Amazon dan Alibaba Panen Pendapatan dari Bisnis Cloud

Fahmi Ahmad Burhan
3 Februari 2021, 12:23
Pendapatan Amazon dan Alibaba dari Bisnis Cloud Melonjak hingga 50%
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song
Logo Alibaba Group di kantor pusat perusahaan di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Senin (18/11/2019).

Cloud juga akan menjadi lini bisnis utama Alibaba ke depan. Pada tahun ini, Alibaba berencana memperluas investasi pada bisnis cloud.

Alibaba Group telah berinvestasi US$ 28 miliar atau sekitar Rp 435 triliun untuk pengembangan semikonduktor dan sistem operasi tahun lalu. Selain itu, membangun infrastruktur pusat data.

Berdasarkan data Gartner, Alibaba Cloud menduduki peringkat ketiga sebagai penyedia layanan cloud publik terbesar secara global. Sedangkan di Asia Pasifik, Alibaba Cloud menduduki peringkat pertama.

Data IDC pada Juli 2020 menunjukkan, Alibaba Cloud merupakan penyedia layanan cloud publik terbesar di Tiongkok. Ini diukur dari pangsa pasar Infrastructure as a Service (IaaS) dan Platform as a Service (PaaS) pada kuartal I.

Menyadari tingginya permintaan, Huawei pun berencana memperluas bisnis cloud. Pada akhir tahun lalu, pendiri Huawei Ren Zhengfei mengatakan kepada para stafnya bahwa cloud akan menjadi prioritas perusahaaan pada 2021. 

Namun, ia menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk menyaingi Alibaba, Microsoft maupun Amazon. Ini untuk mengurangi skala tekanan akibat sanksi dari AS.

Ia mengatakan, perusahaan perlu mengurangi medan pertempuran dengan perusahaan-perusahaan yang sudah mapan di bisnis cloud seperti Alibaba dan Amazon. "Tidak mungkin bagi kami untuk mengikuti jalur yang sama seperti keduanya. Mereka memiliki akses atas uang tak terbatas di pasar saham AS," kata Ren dikutip dari South China Morning Post, bulan lalu (3/1).

Meski tidak bermaksud untuk menyaingi pasar kedua perusahaan besar itu, Ren menyatakan bahwa Huawei harus belajar dari kesuksesan Amazon dan Microsoft. Oleh karena itu, Huawei akan mencari peruntungan dengan mengamankan segmen perusahaan dan industri besar sebagai klien cloud.

Sedangkan bisnis cloud Google mencatatkan kerugian US$ 5,61 miliar pada 2020. Ini karena perusahaan berinvestasi besar-besaran di bisnis ini.

Investasi itu bertujuan mendiversifikasi pendapatan. Sebab, selama ini perusahaan terlalu mengandalkan bisnis iklan. Pada 2020 lini bisnis periklanan mengalami kerentanan akibat banyaknya perusahaan yang menurunkan pengeluaran mereka dalam beriklan.

Halaman:
Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...