Hitung-hitungan Dampak PLTS 100 GWp dan Kompor Listrik, Seberapa Strategis?

Ajeng Dwita Ayuningtyas
14 Oktober 2026, 13:46
Program PLTS 100 GWp dan kompor listrik masuk dalam strategi kemandirian energi pemerintah.
PEXEL
Program PLTS 100 GWp dan kompor listrik masuk dalam strategi kemandirian energi pemerintah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saat sederet program pemerintah menuai kontroversi, dukungan mengalir untuk dua program di sektor energi: PLTS 100 GWp dan kompor listrik. Keduanya dinilai punya peran strategis untuk kemandirian energi dan transisi ke listrik bersih.

Berdasarkan analisis perusahaan konsultan yang fokus pada keberlanjutan dan transformasi sistem ekonomi, Systemiq, kompor listrik dan jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) cocok menggantikan LPG, karena lebih murah dan teknologinya sudah tersedia. 

Senior Associate Systemiq Nadhira Ratnasari mengatakan, pilihan yang paling murah adalah jargas, namun cenderung hanya bisa diakses oleh rumah tangga yang terkoneksi jaringan gas. “Alternatif kedua adalah listrik, di mana harganya pun masih lebih murah dan secara cakupan juga jauh lebih besar,” kata Nadhira, dalam diskusi bertajuk Electrification of Cooking to Power Indonesia’s Next Growth di Jakarta, pekan lalu. 

Untuk mewujudkan elektrifikasi tersebut, rencana pengembangan 100 Gigawatt-peak (GWp) dinilai punya peranan penting. “Kami melihat bahwa solar 100 GWp ini sebenarnya bisa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam roll out electric cooking,” ujar dia. 

Perhitungan Systemiq, peralihan satu rumah tangga berpenghasilan tinggi (upper-income) dari penggunaan LPG subsidi ke kompor listrik dapat membuat pemerintah menghemat Rp103 ribu per rumah tangga per bulan.

Meskipun, peralihan itu menimbulkan kenaikan biaya energi rumah tangga Rp81 ribu per bulan. “Karena perlu ada kompor baru dan juga kenaikan daya (listrik), juga mungkin wajan, utensil, mungkin perlu diganti,” ucapnya. 

Akan tetapi, dengan memperhitungkan harga LPG yang cukup fluktuatif belakangan, Systemiq menilai tambahan biaya tersebut bisa dilihat sebagai proteksi pengguna dari risiko gejolak harga. 

Dalam hitungan Systemiq, pemerintah juga dinilai masih memungkinkan untuk menekan kenaikan biaya rumah tangga, dengan menanggung biaya peralihan  atau switching cost. Bahkan, biaya bisa lebih jauh ditekan dengan pemerintah mengatur tarif listrik untuk pengguna kompor listrik. 

Intervensi lewat dua kebijakan itu dinilai masih lebih hemat dibandingkan meneruskan penggunaan LPG secara luas. “Ini opsi yang menguntungkan bagi rumah tangga, juga menguntungkan pemerintah, mungkin juga secara nasional kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar yang kita impor,” kata Nadhira. 

Sebagai informasi, Indonesia masih mengimpor sekitar 80-85 persen LPG dari total kebutuhan 8,5-9 juta ton per tahun. Dari analisis Systemiq, delapan dari 10 rumah tangga di desil 1 hingga 10 menggunakan LPG subsidi. Peralihan ke kompor listrik disarankan menyasar lebih dulu rumah tangga desil 6-10 yang tergolong ekonomi menengah ke atas. 

Saling Dukung Program 100 GWp PLTS dan Elektrifikasi

Program PLTS 100 GWp atau sekitar 30 GW disebut membutuhkan dukungan berupa kepastian permintaan. “Ada baiknya kita juga berusaha untuk meningkatkan demand side untuk menjustifikasi dan membuat investasi dari energi bersih ini menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” kata Manager and Lead for Low-Carbon Energy and Industry Systemiq Abindra Soemali.

Berdasarkan analisis Systemiq, permintaan listrik Indonesia berpotensi meningkat dari 66 GW tahun ini menjadi 109 GW pada 2030. Kenaikan ini tak hanya didorong oleh pertumbuhan aktivitas ekonomi seperti biasa (business as usual), tetapi dari pusat data dan percepatan elektrifikasi industri, serta penggunaan kendaraan dan peralatan masak atau kompor listrik.

Dari jumlah permintaan tersebut, energi surya diperkirakan bisa berkontribusi menyuplai sekitar 32 GW. “Jadi apabila Indonesia mengelektrifikasi dan ingin mandiri energi, salah satu solusinya adalah memang benar kita butuh 100 GWp energi surya masuk ke jaringan,” kata dia. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...