Gurita Bisnis GoTo Menaungi Empat Lini Usaha Gojek dan Tokopedia

Fahmi Ahmad Burhan
17 Mei 2021, 17:58
GoTo, Gojek, Tokopedia, merger
Adi Maulana Ibrahim |Katadata
Ekosistem bisnis Gojek dan Tokopedia makin membesar setelah merger.

Perusahaan layanan on-demand Gojek dan e-commerce Tokopedia resmi merger dan membuat entitas gabungan bernama Grup GoTo. Langkah merger dua decacorn tersebut makin memperkuat ekosistem digital mereka.

CEO GoTo yang sebelumnya menjabat sebagai Co-CEO Gojek Andre Sulistyo mengatakan bahwa entitas gabungan hasil merger dengan Tokopedia akan membawa ekosistem digital yang unik. "GoTo akan memberikan lebih banyak solusi dan kemudahan dalam keseharian konsumen," katanya dalam siaran pers hari ini (17/5).

Gojek saat ini memang sudah mempunyai lini bisnis yang cukup luas. Dari sektor transportasi misalnya, Gojek mempunyai layanan berbagi tumpangan (ride-hailing) GoRide, GoCar, hingga GoBlueBird. Bisnis transportasi ini didukung layanan pesan-antar makanan, GoFood.

Untuk sektor kebutuhan sehari-hari, Gojek mempunyai layanan GoShop, GoMart, GoMall, hingga GoStore. Sedangkan, sektor logistik, Gojek mempunyai layanan GoSend dan GoBox.

Di sektor keuangan, Gojek juga mempunyai banyak layanan, mulai dari asuransi melalui GoSure, investasi melalui GoInvest, hingga pembayaran melalui GoPay, GoBils, atau GoGive.

Selain itu, di sektor kesehatan, Gojek juga mempunyai GoMed berkolaborasi dengan Halodoc. Kemudian, layanan yang menyasar sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ada GoBiz dan GoToko. Perusahaan juga mempunyai 2 juta mitra pengemudi serta 900 ribu mitra UMKM.

Setelah merger, ekosistem Gojek akan bertambah banyak. Layanan Gojek juga akan terintegrasi dengan layanan e-commerce milik Tokopedia.

Presiden GoTo yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Tokopedia Patrick Cao mengatakan bahwa GoTo akan mengombinasikan layanan e-commerce, pengiriman barang dan makanan, transportasi serta keuangan.

"GoTo mengombinasikan transaksi Gojek yang memiliki volume dan  frekuensi tinggi, dengan Tokopedia yang memiliki frekuensi medium, namun dengan nilai transaksi tinggi," kata Patrick.

Tokopedia juga mempunyai berbagai layanan mirip dengan Gojek. Pada pesan-antar makanan misalnya, Tokopedia mempunyai Tokopedia Nyam! dan layanan hiburan Tokopedia Play. Untuk layanan keuangan, Tokopedia juga mempunyai saham sebesar 36,1% di induk platform teknologi (fintech) pembayaran OVO, Bumi Cakrawala Perkasa. Hingga kini, Tokopedia juga mempunyai 10 juta mitra UMKM dan 100 juta pengguna aktif di ekosistemnya.

Executive Director ICT Institute Heru Sutadi memprediksi merger Tokopedia dan Gojek akan saling melengkapi. “Penggabungan akan memperkuat ekosistem kedua perusahaan. Ujungnya semakin mengukuhkan posisi keduanya dalam bisnis digital di Indonesia," ujarnya kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Gojek akan memperkuat bisnis retail dan logistik. Sedangkan Tokopedia dapat meningkatkan layanan penyediaan makanan dan pengiriman barang instan.

"Merger akan memperkuat ekosistem dan portofolio bisnis, karena bakal mencakup ride-hailing dan turunannya, pembayaran online, serta e-commerce,” ujar dia.

Merger dua perusahaan otomatis membuat valuasi kedua decacorn semakin besar. Bahkan, berdasarkan data dari CB Insight, GoTo mempunyai potensi untuk meraih valuasi sekitar US$ 40 miliar atau sekitar Rp 570 triliun.

Perhitungannya, valuasi masing-masing perusahaan sebelum merger ini bernilai US$ 10 miliar. Setelah merger, perusahaan menargetkan meningkatkan valuasi lebih tinggi. "Perusahaan gabungan tersebut dilaporkan menargetkan valuasi hingga US$ 40 miliar jika go public," bunyi laporan CB insight.

Pendiri CrossASEAN Research Angus Mackintosh menilai, merger Gojek-Tokopedia juga salah satunya bertujuan memuluskan rencana untuk mencari pendanaan lebih besar di bursa saham. Dengan begitu, Gojek-Tokopedia bisa memiliki valuasi sekitar US$ 35 miliar - US$ 40 miliar. Menurut Mackintosh, untuk meyakinkan investor di pasar modal dengan valuasi sebesar itu, penggabungan kedua perusahaan menjadi penting.

Adapun Statista memperkirakan valuasi GoTo mencapai US$ 17 miliar atau Rp 242 triliun. GoTo dimasukkan dalam daftar perusahaan teknologi bervaluasi tinggi dunia.


Saat ini, pengembang TikTok ByteDance merupakan startup dengan valuasi paling besar secara global yakni US$ 140 miliar. Kemudian, startup fintech dari Amerika Serikat (AS) Stripe di posisi kedua dengan valuasi US$ 95 miliar. Lalu, startup produsen roket besutan Elon Musk, SpaceX menempati posisi ketiga dengan valuasi US$ 74 miliar.

Grup GoTo juga akan berkontribusi lebih dari 2% kepada total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sedangkan, total dari Gross Transaction Value (GTV) secara Grup akan menjadi lebih dari US$ 22 miliar atau Rp 314 triliun. Secara grup, GoTo juga telah mencapai lebih dari 1,8 miliar transaksi.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...