Paiton Pilih Gas untuk Tekan Emisi, Gaet Mitsubishi Power Siapkan PLTGU Hidrogen

Ajeng Dwita Ayuningtyas
24 September 2026, 21:12
Paiton Energy berencana menggandeng Mitsubishi Power untuk menyiapkan PLTGU yang dapat menggunakan campuran bahan bakar hidrogen.
Situs Mitsubishi Power
Paiton Energy berencana menggandeng Mitsubishi Power untuk menyiapkan PLTGU yang dapat menggunakan campuran bahan bakar hidrogen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Paiton Energy, perusahaan listrik yang sebagian besar sahamnya dipegang Medco Group, berencana menggandeng perusahaan teknologi pembangkit asal Jepang, Mitsubishi Power, untuk menyiapkan pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) yang dapat menggunakan campuran bahan bakar hidrogen.

Presiden Direktur Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri menjelaskan opsi ini ditempuh seiring kebutuhan menambah kapasitas listrik sekaligus memenuhi tuntutan pembangkitan dengan emisi yang lebih rendah.

“Sekarang kami bicara dengan Mitsubishi Power, teknologi turbin gas yang sangat advanced, yang juga bisa beroperasi dengan hidrogen,” kata Fazil dalam diskusi di Jakarta, Kamis (24/9).

Berdiri sejak 1994, Paiton Energy saat ini memiliki dan mengoperasikan tiga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara berkapasitas total 2,04 GW di Probolinggo, Jawa Timur. Merujuk pada situs Paiton Energy, ketiga pembangkit tersebut berkontribusi sekitar 6 persen terhadap konsumsi listrik tahunan di Pulau Jawa.

Fazil mengatakan opsi memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara untuk menekan emisi gas rumah kaca belum tepat dilakukan di tengah pertumbuhan permintaan listrik.

“Kalau kami pensiunkan, tidak ada penggantinya, sementara growth lagi tinggi-tingginya,” ucap dia. “Jadi, yang kami butuhkan adalah peningkatan kapasitas, tapi dengan energi yang lebih bersih,” ujarnya melanjutkan.

Saat ini, Paiton Energy menghasilkan emisi karbon sekitar 913 gram per kWh listrik yang dihasilkan. Menurut Fazil, penambahan kapasitas PLTGU sebesar 2,6 GW akan menurunkan rata-rata intensitas emisi karbon seluruh unit pembangkit sekitar 34 persen.

“Kapasitasnya jadi lebih besar, tapi jejak karbonnya jadi lebih sedikit,” ujar dia. Ke depan, intensitas emisi akan semakin rendah seiring penggunaan hidrogen dan amonia sebagai bahan bakar PLTGU.

Roadmap Paiton: Gas Menjadi Jembatan Menuju Hidrogen

Dalam Clean Gas Technology Roadmap: 2025-2060 milik Paiton Energy, perusahaan membagi rencana peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih ke dalam tiga fase. Gas ditempatkan sebagai sumber energi peralihan dari batu bara menuju penggunaan hidrogen dan amonia.

Pada fase pertama, 2025-2030, Paiton Energy berfokus membangun PLTGU dengan teknologi yang siap menggunakan hidrogen, mengembangkan rantai pasok liquefied natural gas (LNG) dan infrastruktur floating storage and regasification unit (FSRU) di Jawa, serta mengadopsi energi surya dan baterai sebagai pelengkap pembangkit gas.

Fase berikutnya pada 2030-2040 diarahkan pada penggunaan campuran hidrogen dan amonia pada PLTU maupun PLTGU yang sudah tersedia.

“Hampir semua turbin gas hari ini itu hydrogen ready, mungkin 20-30 persen (campuran hidrogen),” ujar Fazil.

Paiton Energy juga berencana mengembangkan pilot project carbon capture and storage (CCS) untuk sektor pembangkit listrik dengan kapasitas sekitar 1 GW. Perusahaan kemudian akan mempercepat peralihan dari batu bara, memulai produksi amonia hijau, serta mengadopsi teknologi turbin gas yang siap menggunakan hidrogen dalam pengadaan pembangkit barunya.

“Baru nanti pada 2040-2060, yang kami perlu lakukan adalah deep decarbonize,” ucapnya.

Dekarbonisasi mendalam tersebut antara lain dilakukan dengan mengadopsi teknologi PLTGU yang dapat menggunakan hidrogen atau amonia hingga 100 persen, serta penerapan CCS skala penuh pada pembangkit listrik tenaga panas yang masih beroperasi.

Ke depan, Paiton Energy juga akan menempatkan pembangkit listrik gas sebagai penyeimbang pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti tenaga angin dan surya. Perusahaan menargetkan net zero emission pada 2060 melalui pengembangan portofolio energi yang lebih bersih.

Teknologi Turbin Gas Hidrogen Mitsubishi Power

Presiden Direktur Mitsubishi Power Indonesia Nobuhiro Kawai mengatakan seiring target penurunan emisi, Mitsubishi Power berfokus memenuhi peningkatan permintaan listrik sekaligus meningkatkan keandalan, efisiensi, dan kinerja emisi sistem ketenagalistrikan.

“Peran kami adalah menyediakan teknologi yang dapat mendukung transisi yang praktis ini, mulai dari turbin gas berefisiensi tinggi dengan fleksibilitas bahan bakar hidrogen, solusi panas bumi, optimalisasi aset, hingga riset jangka panjang dengan mitra lokal,” ujar dia.

Kawai mengatakan turbin gas seri JAC milik perusahaannya menawarkan efisiensi combined cycle lebih dari 64 persen, tingkat keandalan 99,6 persen, serta fleksibilitas bahan bakar karena dapat beroperasi dengan campuran hidrogen. Mitsubishi Power menyatakan turbin J-Series dapat menggunakan campuran hingga 30 persen hidrogen, dengan pengembangan menuju penggunaan hidrogen yang lebih tinggi.

Sebagai informasi, Mitsubishi Power telah menjadi bagian dari industri ketenagalistrikan Indonesia selama lebih dari 30 tahun. Saat ini, sekitar 19 GW kapasitas terpasang atau sekitar 30 persen kapasitas listrik nasional menggunakan teknologi perusahaan asal Jepang tersebut.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...