Era Nuklir Asean, Singapura hingga Filipina Bersiap Cetak Pekerja Nuklir Global
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tengah ramai dilirik negara Asia Tenggara sebagai opsi ketahanan energi. Sekarang ini, Filipina, Singapura, hingga Indonesia tengah mengkaji pengembangannya. Sedangkan pemerintah Vietnam telah menandatangani kesepakatan konstruksi dengan pemerintah Rusia pada Maret lalu.
Bersamaan dengan minat akan pembangkit nuklir yang membesar di Asia Tenggara, bahkan dunia, Singapura dan Filipina membidik peluang lain yakni sebagai pemasok global tenaga kerja profesional di bidang nuklir.
Menteri Energi, Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan bahwa Singapura akan menjalani proses penilaian independen dari IAEA pada tahun depan untuk mengkaji kemampuan negara-kota ini mengoperasikan PLTN. Sambil menjalani peninjauan itu, Singapura akan mempersiapkan tenaga ahli dan profesional nuklir.
“Kami mengumumkan program pengembangan tenaga kerja untuk memperkuat kemampuan di bidang nuklir di pemerintahan dan industri,” kata dia saat berpidato di Singapore International Energy Week di Singapura, Senin (26/10).
Tan mengatakan bahwa tujuan strategis program pengembangan tenaga kerja ini bukan hanya bertujuan mempersiapkan diri untuk pengembangan pembangkit nuklir domestik. Tapi, menyediakan tenaga kerja global di bidang nuklir.
“Sekalipun pada akhirnya Singapura memutuskan untuk tidak menggunakan energi nuklir, kemampuan dan keahlian yang kita bangun saat ini akan tetap bermanfaat, terutama ketika minat terhadap energi nuklir meningkat di Asia Tenggara dan berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Dia mengumumkan tiga program baru untuk pengembangan tenaga kerja nuklir. Pertama, program pengembangan tenaga ahli nuklir untuk sektor publik. Program ini akan memberikan kesempatan bagi pegawai negeri Singapura untuk memperoleh pengalaman kerja langsung di organisasi nuklir terkemuka dunia, guna memperkuat keterampilan dan kompetensi mereka di bidang nuklir.
Kedua, program pengembangan tenaga ahli nuklir untuk industri. Program tersebut akan mendukung para profesional dari perusahaan-perusahaan tertentu yang berbasis di Singapura untuk memeroleh pengalaman langsung bersama mitra internasional tepercaya. Tujuannya, untuk mempelajari peluang bisnis dan jalur karier baru di dalam dan luar negeri.
Ketiga, Singapura berniat memperbesar jumlah talenta lokal. Dua universitas nasional Negeri Merlion, National University of Singapore dan Nanyang Technological University, tengah bekerja sama untuk meluncurkan program magister bersama di bidang teknik nuklir pada 2027.
Filipina juga membidik hal yang sama. Sekretaris Departemen Energi Filipina Sharon Garin mengatakan bahwa dirinya sudah meminta tim program energi nuklir untuk mengembangkan tenaga kerja bidang nuklir bukan hanya untuk Filipina tapi seluruh dunia. Pemerintah Filipina juga telah berbicara dengan beberapa negara dan IAEA untuk memberikan pelatihan di bidang nuklir untuk mencetak tenaga kerja bersertifikasi.
“Banyak negara mengalami keterlambatan dalam pengembangan nuklir karena tidak adanya kecukupan tenaga kerja (mismatch). Jadi Filipina berupaya untuk menjadi salah satu pemasok terbesar tenaga kerja nuklir,” ujarnya saat berbicara dalam forum IAEA di Singapore International Energy Week, Selasa (27/10).
Berdasarkan data IAEA, kapasitas listrik dari pembangkit nuklir global telah mencapai 379,6 gigawatt dari 417 reaktor di 41 negara pada 2025. Ini setara 8,4 persen dari total kapasitas pembangkit listrik global, dan sekitar 20 persen dari total pembangkit listrik rendah karbon. Sedangkan sebanyak 78 reaktor di 17 negara tengah dalam konstruksi.
