Marak PHK, Startup Indonesia Sebenarnya Kekurangan Talenta Digital

Fahmi Ahmad Burhan
22 Juni 2022, 17:39
startup, phk, talenta digital
Katadata
Diskusi Katadata Forum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018.

Setidaknya ada tujuh startup di Indonesia telah melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK tahun ini. Padahal Jobstreet mencatat, perusahaan rintisan nasional kekurangan talenta digital.

“Mengacu dari data Bank Dunia, Indonesia membutuhkan rata-rata 600 ribu pekerja digital setiap tahunnya," demikian dikutip dari laporan Jobstreet berjudul Job Outlook Report 2022, Rabu (22/6).

Jumlah iklan lowongan kerja untuk keahlian informasi dan teknologi (IT) jauh lebih tinggi dibandingkan lamaran kerja selama 2019 hingga kuartal II 2020.

Kemudian jumlah lowongan kerja berkurang pada kuartal III 2020 seiring adanya pandemi corona.

Namun, iklan lowongan kerja kembali melonjak hingga tahun lalu.

Begitu pun terkait keahlian jasa konsultan di bidang IT, Sains, Teknik, dan Teknis. Rinciannya dapat dilihat pada Bagan di bawah ini:

Perbandingan iklan lowongan kerja dibandingkan lamaran kerja di bidang IT pada 2019 - 2021
Perbandingan iklan lowongan kerja dibandingkan lamaran kerja di bidang IT pada 2019 - 2021 (Jobstreet)

Namun tahun ini, startup marak melakukan PHK. Mereka di antaranya TaniHub, Zenius, LinkAja, Pahamify, JD.ID, Mobile Premier League (MPL), dan Lummo.

Country Marketing Manager Jobstreet Indonesia Sawitri Hertoto mengatakan, meskipun startup melakukan PHK, tetap ada kebutuhan baik di bidang operasional yang terkait digital dan non-digital.

"Sedangkan, kebutuhan tenaga kerja terkait digital permintaannya tetap tinggi," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/6). Ini karena tren otomasi di sejumlah industri.

"Maka, tetap dibutuhkan orang berkemampuan di bidang IT, data analyst hingga business analyst," katanya. Perusahaan membutuhkan peran tenaga kerja yang mampu menggunakan perangkat lunak (software), khususnya dalam mengolah data.

Pekerjaan terkait pengembang software memberikan kontribusi tertinggi dalam iklan lowongan kerja 2021, yaitu 23%.

Sedangkan ketersediaan talenta digital tidak sebanding dengan kebutuhan. Berdasarkan riset McKinsey dan Bank Dunia, Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital selama 2015 hingga 2030.

Itu artinya, ada kebutuhan 600 ribu tenaga ahli di bidang siber per tahun. Namun hanya 20% dari total 4.000 kampus di Indonesia yang memiliki program studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Riset Amazon Web Services (AWS) dan AlphaBeta juga menunjukkan, hanya 19% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia yang mempunyai keahlian di bidang digital. Padahal, Nusantara butuh 110 juta talenta digital baru untuk mendukung ekonomi pada 2025. 

Founder sekaligus CEO Binar Academy Alamanda Shantika pun mengatakan, permintaan talenta digital masih akan tetap signifikan meskipun banyak startup melakukan PHK. Sebab, ketersediaan talenta digital di Indonesia minim.

"Saat ini ada banyak sekali institusi yang melakukan transformasi digital, mulai dari lembaga pemerintah, bank, perusahaan konvensional, bahkan media massa tengah berubah," ujarnya dua pekan lalu (17/6).

Lalu, mengapa startup Indonesia marak melakukan PHK tahun ini? Dari ketujuh perusahaan rintisan yang memangkas jumlah pegawai, rerata diuntungkan saat pandemi corona.

Mereka merekrut banyak pekerja saat pandemi Covid-19, karena permintaan layanan meningkat. Zenius salah satunya. Datanya sebagai berikut:

Namun kini, Zenius Education melakukan PHK terhadap lebih dari 200 karyawan. Hal ini karena bisnis terkena dampak kondisi makro ekonomi yang dinamis.

Begitu pun LinkAja. Startup ini menyediakan layanan pembayaran, yang juga diminati selama pandemi corona.

“Mereka sebelumnya merekrut, karena kebutuhannya banyak saat itu (awal pandemi corona). Ketika ternyata pandemi berhasil ditangani, yang terjadi adalah surplus orang,” ujar Chief People Officer Tiket.com Dudi Arisandi dalam acara Talk 2 Talk, akhir bulan lalu (29/5).

Menurutnya, kondisi saat ini mirip dengan gelembung dot com pada 1998 - 2000-an. Saat itu, sektor teknologi tren dan perusahaan merekrut banyak pekerja. Mereka melantai di bursa efek dan mencatatkan harga saham yang meroket.

Perusahaan dot-com saat itu banyak menjalankan model startup yang bereksperimen dengan cara-cara baru dalam berbisnis.

Namun, mereka tidak punya arah bisnis yang jelas dan tidak stabil. Kemudian, gelembung dot-com meledak dan harga saham perusahaan internet itu runtuh. Bahkan banyak di antaranya yang gulung tikar.

“Saya pernah mengalami, di satu perusahaan, pegawai di sektor IT dikurangi dan dipekerjakan di outsource. Kemudian muncul dot com,” ujar dia. “Secara pribadi, aku sudah tiga kali menghadapi kasus seperti sekarang ini.”

Untuk menghindari kebangkrutan, startup mendorong efisiensi dan profitabilitas. “Dari sisi Human Resources (HR), pada akhirnya yang paling mudah, barangkali untuk diselesaikan, ya orang. Maka, upaya pertama yang bisa dilakukan ya efisiensi dengan pengurangan orang,” ujarnya.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...