IHSG Anjlok Imbas Virus Corona, Sandiaga Uno: Kesempatan Beli Saham

Sandiaga Uno optimistis virus corona tak akan berdampak signifikan ke perekonomian. Menurutnya ini waktu yang tepat untuk membeli saham dan mendorong IHSG.
Image title
7 Maret 2020, 16:45
IHSG Anjlok Imbas Virus Corona, Sandiaga Uno: Kesempatan Beli Saham
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Ilustrasi, pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/2/2020).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 12,72% sejak awal tahun ini, salah satunya disebabkan oleh wabah virus corona. Pada perdagangan kemarin (6/3), indeks menyentuh level 5.498. Sebagai investor, Sandiaga Uno menilai saat ini waktu yang tepat untuk mengakumulasi beli.

"Berarti ini kesempatan selektif buying saham buat investor jangka panjang," kata Sandi usai menghadiri acara diskusi di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (7/3).

Sandi yang masih memiliki 21,51% saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menilai, pasar mengkhawatirkan kondisi di dalam negeri saat ini. Hal ini membuat indeks terkoreksi jangka pendek.

Menurutnya IHSG akan membentuk kurva J, di mana indeks bakal menemukan level terendah lalu kembali naik dalam waktu dekat. Karena itu, ia menyarankan investor menyikapi penurunan indeks dengan sangat rasional dan berdasarkan fundamental.

Advertisement

(Baca: IHSG Turun dan Dana Asing Lari Rp 1,3 Triliun, Saham Bank Jadi Korban)

Ia optimistis perekonomian Indonesia tidak banyak berubah karena virus corona. "Hanya ada distribusi suplai dan penurunan permintaan masyarakat. Saya baru menyimulasikan di tim ekonomi kami, penurunan paling dalam itu hanya 0,5-0,9% dari segi pertumbuhan ekonomi," katanya.

Investor disarankan berinvestasi dengan beberapa pertimbangan. Memilih berdasarkan komoditas unggulan maupun emiten yang tata kelola perusahaannya baik alias good corporate governance (GCG).

Namun, ia enggan berkomentar soal rencananya berinvestasi, terutama di Saratoga karena benturan kepentingan. Padahal, saham perusahaan investasi tersebut turun 6,63% menjadi Rp 3.380 per lembar sejak awal tahun ini.

"Saya sudah tidak melakukan investasi aktif sendiri dan itu ada potensi benturan kepentingan kalau saya mengeluarkan statement," kata Sandi. (Baca: Bursa Saham Global Anjlok, IHSG Sesi I Turun 2,15% ke Level 5.517)

Sejak awal tahun hingga perdagangan kemarin (6/3), tercatat ada 465 saham yang bergerak di zona merah. Hanya 88 saham yang berada di zona hijau.

Bahkan, di antara saham-saham likuid dan tergabung dalam indeks LQ45, hanya satu emiten yang sahamnya berada di zona hijau sejak awal tahun yaitu PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Harga sahamnya naik 4,35% menjadi Rp 840 per lembar.

Saham di LQ45 yang bergerak turun paling besar sejak awal tahun yaitu PT AKR Corporindo Tbk. Harga sahamnya turun 38,48% menjadi Rp 2.430 per lembar. Diikuti oleh perusahaan pelat merah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang turun 38,02% ke level Rp 1.345 per lembar.

Sebagai catatan, perhitungan jumlah saham di atas tidak memasukkan perusahaan yang baru melantai di bursa melalui initial public offering (IPO) tahun ini. Sejauh ini, ada 14 perusahaan yang baru masuk sebagai emiten di pasar saham dalam negeri.

(Baca: Investor Ambil Untung Efek Virus Corona, IHSG Hari Ini Diramal Turun)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait