Bank Salurkan Kredit Rp 66,25 Triliun lewat Pinjaman Daring

Rahayu Subekti
11 Juni 2026, 12:42
pinjaman daring, pinjaman online, bank,
Fauza Syahputra|Katadata
Ilustrasi pinjaman online
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank-bank semakin mengandalkan platform pinjaman daring (pindar) sebagai kanal distribusi kredit. Hingga April, nilai pendanaan yang disalurkan perbankan melalui pindar mencapai Rp 66,25 triliun atau setara 75,59% dari total sumber pendanaan industri ini.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding pendanaan pindar mencapai Rp 102,07 triliun per April atau tumbuh 26,11% secara tahunan (year on year/yoy). Di saat yang sama, tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 tercatat 4,62%, yang dinilai masih berada dalam batas aman.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai tingginya porsi pendanaan dari perbankan mencerminkan meningkatnya kepercayaan sistem keuangan formal terhadap model bisnis pindar sebagai kanal distribusi kredit yang mengedepankan tata kelola dan manajemen risiko.

Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar mengatakan dominasi pendanaan dari perbankan menunjukkan bahwa industri pindar telah berkembang dari sekadar alternatif pembiayaan menjadi mitra distribusi kredit yang kredibel bagi perbankan.

“Dominasi pendanaan dari perbankan menandakan bahwa industri Pindar sudah dipandang sebagai mitra distribusi kredit yang kredibel. Bank melihat platform fintech sebagai kanal yang efisien untuk menjangkau segmen yang sebelumnya sulit disentuh, khususnya UMKM dan masyarakat underserved,” kata Entjik dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6).

Menurut AFPI, dominasi perbankan sebagai penyedia dana di industri pindar didukung oleh kapasitas pendanaan yang besar dan stabilitas likuiditas yang dimiliki sektor perbankan. Selain mempertimbangkan imbal hasil, bank menilai aspek risiko dan tata kelola sebelum menempatkan dana melalui platform fintech lending.

AFPI menilai tren itu mencerminkan transformasi industri pindar dari alternatif pembiayaan ritel menjadi infrastruktur channeling kredit yang terintegrasi dengan lembaga keuangan formal. Model kolaborasi antara bank dan fintech lending dinilai telah bergerak dari tahap eksperimental menuju arus utama pembiayaan digital.

Kanal Distribusi Kredit yang Lebih Lincah

Di tengah pertumbuhan kredit yang ketat, peran pindar sebagai kanal distribusi kredit dinilai semakin relevan. Riset Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan platform pindar memiliki sejumlah keunggulan operasional, mulai dari kecepatan akuisisi debitur, pemrosesan data, hingga penilaian risiko berbasis teknologi.

Penggunaan data alternatif dan innovative credit scoring memungkinkan proses seleksi debitur dilakukan lebih cepat tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian. Model ini membuat pindar dinilai cocok menjadi mitra channeling dana perbankan, termasuk dalam mempercepat transmisi stimulus likuiditas.

Survei KIC terhadap 309 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menunjukkan bahwa pindar telah menjadi salah satu sumber pendanaan utama bagi pelaku usaha.

Sebanyak 69,3% responden memilih pindar karena proses pencairan dana yang cepat. Sementara itu, 66,3% responden menyebut proses pengajuan yang cepat dan mudah sebagai alasan utama menggunakan layanan tersebut.

Sebaliknya, hanya 47,9% responden yang menjadikan pinjaman bank sebagai sumber pendanaan usaha. Sumber pendanaan lain yang digunakan pelaku UMKM berasal dari keluarga, kerabat, atau teman dengan porsi 45%.

AFPI menilai peran pindar sebagai jembatan inklusi keuangan semakin penting mengingat masih banyak pelaku UMKM yang menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan perbankan. Hambatan dalam proses pengajuan maupun persyaratan yang harus dipenuhi menjadi salah satu alasan UMKM memilih pembiayaan melalui pindar.

Dalam konteks yang lebih luas, keberadaan pindar dinilai mampu mengisi kesenjangan pembiayaan (funding gap), sehingga pelaku UMKM yang sebelumnya belum terjangkau layanan perbankan tetap memiliki akses modal usaha. Kondisi ini dinilai membantu menjaga aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih inklusif.

Entjik menegaskan keberadaan pindar bukan ancaman bagi industri jasa keuangan konvensional. Sebaliknya, pindar dapat menjadi mitra strategis dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat yang selama ini sulit dijangkau perbankan.

Kredit Macet Naik, AFPI Dorong Penguatan Manajemen Risiko

Di tengah pertumbuhan industri, AFPI mengingatkan pentingnya menjaga kualitas kredit dan disiplin manajemen risiko.

Per April, rasio kredit macet atau TWP90 tercatat 4,62%, naik dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 4,52%. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah ambang 5% yang dinilai aman.

AFPI menilai kenaikan tersebut menjadi sinyal perlunya penguatan penilaian kredit, pemantauan risiko, serta praktik penagihan yang beretika.

Menurut asosiasi, peningkatan risiko perlu dilihat dalam konteks ekspansi industri yang terus menjangkau peminjam baru dan memasuki segmen pasar yang lebih luas. Karena itu, AFPI mendorong para anggotanya memperketat model penilaian kredit, meningkatkan kualitas data, serta memperkuat sistem peringatan dini atau early warning system.

“Pertumbuhan harus diimbangi dengan kualitas. Kami terus mendorong anggota untuk memperkuat credit scoring, verifikasi data, dan praktik penagihan yang sesuai kode etik. Kepercayaan bank sebagai pemberi dana hanya bisa dijaga jika kualitas portofolio tetap sehat,” ujar Entjik.

AFPI memandang integrasi antara perbankan dan fintech lending akan menjadi salah satu pengungkit utama pertumbuhan kredit ke depan, terutama untuk segmen ultra mikro. Dengan dukungan regulasi, penguatan permodalan, dan standar tata kelola yang lebih ketat, industri pindar dinilai berada pada posisi yang prospektif untuk menjadi kanal distribusi dana perbankan yang lebih luas dan efisien.

“Kolaborasi bank dan Pindar bukan lagi opsi tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari arsitektur pembiayaan modern. Dengan tata kelola yang kuat, teknologi yang matang, dan pengawasan berlapis, industri ini siap menjadi mitra strategis penyaluran dana perbankan ke sektor riil,” kata Entjik.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...