Strategi E-Commerce Merebut Pasar Belanja Online Saat Normal Baru

Riset Facebook dan Bain & Company menunjukkan 44% konsumen di Asia Tenggara berbelanja bahan pokok secara online selama pandemi corona.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
13 Juni 2020, 16:13
tokopedia, bukalapak, blibli, shopee, ecommerce, virus corona, pandemi corona, covid-19
Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi, seorang pria berbelanja barang elektronik di salah satu situs online. Perusahaan e-commerce menyiapkan strategi khusus untuk merebut pasar saat normal baru.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Riset Facebook dan Bain & Company menunjukkan belanja online tetap menjadi tren saat normal baru. Perusahaan e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, hingga Blibli pun menyiapkan sejumlah strategi untuk merebut pasar. 

CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan perusahaan melihat beberapa kebiasaan masyarakat yang berubah secara permanen saat new normal, termasuk kebiasaan berbelanja online. Oleh karena itu, dia mengajak pelaku usaha untuk bergabung di platformnya.

"Kami mengajak lebih banyak pegiat usaha yang masih offline sepenuhnya untuk mengadopsi kanal online lewat platform kami," ujar William kepada Katadata.co.id, Jumat (12/6) malam.

Terdapat tiga prioritas dalam strategi baru Tokopedia. Pertama, memastikan masyarakat dapat memenuhi berbagai kebutuhan dari rumah. Hal itu meliputi ketersediaan produk, harga terjaga dan kemudahan pengiriman lewat peningkatan layanan bersama para mitra logistik dan fitur Bebas Ongkir.

Prioritas kedua yaitu menjaga perputaran roda ekonomi Indonesia dengan memastikan para penjual dapat terus berbisnis melalui Tokopedia, serta memastikan mereka yang baru memulai bisnis daring bisa mendapatkan kemudahan.

Sebagai upaya membantu pemerintah, prioritas ketiga Tokopedia yaitu ikut mendorong pemulihan ekonomi yang tengah melambat karena pandemi. Sebagai ekosistem besar yang mencakup transaksi dari berbagai industri lewat kemitraan, Tokopedia berharap strategi itu dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi negeri.

(Baca: Tokopedia Siapkan Empat Jurus Sambut Normal Baru di Tengah Pandemi)

(Baca: Grab Ramal UMKM Ramai-ramai Beralih ke Layanan Digital Saat New Normal)

Menanggapi riset Facebook dan Bain & Company, William mengatakan media sosial akan selalu menjadi media informasi dan komunikasi yang efektif. "Namun, marketplace seperti Tokopedia akan menjadi media transaksi yang aman dan paling efektif untuk mengembangkan bisnis," ujar dia. 

Apalagi, ia menjelaskan, Tokopedia merupakan sebuah ekosistem terintegrasi. Mitra penjual yang membangun bisnis di platformnya tidak perlu mengecek akun bank secara manual untuk melihat pelanggan yang sudah membayar dan menerima pembayaran dengan metode apapun.

Begitu pula dengan dukungan logistik, William mengatakan, layanan itu terintegrasi di platformnya. Sehingga hampir mustahil menjalankan bisnis online dengan ratusan atau ribuan pesanan per hari lewat media sosial.

"Tetapi, hal itu akan menjadi sangat efektif melalui sistem marketplace seperti Tokopedia," ujar William.

Meski begitu, dia menyebut para mitra penjualnya bisa mempromosikan produk dan toko online di platfrormnya lewat media sosial."Jadikan media sosial sebagai kanal informasi dan komunikasi kepada pelanggan dan Tokopedia sebagai dapur usaha online," ujar William.

Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono mengatakan perusahaan bakal fokus menyediakan lebih banyak kebutuhan dasar konsumen. Selain itu, pihaknya bakal lebih berupaya memberikan harga yang kompetitif bagi konsumen.

"Kami ingin memastikan bahwa kami memiliki kategori yang cukup pada Stock Keeping Unit (SKU) yang ditawarkan. Kami pun secara aktif memastikan harga terbaik bagi pengguna kami," ujar Intan kepada Katadata.co.id, Jumat (12/6). 

Selain itu, Intan melanjutkan, perusahaan terus meningkatkan metode pembayaran dan layanan logistik di platformnya agar dapat menjangkau seluruh konsumen. Bukalapak optimistis strategi yang diterapkan bakal membawa perusahaan ke posisi yang lebih kuat setelah pandemi. 

Menanggapi riset Facebook dan Bain & Company, Intan mengatakan perusahaan masih melihat antusiasme dan peningkatan aktivitas berbelanja di platformnya. "Seperti dalam dua bulan terakhir, kami mencatat adanya kenaikan transaksi hingga double digit dibandingkan Ramadan tahun lalu," ujar dia. 

Adapun kategori produk yang paling diminati pada Ramadan tahun ini yaitu fesyen pria, anak-anak, beserta kategori makanan seperti kurma, parcel Lebaran dan kue Lebaran. Selain itu, perlengkapan beribadah dan bahan -bahan makanan seperti beras dan minuman instan juga banyak dicari.

Selama dua hari Lebaran tahun ini, Intan melanjutkan, perusahaan melihat adanya peningkatan penjualan dibandingkan saat Lebaran tahun lalu pada kategori handphone, hobi & koleksi, serta motor. Oleh karena itu, perusahaan bakal terus memantau dan berkomunikasi dengan para mitra penjualnya untuk memastikan ketersediaan produk di platform Bukalapak demi memenuhi kebutuhan konsumen.  

