IBC Usul Skema Kombo Insentif, Kerek Bauran Mobil Listrik Berbasis Baterai Nikel
Indonesia Battery Company (IBC) memastikan jalan panjang nikel dalam produksi baterai kendaraan listrik (EV), meski kini pasar didominasi dengan baterai Lithium Ferro-Phosphate (LFP). IBC mengusulkan skema insentif untuk meningkatkan bauran EV berbasis baterai nikel atau NMC di Indonesia.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan, berdasarkan studi yang dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada, insentif berlapis pada mobil listrik berbasis baterai nickel manganese cobalt (NMC), plus insentif langsung pada baterai NMC, dapat meningkatkan jumlah jenis kendaraan ini di Tanah Air.
“Saat ini baru 4 ribu (unit EV berbasis baterai nikel) yang terjual pada 2025, dengan insentif ini, secara kumulatif kami prediksi bisa mencapai 400 ribu sampai 2030,” kata Aditya, dalam diskusi di Periklindo Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026, Rabu (28/10).
Skenario insentif yang dia paparkan adalah penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap baterai NMC dari 11% menjadi 7%, ditambah PPN terhadap EV berbasis NMC tetap nol persen dan untuk EV berbasis LFP ditingkatkan menjadi 7,2%.
“Memang cost yang dikeluarkan oleh pemerintah karena insentif fiskal tersebut cukup besar. Namun, ini bisa men-trigger bauran mobil listrik berbasis nikel di Indonesia,” ujarnya.
Selain menjaga keberlanjutan rantai pasok kendaraan listrik dalam negeri, skema ini berpotensi membuahkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan insentif yang digelontorkan.
“Harapan kami ke depan akan ada kebijakan-kebijakan yang lebih leaning towards nikel supaya value chain-nya bisa dikuasai dalam negeri,” kata dia.
Bersaing dengan Baterai LFP
Aditya tak menampik bahwa saat ini pasar masih lebih banyak menggunakan baterai berjenis LFP, dibandingkan NMC yang bahan bakunya melimpah di Indonesia. Namun, perkembangan teknologi baterai seperti solid state battery dan sodium-ion membuka peluang pemanfaatan nikel.
Begitu juga dengan perkembangan baterai lithium manganese rich, yang akan meninggalkan kobalt dan hanya mengandalkan nikel dan mangan sebagai bahan bakunya. Harapannya, tanpa kobalt, harga baterai bisa ditekan lebih rendah.
“Ini beberapa teknologi yang akan mewarnai masa depan baterai kita. Kalau kapabilitasnya tidak dibangun di sini, maka industri global akan memilih teknologi yang bisa mereka akses lebih mudah bahan bakunya,” kata dia.
