Kilas Balik Merger Grab dan Gojek Sejak 2018, Didorong SoftBank

Desy Setyowati
10 November 2025, 17:52
Gojek dan Grab merger,
Katadata
Gojek dan Grab

Skema Merger: Grab Fokus di Singapura, Gojek di Indonesia

Rumor Grab akan mengambil alih bergeser menjadi Gojek dikabarkan mengakuisisi Tokopedia pada awal 2021. Keduanya akhirnya merger pada 17 Mei 2021. Setelah bergabung, terbentuklah PT GoTo Gojek Tokopedia secara resmi pada 9 November 2021.

Sebelum merger, Gojek melepas bisnis di Thailand.

Kabar Grab bakal mengakuisisi Gojek berhembus lagi pada awal 2024. Salah satu sumber Bloomberg menyatakan, salah satu opsi potensial dari merger yakni Grab yang berbasis di Singapura mengakuisisi GoTo Gojek Tokopedia dengan menggunakan uang tunai, saham, atau kombinasi keduanya.

Kajian pada Februari 2024, jika kesepakatan merger itu terwujud, valuasi kedua perusahaan ini ditaksir akan mencapai US$ 20 miliar, atau setara Rp 312 triliun dengan mengacu rata-rata kurs Rp 15.630 per dolar AS.

Menurut sumber, GoTo Gojek Tokopedia lebih terbuka untuk melakukan kesepakatan, setelah Patrick Walujo mengambil alih posisi chief executive officer alias CEO pada 2023.

Melalui merger, Grab akan berfokus di Singapura dan beberapa pasar lainnya. Sementara itu, GoTo tetap mempertahankan pasar di Tanah Air.

Belum ada kesepakatan soal skema merger. Sebab, dalam memperhitungkan valuasi, ada beberapa faktor yang akan dipertimbangkan misalnya, penurunan saham GoTo Gojek Tokopedia yang mencapai 30% dalam setahun terakhir.

Akan tetapi, para pemegang saham disebut telah mendukung dan mendorong kesepakatan mengenai aksi korporasi tersebut.

Isu merger itu beberapa kali muncul pada 2024. Pada tahun yang sama, Gojek menutup bisnis di Vietnam pada September 2024.

Awal tahun ini, isu merger di antara keduanya semakin intens. Pada Februari 2025, Grab Holdings Ltd. disebut tengah mempertimbangkan untuk mengakuisisi Gojek dengan valuasi lebih dari US$ 7 miliar atau Rp 114,32 triliun (kurs Rp 16.331 per US$).

Bloomberg melaporkan Grab telah memulai uji tuntas atau due diligence untuk mengambil alih GoTo Gojek Tokopedia. Uji tuntas adalah proses investigasi, audit, atau peninjauan yang dilakukan secara menyeluruh terhadap suatu perusahaan atau individu untuk mengonfirmasi fakta dan detail terkait sebelum membuat keputusan bisnis atau investasi, dikutip dari laman OCBC.

Proses due diligence biasanya dilakukan dalam berbagai situasi bisnis, seperti investasi skala besar, merger, akuisisi, atau restrukturisasi perusahaan. Kegiatan ini membantu dalam mengidentifikasi potensi risiko dan peluang yang mungkin tidak terlihat pada penilaian awal, sehingga pihak yang terlibat dapat membuat keputusan yang lebih tepat.

"Grab telah mengevaluasi akun, kontrak, dan operasional GoTo Gojek Tokopedia," kata sumber Bloomberg, pada Maret (18/3). "Grab, GoTo Gojek Tokopedia dan pemegang saham telah menilai potensi struktur dan nilai kesepakatan."

Kesepakatan untuk menggabungkan keduanya dikabarkan akan tuntas pada kuartal II 2025. Namun wacana ini tidak terwujud.

Alasan Grab Ingin Konsolidasi Bisnis: Bukan Untuk Mendominasi

Presiden sekaligus COO Grab Alex Hungate hadir ke Indonesia pada Juni. Ia menyampaikan bisnis on-demand, termasuk taksi online, ojol, pengiriman makanan, memiliki margin keuntungan yang tipis. Konsolidasi dinilai bisa menjadi cara untuk mendorong efisiensi.

“Kami melihat konsolidasi atau menjadi lebih besar, bukan untuk mendominasi, melainkan untuk membuat model bisnis yang marginnya tipis, seperti pengantaran makanan dan transportasi online, menjadi lebih efisien,” kata dalam acara Tech In Asia: Asia Economic Summit 2025 pada sesi bertajuk  ‘Growth in uncertain times: Grab’s playbook for resilience and impact’ di Jakarta, Kamis (26/6).

“Karena bisnis ini memiliki margin keuntungan yang rendah, kami memerlukan skala besar agar tetap sehat dan menguntungkan bagi semua pihak di dalam ekosistem,” Alex menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa biaya pengantaran makanan, ojol hingga taksi online harus sangat rendah. “Jadi, mari hadapi kenyataan bahwa bisnis dengan biaya yang rendah ini supaya produktif dan layak bagi semua orang yang terlibat. Yang kami cari yakni efisiensi dan kemampuan untuk mempertahankan ekosistem yang sehat,” ujar dia.