"Kami juga tetap konsisten menyediakan beragam produk UMKM berkualitas dari berbagai kategori dengan keuntungan diskon menarik dan potongan serta gratis ongkos kirim," ujar dia. 

(Baca: Memaksimalkan Big Data untuk Menunjang Strategi E-commerce)

Public Relations Lead Shopee Aditya Maulana Noverdi mengatakanperubahan yang terjadi pada konsumen dalam memasuki fase normal baru membuat perusahaan menyiapkan sejumlah strategi. Caranya dengan memberikan tawaran yang menarik agar pengguna dapat berbelanja online di platformnya.

Pelanggan juga bisa menemukan berbagai produk dengan promo khusus yang ditawarkan oleh Shoppee. Selain itu, Aditya mengatakan perusahaan menyediakan layanan berbasis lokasi yang bisa membantu pengguna mencari toko penjual terdekat dari tempat tinggal mereka dan dikirim langsung melalui layanan same day service. Perusahaan pun menawarkan berbagai program seperti gratis ongkos kirim, pengiriman lebih cepat, flash sale sembako 50%, dan sebagainya.

Vice President Public Relations Blibli Yolanda Nainggolan mengatakan perusahaan juga mempunyai sejumlah strategi dalam menghadapi normal baru. "Kami akan menyiapkan tiga hal, yaitu meluncukan fitur dan layanan inovatif, mendukung pertumbuhan bisnis para seller, mulai dari FMCG hingga UMKM, serta berperan dalam program pemerintah khususnya dalam membantu UMKM go online," ujar Yolanda kepada Katadata.co.id, Jumat (12/6). 

Yolanda mengatakan, perusahaan bakal memperluas layanan logistiknya. Salah satunya, perusahaan telah meluncurkan Scheduled Delivery, yakni fitur yang memungkinkan pelanggan dapat memilih waktu pengiriman produk BlibliMart (groceries) untuk sampai di depan rumah.

Fitur ini tersedia di Jabodetabek dan delapan kota lainnya, yaitu Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Deli Serdang, Makassar, dan Denpasar. Selain itu, perusahaan memperkenalkan metode pembayaran baru yaitu PayLater.

Yolanda mengatakan perusahaan juga meluncurkan berbagai produk baru salah satunya yakni Virtual Tour di Kategori Tour & Travel, yakni paket perjalanan di mana pelanggan bisa mengikuti tur domestik dan internasional yang dilakukan melalui live video streaming. Perusahaan pun menggiatkan sejumlah inisiatif guna mempermudah pengusaha untuk berjualan online. Mulai dari layanan warehousing hingga pengiriman, membuka kesempatan bisnis dari rumah, meniadakan komisi untuk produk terkait Covid-19 seperti masker, herbal dan produk makanan, hingga mengadakan pelatihan literasi digital bagi para UMKM.

Selain itu, ia melanjutkan, perusahaan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra pemerintah seperti dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KemenkopUKM) untuk memperkenalkan para UMKM binaannya ke platform online.

Menanggapi riset Facebook dan Bain & Company, Yolanda mengatakan perusahaan melihat bahwa pelanggan menggunakan berbagai platform online untuk berbelanja mulai dari media sosial hingga e-commerce. "Namun, e-commerce menyediakan pengalaman berbelanja yang berbeda dibandingkan media sosial karena platform e-commerce memang dirancang untuk menonsumsi dan bertransaksi produk ritel," ujar dia.

Apalagi, ia melanjutkan, secara garis besar e-commerce melakukan proses verifikasi kepada para mitra penjual untuk menjaga kualitas produk dan layanan yang diterima pelanggan. Selain itu, menurut Yolanda, platform e-commerce juga sudah otomatis terhubung pada sistem pembayaran dan logistik yang memberikan pelanggan dan mitra penjual pengalaman ritel yang mudah dan nyaman.

(Baca: Peminat Barang Impor Capai 30%, E-Commerce Dorong Produk Lokal)

Sebagai informasi, Riset Facebook dan Bain & Company menunjukkan, 44% konsumen di Asia Tenggara, yang merupakan pengguna internet, berbelanja bahan pokok secara online selama pandemi corona. Kedua perusahaan memperkirakan, kebiasaan ini masih akan menjadi tren meski memasuki normal baru.

“Tren ini akan tetap ada,” demikian dikutip dari laporan bertajuk 'Southeast Asia Digital Consumer Trends That Shape the Next Normal', Rabu (10/6).

Hal itu terjadi karena sebagian besar masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah guna menekan penyebaran virus corona. Selain itu, 77% konsumen tersebut lebih sering menyiapkan makanan di rumah, ketimbang membeli ataupun makan di restoran.

Riset tersebut berdasarkan data survei YouGov di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam pada April 2020. Penelitian itu mengamati para konsumen yang telah berbelanja secara online selama enam bulan terakhir, termasuk wawancara dengan para petinggi perusahaan dan modal ventura.

Berdasarkan riset tersebut, berbelanja melalui media sosial meningkat 35% dibanding sebelum pandemi Covid-19. Lalu, melalui video streaming tumbuh 35%, aplikasi percakapan seperti WhatsApp 30%, e-commerce 23%, dan pesan-antar makanan seperti GoFood dan GrabFood naik 17%.

 

Reporter: Cindy Mutia Annur

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait