Dorong Pengganti LPG Impor, Proyek Biogas Dapat Penjaminan Kredit
Pengembang proyek biogas bisa mendapatkan penjaminan kredit. Direktur Eksekutif Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Yahya Rachmana Hidayat mengatakan terdapat program Biogass Guarantee Facility (BGF) yang bisa memberikan penjaminan hingga 50 persen dari risiko kredit.
Yahya menjelaskan, banyak proyek solusi iklim belum bisa direplikasi di skala nasional, termasuk di sektor energi. Salah satu penghambatnya adalah minimnya investasi. Maka itu, program penjaminan ini dibentuk, untuk mempermudah pengembang dalam mengakses pendanaan.
Mengutip laman Mitigation Action Facility, penjaminan ini dibentuk untuk mendukung program pengembangan biogas di Indonesia. Terdapat pendanaan €19,9 juta atau sekitar Rp417,6 miliar untuk pengembangan biogas di Tanah Air.
"Untuk mengembangkan compressed biomethane gas (CBG) atau kalau berasal dari gas alam namanya compressed natural gas (CNG),” kata Yahya dalam diskusi ‘Peluang GIFT dalam Mendukung Transformasi Ekonomi Hijau’ di Jakarta, Kamis (4/6).
Pelaksana program pengembangan biogas ini adalah Global Green Growth Institute (GGGI), dengan ICCTF dan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) sebagai mitra. Program ini didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Adapun ICCTF, menurut Yahya, mendapatkan hibah dari GGGI. “Kami berperan menerima hibah, kemudian menyalurkannya dan mengembangkan instrumen pembiayaan iklim, menghubungkan pemerintah, donor, investor, dan perancang proyek serta menjadi platform blended finance untuk menurunkan risiko investasi,” ujarnya.
Sebagai informasi, CBG dan CNG digadang-gadang menjadi pengganti liquid petroleum gas (LPG) yang sebagian besar masih dipenuhi pemerintah Indonesia dengan impor. “Atau menggantikan energi fosil dari minyak, sebagai co-firing pengganti minyak menjadi gas,” ujar Yahya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah menyampaikan rencana pemanfaatan CNG dalam negeri untuk mencapai kemandirian energi. Termasuk, mengkaji penggunaan tabung CNG 3 kg sebagai alternatif LPG.
CBG dapat diperoleh dari pengolahan limbah organik seperti kotoran ternak, limbah pertanian dan perkebunan (termasuk limbah minyak kelapa sawit, sampah organik rumah tangga, dan lain sebagainya. Sedangkan CNG terbuat dari gas alam yang dimampatkan.
