Belajar dari Jerman: Ekonomi Bisa Tumbuh Tanpa Boros Emisi, Bagaimana Caranya?

Ajeng Dwita Ayuningtyas
17 September 2026, 12:51
Managing Director of Development Investment of Danantara Development Management Fund (DDMF)Rahmat Kaimuddin (kanan), GIZ Energy Programme Director Lisa Tinschert (tengah), dan Editor Katadata Rezza Aji Pratama (kiri) dalam sesi diskusi Indonesia’s S
Fauza I Katadata
Managing Director of Development Investment of Danantara Development Management Fund (DDMF)Rahmat Kaimuddin (kanan), GIZ Energy Programme Director Lisa Tinschert (tengah), dan Editor Katadata Rezza Aji Pratama (kiri) dalam sesi diskusi Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth di forum Katadata SAFE 2026, Rabu (16/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memenuhi peningkatan permintaan listrik, tanpa menyebabkan lonjakan emisi gas rumah kaca. 

Lisa Tinschert, Energy Programme Director GIZ, lembaga kerja sama internasional milik pemerintah Jerman, membahas konsep decoupling, yakni upaya memisahkan pertumbuhan ekonomi dari pertumbuhan konsumsi energi dan emisi.

Jerman, menurut dia, dapat menjadi contoh penerapan decoupling. Selama kurang lebih 30 tahun terakhir, Jerman telah mengurangi emisi terkait sektor energi hingga sekitar 50 persen.

“Di satu sisi, membuat teknologi kami semakin efisien, mengembangkan teknologi yang tepat di seluruh level, baik industri, residensial, dan sebagainya, juga mendorong energi terbarukan,” ujar Lisa, saat sesi diskusi Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth di forum Katadata SAFE 2026, Rabu (16/9).

Lisa mengatakan, Jerman tidak memiliki banyak potensi energi surya seperti Indonesia. Namun, negara tersebut mampu meningkatkan skala energi terbarukan secara signifikan. Kini, sekitar 60 persen listrik di negara tersebut berasal dari surya dan angin. Menurut Lisa, sistem tersebut bahkan dapat beroperasi tanpa baterai dalam kondisi tertentu. 

“Saat ini kami membahas soal baterai, karena kami sedang berada di masa dimana mungkin kami perlu menyimpan energi yang dihasilkan. Ada saat-saat energi yang dihasilkan 100 persen berasal dari tenaga surya dan angin,” ucapnya.

Namun, dia mengingatkan, pentingnya perencanaan yang matang dalam pengembangan infrastruktur energi baru terbarukan. Jangan sampai listrik yang dihasilkan tidak dapat diintegrasikan ke sistem kelistrikan nasional karena jaringan listrik yang belum siap. 

Seperti Jerman, menurut Lisa, Indonesia bisa menerapkan decoupling dengan efisiensi penggunaan listrik bukan hanya perluasan infrastruktur kelistrikan. “Saya pikir kita perlu berhati-hati agar tidak hanya melihat pada perluasan sistem energi, tetapi juga bagaimana kita menggunakan energi,” kata Lisa.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...