan ekspansi seiring dengan rencana IPO induk usaha, GoTo tahun depan. Sebelumnya, CEO GoTo Andre Soelistyo menargetkan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum akhir tahun ini. 

Grup usaha hasil peleburan perusahaan teknologi Gojek dan e-commerce Tokopedia itu juga berencana mendaftarkan sahamnya di bursa Amerika Serikat (AS) dengan valuasi potensial sekitar $40 miliar.

Namun, rencana IPO tahun ini akan ditunda menjadi tahun depan. Berdasarkan tiga sumber dikutip dari Reuters, penundaan rencana IPO itu terjadi seiring revisi aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait pencatatan saham yang tak kunjung rampung. 

Beleid yang dimaksud ialah terkait aturan baru struktur permodalan saham kelas ganda (dual class share) dengan saham hak suara multipel atau multiple voting shares (MVS) saat pencatatan perdana saham.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait