Siasat Sirclo Lolos dari Badai Kebangkrutan pada Masa Awal Berdiri

Desy Setyowati
29 Mei 2022, 07:55
sirclo, startup, startup bangkrut,
Youtube
Founder sekaligus Chief Executive Officer Sirclo Group Brian Marshal

Startup e-commerce enabler Sirclo pernah melalui badai yang membuat perusahaan ini hampir menutup layanan. Sirclo berhasil melewati masa-masa berat dengan melakukan berbagai strategi yang tepat. 

Kini, perusahaan rintisan itu telah menggaet lebih dari 150 ribu merek (brands) dan 500 ribu pemilik warung. Sirclo yang berdiri pada 2013 ini pun mempunyai 25 juta konsumen akhir dengan lebih dari 80 titik distribusi yang tersebar di Indonesia. Startup ini mempunyai lebih dari 2.000 karyawan.

E-commerce enabler itu juga mengakuisisi Warung Pintar pada Februari. Kedua startup ini kemudian berfokus memperkuat posisi dalam bisnis solusi omnichannel bagi merek, distributor, pelaku usaha hingga konsumen akhir.

Founder sekaligus Chief Executive Officer Sirclo Group Brian Marshal bercerita, masa sulit dialaminya pada 2015 atau tahun ketiga beroperasi. Perusahaan hampir tutup.  "‘Bakar uang’ semakin tinggi dan mencari pendanaan sulit. Pada 2015, gagal mendapatkan pendanaan. Melihat rekening, runway sudah tipis dan sempat berpikir untuk berhenti,” kata Brian dalam program serial podcast Impacttalk yang dirilis oleh Impactto belum lama ini.

Runway merupakan istilah yang menggambarkan panjangnya umur startup. Sedangkan modal memang menjadi salah satu penyebab startup gagal, sebagaimana terlihat pada Databoks di bawah ini:

[Perbincangan lengkap program Impacttalk tersebut bisa dililhat pada link berikut ini]

Ia menyampaikan, salah satu hal yang paling penting untuk dipikirkan oleh CEO dalam kondisi seperti itu yakni keberlangsungan perusahaan. Setidaknya, bisa menggaji karyawan. 

Perusahaan pun mengambil langkah efisiensi dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 40%. Ketika itu jumlah karyawan sekitar 30 orang. 

“Kami memutuskan untuk tidak tutup, harus lanjut, tetapi dengan mengurangi 40% tim. Setahun berikutnya, try to stand on our feet,” kata Brian.

Dengan langkah-langkah tersebut, Sirclo berhasil lolos dari ‘kebangkrutan’. Pada akhir 2015, startup ini pun mulai breakeven atau tidak merugi. Kemudian, “mulai memikirkan ekspansi lain, mendapatkan pendanaan, dan lainnya,” ujarnya.

Menurut dia, salah satu faktor pendorong Sirclo bisa bertahan yakni kekompakan tim. Startup ini pun memperkuat kepercayaan, hubungan, dan budaya, baik dengan karyawan maupun mitra.

“Setiap orang yang baru bergabung dengan Sirclo pasti akan bertemu dengan manajemen. Ini supaya membangun hubungan antar-manusia yang lebih dari sekadar ‘angka’ dalam hubungannya,” ujar dia.

Sirclo juga berhasil lolos dari jurang kebangkrutan karena mencapai product-market fit. Product Plan mendefinisikan product-market fit sebagai konsep atau skenario ketika para pelanggan suatu perusahaan mau membeli, menggunakan, dan menyebarkan informasi tentang suatu produk.

Jika itu terjadi pada banyak pelanggan suatu bisnis, product-market fit akan mampu mendukung pertumbuhan perusahaan dan meningkatkan keuntungan.

Profesor Thomas R Eisenmann dari Harvard Business School mengungkapkan, 90 % startup gagal. Alasan utamanya, karena produk atau layanan yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Hal itu senada dengan temuan CB Insights, yakni 42% startup bangkrut karena tidak berhasil menemukan product-market fit.

Product-market fit itu saat kami melihat klien sudah bisa sukses berjualan di website manapun. Benar-benar terjadi transaksi,” kata Brian. “Terjadi transaksi itu hasil pertama. Di Sirclo, sales itu harus terjadi secepat mungkin.”

Sirclo memang menyasar segmen korporasi atau menerapkan model Business to Business (B2B). Setelah mengakuisisi Warung Pintar, startup ini juga menjangkau konsumen akhir atau Business to Customer (B2C).

Halaman:

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...