Petani Sawit Optimistis Target Ekspor Tercapai Lewat Intensifikasi

Image title
10 Januari 2020, 19:21
Petani Sawit Optimistis Target Ekspor Tercapai Lewat Intensifikasi.
Katadata
ilustrasi perkebunan sawit. Asosiasi petani kelapa sawit sebut intensifikasi bibit bisa menjadi cara meningkatkan produktivitas sawit.

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan ekspor perkebunan tiga kali lipat pada 2024. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai, hal itu dapat dicapai melalui intensifikasiuntuk mendorong produktivitas. 

Ketua Umum Apkasindo, Gulat ME Manurung menjelaskan saat ini produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit mencapai 800 kilogram (kg) per hektare (ha) setiap bulannya. Melalui program intensifikasi dengan menggunakan bibit-bibit unggul, produksi TBS sawit diperkirakan meningkat menjadi 3,5 ton per hektare per bulan.

Dia menyatakan, intensifikasi merupakan solusi untuk meningkatkan produksi kelapa sawit, di tengah pembatasan lahan pengusaha sawit. Inpres moratorium sawit yang diteken pada 19 September 2018 lalu, hanya berfokus pada mengoptimalkan produksi sawit melalui peningkatan produktivitas dan bukan pada penambahan luas lahan kebun sawit.

(Baca: Gapki Sebut Pemenuhan Target Ekspor Perkebunan Terhambat Pasokan)

Oleh sebab itu, intensifikasi merupakan cara untuk meningkatkan produksi dengan pemanfaatan lahan yang sudah ada, namun mengganti tanaman dengan bibit berproduktivitas tinggi.

"Program instensifikasi bibit menjawab cara meningkatkan produksi dengan meminimalisir penggunaan lahan-lahan baru," kata dia saat dihubungi katadata.co.id, Jumat (10/1).

Gulat menyatakan, saat ini program tersebut telah diimplementasikan di sekitar 42% lahan sawit milik petani dengan luas lahan setara 200 ribu hektar. Hasil panen sawit diperkirakan juga tidak membutuhkan waktu lama.

"Bibit yang ditanam pada tahun tanam 2018 itu tahun depan sudah bisa panen," kata dia.

Sebelumnya, Kementan telah menargetkan ekspor komoditas perkebunan pada 2024 naik tiga kali lipat dari saat ini. Untuk itu, produksi di sektor hulu dan hilir akan digenjot. 

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono menjelaskan ada sekitar 137 komoditas sub sektor perkebunan dapat ditingkatkan. Beberapa komoditas perkebunan unggulan yang produksinya akan digenjot di antaranya yaitu karet, cokelat, kopi, kelapa, lada, dan pala. 

"Ini adalah frame bagaimana caranya agar produksi naik 7% per tahun, sehingga selama lima tahun bisa menjadi 35%," kata dia di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (8/1).

Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menyatakan target peningkatkan ekspor sawit bakal terkendala masalah pasokan. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menjelaskan, volume ekspor tak akan meningkat signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Menurutnya, saat ini jumlah produksi dan ekspor sawit telah mencapai titik maksimal. Upaya peningkatan ekspor pada komoditas ini dinilai tak mudah, karena sebagian produksi terserap untuk program bauran minyak sawit dengan solar 30% atau B30. 

(Baca: Ekspor Sawit hingga Oktober Naik Tipis, Konsumsi Domestik Melesat)

Sementara itu, peningkatan produksi sawit juga tak bisa sebesar sebelumnya karena ekspansi lahan lebih terbatas seiring dengan kebijakan moratorium.  Joko mengatakan,  saat ini ekspor sawit Tanah Air mencapai 30 juta ton per tahun senilai sekitar US$ 20 miliar. 

Dengan adanya target pemerintah, ekspor sawit diperkirakan akan meningkat menjadi 90 juta ton di 2024.  Tanpa adanya penambahan lahan,  hal itu akan mustahil tercapai. "Barangnya ada apa tidak, tinggal kita hitung saja dan kita lihat sendiri," kata Joko ditemui di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (8/1).

 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait