Italia Diprediksi Kesulitan Capai Target Iklim pada 2030
Italia berpotensi gagal mencapai target pengurangan emisi karbon yang disepakati di tingkat Uni Eropa karena keterlambatan di bidang-bidang transisi hijau utama, termasuk pembangkit listrik terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang dirilis pada hari Sabtu (6/9).
Melansir Reuters, laporan yang disiapkan oleh kelompok energi Edison dan lembaga think tank TEHA Group, menunjukkan Italia membutuhkan waktu sepuluh tahun lebih lama dari perkiraan dalam menerapkan infrastruktur energi terbarukan dan penyimpanan energi. Hal ini dapat menghalangi negara tersebut untuk mencapai tujuan dekarbonisasi yang ditetapkan Uni Eropa untuk tahun 2030.
Studi tersebut menyerukan penyederhanaan perizinan, memberikan kepastian investasi, dan pengurangan biaya energi.
"Dengan menggabungkan penyimpanan tenaga air dengan pembangkit listrik tenaga nuklir canggih dan teknologi penangkapan karbon, Italia dapat menambahkan 190 miliar euro ke hasil ekonominya pada tahun 2050," demikian perhitungan studi tersebut, seperti dikutip Reuters.
Laporan itu juga menyebutkan Italia dapat mengembangkan penyimpanan tenaga air, dengan perkiraan potensi 13,6 gigawatt di 56 lokasi baru, mendukung keamanan energi dan ketahanan iklim.
"Kita harus mengurangi ketergantungan energi dan teknologi kita pada negara asing, meningkatkan rantai pasokan domestik seperti pemompaan hidroelektrik, dan membangun kemitraan Eropa seputar teknologi baru, dari nuklir generasi berikutnya hingga penangkapan karbon," kata CEO Edison, Nicola Monti, mengomentari studi tersebut.
Proyek-proyek tenaga surya di Italia menghadapi biaya yang saat ini 20% lebih tinggi daripada di Prancis, Jerman, dan Spanyol. Hal ini disebabkan kemacetan jaringan listrik, ketersediaan lahan, dan proses persetujuan yang panjang.