Presiden sekaligus COO Grab Alex Hungate (kiri) dalam acara Tech In Asia: Asia Economic Summit 2025 pada sesi bertajuk ‘Growth in uncertain times: Gr
Presiden sekaligus COO Grab Alex Hungate (kiri) dalam acara Tech In Asia: Asia Economic Summit 2025 pada sesi bertajuk ‘Growth in uncertain times: Gr (Katadata/Kamila Meilina)

Alex menyampaikan salah satu rencana penggunaan dana hasil penerbitan obligasi konversi US$ 1,5 miliar atau Rp 24,5 triliun (kurs Rp 16.300 per US$) pada Juni yakni mengkaji peluang akuisisi. “Merger dan akuisisi menjadi peluang bagi kami untuk menggunakannya (dana), guna meningkatkan produktivitas setiap orang di platform,” ujarnya.

Dalam siaran pers, Grab menyampaikan dana bersih dari penawaran obligasi konversi akan digunakan untuk:

  • Keperluan umum perusahaan
  • Mengoptimalkan fleksibilitas strategis, yang dapat mencakup akuisisi potensial, sambil terus mempertahankan standar tinggi untuk transaksi tersebut
  • Sebagai bagian dari program kembali saham alias buyback US$ 500 juta, Grab berencana membeli kembali saham biasa Kelas A US$ 273,5 juta dari sejumlah pemegang obligasi melalui transaksi di luar pasar, menggunakan harga penutupan US$ 4,68 per lembar.

CFO Grab Peter Oey melalui akun LinkedIn mengatakan kas likuid perusahaan akan meningkat menjadi US$ 8,7 miliar setelah transaksi obligasi konversi selesai. Hal ini meningkatkan fleksibilitas strategis korporasi untuk mengembangkan bisnis secara organik.

“Selain itu, mengejar peluang anorganik secara selektif, sambil mempertahankan standar tinggi untuk transaksi tersebut,” kata Peter Oey melalui akun LinkedIn, pada Juni (12/6). Peluang anorganik bisa termasuk akuisisi.

Kas likuid Grab tersebut di atas perkiraan angka penawaran untuk mengakuisisi GoTo Gojek Tokopedia US$ 7 miliar, sebagaimana laporan Bloomberg. Analis kemudian memperkirakan kesepakatan antara kedua perusahaan segera terwujud.

“Ada kemungkinan yang semakin besar terkait kesepakatan Grab dan GoTo,” kata analis di Aletheia Capital Nirgunan Tiruchelvam, dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/6). "Grab sepertinya sedang menyiapkan dana untuk itu."

Namun, Grab menyatakan belum sedang menyelesaikan pembicaraan untuk mengakuisisi GoTo Gojek Tokopedia saat ini. Hal ini mengisyaratkan penghentian dihentikan atau setidaknya ditunda.

Pemerintah Ingin GoTo Gojek Dikuasai Orang Indonesia

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pemerintah ingin GoTo Gojek Tokopedia dimiliki mayoritas oleh orang Indonesia. Hal ini menyampaikan kabar Grab yang mengkaji untuk mengakuisisi pesaingnya itu.

Politikus Partai Gerindra tidak memerinci bagaimana GoTo Gojek Tokopedia dapat dimiliki sebagian besar oleh masyarakat Indonesia.

Dikutip dari Reuters pada Juni (20/6), saham GoTo dimiliki oleh investor asing 73,90%, termasuk SoftBank Group Jepang dan Taobao Holding, unit dari Alibaba Group Cina, menurut laporan tahunan 2024. Sisanya dimiliki oleh investor Indonesia.

SVF GT Subco (Singapore) Pte Ltd milik SoftBank dan Taobao merupakan dua pemegang saham teratas GoTo, masing-masing memegang 7,65% dan 7,43% saham, menurut laporan tersebut.

Dasco juga tidak memuat persyaratan apa pun yang telah ditetapkan pemerintah untuk potensi menghubungkan kedua perusahaan berbagi tumpangan alias ride hailing tersebut.

Pimpinan DPR bertemu sejumlah elemen mahasiswa
Pimpinan DPR bertemu sejumlah elemen mahasiswa (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/tom.)

Tiga sumber Reuters mengatakan Grab dan GoTo kini membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyepakati kesepakatan setelah pemerintah Indonesia mengajukan sejumlah persyaratan agar rencana itu dapat terlaksana.

“Pemerintah Indonesia sedang mengkaji bagaimana potensi koneksi tersebut akan berdampak terhadap kesejahteraan kerja dan persaingan pasar di ekonomi terbesar dan terpadat di Asia Tenggara,” kata dua sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, dikutip dari Reuters, Jumat (20/6).

Kini kabar Grab dan Gojek akan merger kembali berhembus setelah Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan Danantaradiajak berdiskusi terkait Perpres terkait taksi dan ojek  online  atau ojol. Ia mengatakan, skema penggabungan masih dibahas agar tidak menimbulkan monopoli.

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati, Kamila Meilina, Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...