Cara AS Salip Teknologi Cina: Siapkan Rp 4.108 T, Gaet Korsel & Taiwan

Donald Trump gencar memblokir perusahaan Cina, termasuk Huawei. Presiden AS Joe Biden punya cara baru untuk mengalahkan Tiongkok, yakni alokasi dana jumbo, serta merangkul Korea Selatan dan Taiwan.
Desy Setyowati
16 Agustus 2022, 18:54
cina, amerika, samsung, korea selatan,
Antara
Xi Jinping dan Joe Biden

Amerika Serikat (AS) di masa pemerintahan Donald Trump, gencar memblokir perusahaan Cina seperti Huawei dan ZTE Corp. Kini, Joe Biden memilih strategi anggaran jumbo.

Negeri Paman Sam mengembangkan manufaktur cip (chip) di Korea Selatan. Amerika Serikat menyalurkan insentif hampir US$ 53 miliar atau sekitar Rp 781 triliun di Negeri Ginseng.

Ekonom senior Asia-Pasifik bank investasi Natixis Gary Ng mengatakan, jika Samsung Electronics dan SK Hynix memanfaatkan pendanaan dari Washington, kemungkinan besar memengaruhi ekspansi mereka di Cina.

Berdasarkan aturan baru Amerika, penerima subsidi dilarang memperluas produksi di Cina di luar “semikonduktor lama”. Semikonduktor lama yang dimaksud yakni cip yang dibuat dengan teknologi proses 28 nanometer atau lebih dari 10 tahun.

Advertisement

“Sedangkan Samsung dan SK Hynix telah berinvestasi besar di Tiongkok,” demikian dikutip dari The Star Senin (15/8). Kedua perusahaan juga sudah membangun dan mengoperasikan pengecoran cip di Cina.

Oleh karena itu, Gary Ng menilai tidak mungkin bagi kedua perusahaan Korea Selatan tersebut meninggalkan aset dan kepentingan bisnis di Cina.

Selain Korea Selatan, Amerika membidik Taiwan. Ketua Parlemen AS Nancy Pelosi mengunjungai Taiwan pada awal Juli.

Kunjungan itu sebagai bentuk komitmen AS terhadap kedaulatan Taiwan, yang diklaim Cina sebagai wilayahnya. Sedangkan Taiwan merupakan negara penghasil cip terbesar di dunia, sebagaimana terlihat pada Databoks di bawah ini:

Sedangkan produksi semikonduktor Amerika hanya menyumbang sekitar 10% dari total pasokan global saat ini. Presentase ini menurun dari hampir 40% pada 1990.

Presiden AS Joe Biden juga menandatangani Undang-undang (UU) untuk manufaktur teknologi tinggi dan penelitian ilmiah yakni CHIPS and Science Act. Melalui UU ini, mereka menjanjikan US$ 280 miliar atau Rp 4.108 triliun.

UU tersebut juga mengarahkan sekitar US$ 200 miliar untuk lembaga seperti National Sccience Foundation. Tujuannya, meningkatkan investasi di bidang-bidang seperti robotika dan komunikasi nirkabel.

Biden menyebutnya sebagai investasi ‘sekali dalam satu generasi’.

Investasi itu juga bertujuan meringankan pajak perusahaan yang membangun pabrik pembuatan cip. Beberapa perusahaan memang meminta dukungan pemerintah AS untuk mengurangi ketergantungan pada Cina, terutama dalam mengatasi kekurangan cip.

Reporter: Desy Setyowati, Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait