Asosiasi Panas Bumi Gelar Konvensi Bahas Tantangan Bisnis Saat Pandemi

Pelaku usaha menghadapi tantangan dalam mengembangkan panas bumi karena pandemi corona.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
6 Agustus 2020, 15:55
panas bumi, pandemi corona
ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Ilustrasi, area instalasi sumur Geothermal atau panas bumi. Asosiasi Panas Bumi Indonesia atau API akan menggelar konvensi digital yang fokus membahas sejumlah tantangan bisnis di tengah pandemi corona.

Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) akan menyelenggarakan Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC) 2020. Acara tersebut menjadi ajang pelaku usaha mencari solusi pengembangan bisnis panas bumi di tengah pandemi corona.

Ketua Pelaksana Digital Indonesia International Geothermal Convention (DIIGC) 2020 Eko Agung Bramantyo mengatakan penyebaran Covid-19 menjadi tantangan dalam mengembangkan proyek panas bumi pada tahun ini. Oleh karena itu, ajang DIIGC yang digelar berbarengan dengan pertemuan ilmiah API, akan fokus membahas tantangan saat pandemi dan setelah pandemi.

Selain itu, pelaku usaha akan berbagi pengalaman mengenai kebijakan-kebijakan yang aktraktif terhadap isu global. Terakhir, acara tersebut bakal menjembatani pelaku bisnis yang berkomitmen investasi dengan lembaga pendanaan.

Ketua Umum API Prijandaru Effendi berharap acara DIIGC dapat dijadikan momentum bagi pelaku usaha panas bumi di Indonesia ikut berperan dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan begitu, industri panas bumi dapat membantu meningkatkan keekonomian dalam negeri.

Apalagi Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber daya energi panas bumi. Hingga 2019, total kapasitas panas bumi yang terpasang sudah lebih dari 2000 megawatt (MW). Hal itu menjadikan Indonesia peringkat kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, sebagai produsen energi panas bumi terbesar.

 

Di sisi lain, Direktur Jenderal EBTKE F.X. Sutijastoto menyatakan bahwa pemerintah senantiasa memberikan dukungan bagi pengembangan panas bumi. dalam mencapai pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dia pun berharap pemerintah dan pelaku usaha bersama-sama berkomitmen mengambil langkah-langkah strategis, terukur, dan berkelanjutan untuk mencapai target pengembangan panas bumi hingga 2025.

Sutijastoto mengatakan Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE bakal terus menjalin komunikasi dengan para pemangku kepentingan, kementerian lembaga terkait, pemerintah daerah,terutama dengan API, yang selama ini telah menjadi mitra penting dalam pengembangan energi panas bumi.

Acara yang dilaksanakan pada 8 - 10 September 2020 mendatang itu akan digelar melalui aplikasi Zoom. API menargetkan acara tersebut dapat menggaet 1.000 peserta.

Tema yang diangkat dalam acara tersebut yaitu “The Future is Now: Committing Geothermal Energy for Indonesia’s Sustainable Development”. Acara tersebut bakal meliputi program Virtual Convention, Virtual Technical Paper Presentation (TPC), Virtual Field Trip, dan Virtual Workshop.

Program TPC memberikan kesempatan pada para akademisi dan juga profesional untuk mempresentasikan isu-isu teknikal maupun perkembangan teknologi up to date terkait industri panas bumi. Hal itu berdasarkan topik-topik yang mereka pilih termasuk studi kasus.

Selain itu, aa kegiatan Virtual Field Trip ke wilayah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Lumut Balai, Sumatera Selatan yang dioperasikan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Acara tersebtu akan menyajikan kunjungan lapangan yang unik karena dilaksanakan secara virtual.

Disamping Itu akan dilaksanakan juga virtual workshop bersertifikasi yang akan menghadirkan para instuktur-instruktur yang kompeten. Dalam acara ini akan dibahas mengenai isu terkini, baik teknlogi maupun metode-metode baru terkait pengembangan panas bumi.

API awalnya akan menggelar Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE). Namun, pandemi  Covid-19 menyebabkan kegiatan tersbeut diundur hingga tahun depan.

API pun menggantinya dengan DIIGC 2020. Acara forum panas bumi itu akan menjadi forum yang mempertemukan lembaga pemerintah, pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, investor, perusahaan jasa, akademisi, dan pakar industri panas bumi. Pertemuan tersebut bakal fokus membahas keahlian, pengalaman, serta perkembangan teknologi terbaru mengenai industri panas bumi.

 

Video Pilihan

Artikel Terkait