Dapat Pinjaman Rp 4,68 Triliun, Geo Dipa Tambah Kapasitas PLTP 110 MW

Geo Dipa mendapat pinjaman US$ 300 juta atau sekitar US$ 4,19 triliun dari Asian Development Bank untuk membangun pembangkit listrik panas bumi.
Image title
8 Juni 2020, 16:56
geo dipa, energi baru terbarukan, energi bersih, panas bumi
ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Ilustrasi, Instalasi sumur panas bumi milik PT Geo Dipa Energi di dataran tinggi Dieng Desa Pranten, Bawang, Batang, Jawa Tengah, Senin (13/1/2020). Geo Dipa mendapatkan pinjaman Rp 4,68 triliun dari ADP untuk menambah kapasitas PLTP 110 MW.

PT. Geo Dipa Energi (Persero) bakal menambah kapasitas pembangkit listrik panas bumi atau PLTP hingga 110 megawatt (MW). Penambahan kapasitas tersebut berasal dari proyek PLTP Dieng Unit 2 dan Patuha Unit 2 dengan rincian masing-masing sebesar 55 MW.

Untuk mendanai proyek tersebut, Geo Dipa mendapatkan persetujuan pinjaman dari ADB sebesar US$ 300 juta atau setara Rp 4,19 triliun. ADB juga mengelola pinjaman dari Clean Technology Fund (CTF) sebesar US$ 35 juta atau sekitar Rp 489,5 miliar untuk proyek tersebut pada 28 Mei 2020. 

Penandatanganan pendanaan direncanakan akan dilaksanakan pada bulan ini. Pinjaman antara ADB dan Geo Dipa merupakan pinjaman business to business (B to B) atau direct lending. Dengan adanya persetujuan tersebut, diharapkan akan meningkatkan kapasitas GeoDipa dalam mengembangkan energi yang ramah lingkungan di Indonesia.

Direktur Utama PT. Geo Dipa, Riki Firmandha Ibrahim mengatakan proyek tersebut sangat strategis bagi pengembangan investasi panas bumi di Indonesia. "Serta berperan mendukung upaya pemerintah untuk menarik investasi sektor swasta di sektor ini,” ujar Riki berdasarkan keterangan tertulis, Senin (8/6).

Advertisement

Kedua proyek tersebut sudah dipersiapkan sejak kuartal keempat 2019 dengan proses pendanaan, perencanaan proyek, dan pembuatan dokumen pengadaan. Adapun rencananya akitivitas fisik proyek akan dimulai pada tahun ini hingga 2023.

 (Baca: DPR Desak Pemerintah Capai Target Bauran Energi 23% Meski Ada Pandemi)

(Baca: Demi Tarik Investasi, Kementerian ESDM Kebut Aturan Tarif Panas Bumi)

Lebih lanjut, Riki menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional yang menyediakan listrik ramah lingkungan dalam jaringan Jawa Bali. Dengan adanya proyek tersebut, tingkat emisi CO2 bisa berkurang lebih dari 700,000 ton per tahunnya. Selain itu, dapat mengurangi impor minyak setara dengan 35 juta Bbl BBM untuk 25 tahun.

Di sisi lain, Spesialis Senior untuk Energi di Departemen Asia Tenggara ADB Shannon Cowlin mengatakan proyek yang disetujui di tengah pandemi virus corona ini akan membantu pemulihan ekonomi Indonesia. DItambah proyek tersebut merupakan proyek ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bertahan.

Oleh karena itu, ADB bakal turut serta membantu dalam merealisasikan transisi energi bersih sebagai bagian penting pemulihan Indonesia dari pandemi. “Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja bagi para pemasok barang dan jasa di industri panas bumi, minyak, dan gas,” katanya.

Sementara itu, Direktur ADB untuk Indonesia Winfried F. Wicklein menyampaikan proyek panas bumi tersebut akan membantu Indonesia memerangi perubahan iklim. Selain itu, sistem kelistrikan di Indonesia bisa berkelanjutan, andal, dan efisien. Proyek pengembangan ini juga akan mendorong peningkatan dunia usaha dan konsumen untuk mengakses energi yang terjangkau, andal, dan modern. 

(Baca: Energi Panas Bumi Solusi Mengatasi Impor BBM)

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait