Riset INDEF-Pramadina: Ojek Online Kontribusikan Rp 565 Triliun ke PDB RI
Riset terbaru Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Universitas Paramadina mengungkap kontribusi besar ekosistem ojek online (ojol) terhadap perekonomian nasional. Studi tersebut menunjukkan transportasi online menyumbang sekitar Rp 564,79 triliun atau setara 2,37% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, serta berkontribusi menekan laju inflasi hingga 0,16%.
Kepala Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Muhammad Rizal Taufikurahman, mengatakan hasil penelitian mereka menunjukkan kehadiran ojek online tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Ojek online juga menghasilkan efek berganda atau multiplier effect yang luas terhadap berbagai sektor usaha.
"Berdasarkan perhitungan kami, transportasi online memberikan kontribusi hampir Rp 565 triliun atau sekitar 2,37% terhadap PDB Indonesia. Ini bukan angka kecil dan menunjukkan bahwa sektor ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional," ujar Rizal dalam pemaparan hasil riset "Masa Depan Ojek Online di Indonesia" di Jakarta, Rabu (3/6).
Rizal menjelaskan, kontribusi tersebut berasal dari dampak langsung dan tidak langsung yang dihasilkan ekosistem transportasi online. Dampak langsung terhadap perekonomian mencapai sekitar Rp 169,12 triliun yang berasal dari aktivitas sektor transportasi dan jasa terkait.
Sementara itu, dampak tidak langsung melalui berbagai sektor pendukung mencapai sekitar Rp 395,67 triliun. Rinciannya, kontribusi dari ekosistem roda dua mencapai Rp 268,7 triliun, sedangkan roda empat sekitar Rp 126,97 triliun.
"Hasil perhitungan kami menunjukkan kontribusi roda dua jauh lebih besar dibandingkan roda empat. Ini menunjukkan besarnya efek spillover yang dihasilkan layanan ojek online terhadap aktivitas ekonomi masyarakat," kata Rizal.
Menurut dia, kontribusi tersebut terbentuk melalui keterkaitan antar sektor ekonomi seperti kehadiran ojek online mendorong aktivitas perdagangan, logistik, usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga sektor jasa lainnya yang kemudian menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Riset ini juga menemukan keberadaan ojek online berpengaruh terhadap sejumlah indikator makroekonomi utama. Konsumsi rumah tangga riil meningkat hingga 3,26%, sementara upah riil masyarakat naik 2,37%.
Selain itu, agregat inventori riil tercatat meningkat hingga 4,80%, pertumbuhan PDB riil turut terdorong sebesar 1,66%. Adapun nilai impor meningkat 1,07% dan nilai tambah ekonomi bertambah 0,89%.
Transportasi Online Melancarkan Distribusi, Menekan Inflasi
Temuan lain yang menarik adalah dampak transportasi online terhadap inflasi. Berdasarkan hasil penelitian, keberadaan ojek online berkontribusi menekan inflasi sebesar 0,16%.
Rizal mengatakan, perbaikan sistem distribusi barang dan jasa yang didukung oleh layanan transportasi online membuat arus logistik menjadi lebih cepat dan efisien. Kondisi tersebut membantu menekan biaya distribusi sehingga mampu meredam tekanan kenaikan harga di tingkat konsumen.
"Banyak riset di Indonesia (menunjukkan) mobilitas barang atau arus lalu lintas barang itu bisa menekan angka inflasi. Ternyata ojek online juga begitu, angkanya tidak kecil, 0,16%,” ujarnya.
Menurut Rizal, penurunan inflasi tersebut tidak berarti aktivitas ekonomi melemah. Sebaliknya, konsumsi masyarakat tetap tumbuh seiring meningkatnya pendapatan dan kesempatan kerja. Namun, kenaikan permintaan tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi lonjakan harga karena didukung oleh distribusi yang lebih efisien.
"Jadi, inflasi karena consumption bagus, tapi supaya tidak kemudian terlalu besar inflasinya, justru ditekan oleh kecepatan arus barang dan jasa," kata Rizal.
