Perang Bisa Picu Kelangkaan dan Kenaikan Harga Energi, Adopsi EBT Makin Ngebut?
Negara-negara dihantui persoalan ketahanan energi di tengah memanas dan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah. Akar masalahnya masih sama: ketergantungan pada impor energi fosil.
World Power Plants melaporkan kapasitas pembangkit listrik berbasis fosil yang terdata -- terpasang maupun masih dibangun -- menembus 5.000 gigawatt (GW). Batu bara memimpin dengan kapasitas mencapai 2.691,5 GW, disusul gas alam sebesar 2.405,3 GW, serta minyak dan diesel 394 GW.
Kapasitas tersebut lebih dari dua kali lipat pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Total kapasitas pembangkit energi terbarukan tercatat sekitar 2.072,8 GW. Kapasitas terbesar dari pembangkit tenaga air yaitu 1.511,5 GW.
Di bawahnya, energi angin dengan kapasitas 268,1 GW, energi surya 215,5 GW, biomassa dan biogas 60,4 GW, serta panas bumi 17,3 GW. Sedangkan pembangkit listrik tenaga nuklir mencapai 733,2 GW.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut bahan bakar fosil sebagai “ancaman terbesar” bagi keamanan energi saat ini. “Bahan bakar fosil membuat perekonomian dan masyarakat rentan terhadap guncangan, gangguan pasokan, dan gejolak geopolitik,” ujarnya, dikutip dari The Guardian.
Menurut dia, negara-negara yang ingin memperkuat keamanan energi sekaligus menekan biaya bagi konsumen perlu beralih ke energi terbarukan. “Tidak ada lonjakan harga untuk energi matahari. Tidak ada embargo terhadap energi angin,” katanya.
Pengalaman Ukraina menjadi contoh nyata. Dalam tulisannya di Reuters, pimpinan koalisi non-profit di bidang aksi iklim We Mean Business Coalition Maria Mendiluce menggambarkan bagaimana rudal dan drone Rusia berulang kali menargetkan pembangkit listrik, gardu induk, fasilitas gas, hingga jaringan transmisi. Sejumlah wilayah sempat terisolasi dari pasokan listrik dalam waktu lama.
Sebagai respons, Ukraina mempercepat pengembangan energi bersih dan sistem kelistrikan yang lebih terdesentralisasi. “Energi terbarukan dan pembangkit terdesentralisasi memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada pasokan bahan bakar yang terus-menerus,” tulis Maria.
Rumah tangga, pelaku usaha, hingga lembaga publik beralih ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Rumah sakit, utilitas air, dan layanan kota memasang sistem surya plus baterai untuk menjaga operasi saat pemadaman terjadi.
Meski performa produksi listrik surya di Ukraina tergolong sedang, dukungan baterai membuat pasokan tetap bertahan dan bisa didistribusikan.
Negara-negara yang Agresif Adopsi Energi Terbarukan
Meski tertinggal dari fosil, investasi di sektor energi bersih terus meningkat. International Energy Agency (IEA) memperkirakan total investasi energi global mencapai US$3,3 triliun pada 2025. Dari jumlah itu, sekitar US$2,2 triliun mengalir ke energi terbarukan, jaringan listrik, penyimpanan energi, bahan bakar rendah emisi, efisiensi energi, dan elektrifikasi. Sisanya dialokasikan untuk minyak, gas, dan batu bara.
IEA mencatat lonjakan investasi transisi energi dalam lima tahun terakhir didorong pemulihan pascapandemi, pertimbangan ekonomi dan teknologi, serta faktor keamanan energi dan kebijakan iklim.
Tiongkok, misalnya, mempercepat pengembangan teknologi energi bersih untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan gas. Eropa meningkatkan pembiayaan energi terbarukan dan efisiensi setelah invasi Rusia ke Ukraina. Kemudian, India yang memperluas investasi di sektor surya.
