Sampah Organik Dominan, Danantara Jelaskan Alasan Pilih Insinerator untuk PLTSa

Ajeng Dwita Ayuningtyas
22 Januari 2026, 13:37
Kawanan burung bangau putih dan sekelompok sapi mencari makan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025). Pemerintah tengah memproses proyek pengolahan sampah menjadi listrik atau Waste to Energy. PLTSa akan dib
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom.
Kawanan burung bangau putih dan sekelompok sapi mencari makan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/9/2025). Pemerintah tengah memproses proyek pengolahan sampah menjadi listrik atau Waste to Energy. PLTSa akan dibangun di lebih dari 30 kota/kabupaten.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Danantara berencana menggunakan teknologi pembakaran mechanical grate incinerator dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik alias Waste to Energy. Pilihan ini memunculkan pertanyaan, apakah teknologi pembakaran tersebut sejalan dengan karakter sampah Indonesia yang didominasi sampah organik.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Sabdo Yuwono menjelaskan, sejatinya teknologi yang digunakan dalam program pengolahan sampah menjadi energi listrik adalah yang sesuai dengan karakteristik sampah. Di Indonesia, komposisi sampah organik mencapai 60 persen dari total sampah. 

“Setelah ketahuan fraksinya (komposisi sampah terbesar), baru kemudian pilih teknologi. Jangan dibalik,” kata Arief, dalam diskusi oleh Tenggara Strategics dan CSIS di Jakarta, pada Rabu (21/1). 

Dia menjelaskan, sampah organik yang tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) akan mengalami dekomposisi secara anaerobik dan menghasilkan landfill gas (LFG) yang didominasi gas metana dengan porsi sekitar 40-60 persen. Gas metana ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, salah satunya untuk pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Jika tidak dikelola, metana berisiko memicu kebakaran atau ledakan serta berkontribusi terhadap pemanasan global. Dengan kandungan metana yang tinggi, sampah organik dinilai mampu menghasilkan energi listrik yang optimal melalui teknologi landfill gas power plant.

Dalam forum yang sama, Lead of Waste-to-Energy Danantara Fadli Rahman menjelaskan alasan di balik pemilihan teknologi mechanical grate incinerator untuk proyek PLTSa. Teknologi ini menggunakan proses pembakaran bersuhu tinggi, sekitar 850-1.000 derajat Celsius, dan dinilai mampu mengolah berbagai jenis sampah secara bersamaan. 

Fadli mengklaim teknologi insinerator yang ditawarkan calon pengembang PLTSa telah dilengkapi sistem penyaringan emisi sesuai standar lingkungan yang ketat. “Standar emisinya bahkan lebih ketat dibandingkan standar Eropa,” ujarnya. Karena itu, ia menilai dampak lingkungan dari fasilitas PLTSa di Indonesia akan lebih terkendali.

Senior Researcher Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman menilai, mechanical grate incinerator relatif cocok untuk Indonesia yang memiliki jenis sampah sangat beragam. Meski demikian, dia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber untuk mengurangi bau, risiko penyakit selama pengangkutan, menjaga efisiensi teknologi, serta mencegah kerusakan peralatan.

Intan juga menyinggung pengalaman Cina yang menggunakan teknologi insinerator dalam proyek PLTSa. Menurut dia, penerapan teknologi tersebut mampu menekan emisi, sementara abu sisa pembakaran dapat dimanfaatkan kembali, misalnya sebagai bahan campuran material bangunan seperti semen.

Bila mengacu pada ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup, pemilahan sampah tetap menjadi prinsip utama pengelolaan sampah melalui penerapan reduce, reuse, recycle dan pengomposan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...