Karhutla Berulang, Emisi Karbon Meledak: Pemerintah Bakal Cari Impas dari Laut?
Pemerintah berharap laut bisa membantu meningkatkan penyerapan emisi karbon Indonesia. Lantas, apakah konservasi ekosistem laut dibidik untuk mengompensasi emisi karbon yang meledak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif?
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo mengatakan, serapan karbon dari ekosistem pesisir tidak dimaksudkan untuk menggantikan emisi yang dilepaskan akibat karhutla.
“Kami berharap karhutla bisa dicegah, tapi pada saat yang sama, kami juga mendorong serapan karbon dioksida yang lebih optimum melalui konservasi ekosistem blue carbon ini,” kata Teguh saat konferensi pers di Jakarta, Senin (21/9).
Karbon biru atau blue carbon merujuk pada karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem pesisir, terutama mangrove, rawa payau, dan padang lamun. Ekosistem tersebut mampu menyimpan karbon dalam biomassa dan sedimen dalam jangka panjang. Perlindungan terhadap ekosistem ini dapat membantu mempertahankan sekaligus meningkatkan simpanan karbon.
Pemerintah juga membidik nilai ekonomi dari pengembangan berbagai proyek karbon biru.
Teguh menambahkan, tantangan menjaga kemampuan ekosistem menyerap karbon, baik di kawasan hutan darat maupun pesisir, relatif sama. Aktivitas ekonomi, budaya, serta pengetahuan yang berkembang di masyarakat dapat memengaruhi kondisi ekosistem tersebut.
Karena itu, pemerintah menuangkan strategi perlindungan dan pengelolaan ekosistem karbon biru dalam Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Indonesia 2026-2045.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah dampak pembangunan terhadap ekosistem pesisir. Pembangunan jalan, jembatan, hingga pelabuhan, misalnya, dapat memengaruhi ekosistem mangrove dan lamun.
“Apabila misalnya pembangunan jalan, jembatan, pelabuhan, ini ada konsekuensinya terhadap ekosistem mangrove dan lamun, maka ini juga menjadi bagian yang diarahkan melalui peta jalan ini untuk dapat dihindari, dimitigasi risikonya, dan dapat dikelola,” ujar dia.
Peta jalan tersebut juga mendorong pembangunan sistem data, riset, dan ilmu pengetahuan terkait karbon biru yang berkualitas dan terintegrasi. Pemerintah juga akan memperkuat sistem measurement, reporting, and verification (MRV) sesuai standar.
“Artinya kita tahu berapa (area ekosistem pesisir) yang dialihkan, dan ini perlu juga nanti digantikan luasan lahannya,” ujar Teguh.
Meski demikian, Teguh mengatakan upaya utama tetap menghindari pengalihfungsian mangrove dan lamun untuk tujuan lain. Dia menekankan, kolaborasi pemerintah, sektor usaha, dan lembaga riset diperlukan untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus potensi serapan karbonnya.
Lepasnya Puluhan hingga Ratusan Juta Ton karbon Imbas Karhutla
Ketika hutan terbakar, karbon yang semestinya tersimpan menjadi terlepas ke atmosfer. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperkirakan karhutla di Indonesia melepaskan 31 juta ton emisi CO2 sepanjang Januari hingga awal September 2026.
Sedangkan Copernicus, lembaga pengamatan bumi milik Uni Eropa, mengestimasi emisi karhutla Indonesia mencapai 65,18 megaton atau setara 239 juta ton CO2 sepanjang periode yang sama. Angka tersebut sekitar delapan kali lebih tinggi dibandingkan estimasi Walhi.
Pengkampanye Iklim dan Isu Global Walhi Patria Rizky Ananda mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat mencapai target sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (Forestry and Other Land Use/FOLU) menyerap emisi lebih besar daripada yang dilepaskan pada 2030 atau FOLU Net Sink 2030.
“Bagaimana Indonesia dapat mencapai FOLU Net Sink jika pada saat yang sama puluhan hingga ratusan juta ton CO2 terus dilepaskan dari karhutla?” ujar dia.
Sebagai informasi, ekosistem mangrove masuk dalam perhitungan sektor FOLU dan juga terbakar saat karhutla, meski luasnya relatif kecil bila dibandingkan wilayah hutan dan lahan lainnya. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, dari 1,7 ribu hektare kawasan hutan yang terbakar sepanjang Januari-Februari 2026, sekitar 4 hektare di antaranya merupakan hutan mangrove.
