Aturan Baru Sambut IPO Unicorn dan Hilangnya Momentum Bursa Global

Lavinda
Oleh Lavinda
29 Juli 2021, 16:09
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusun aturan baru untuk unicorn, yakni struktur permodalan saham kelas ganda (dual class share) dengan saham hak suara multipel atau multiple voting shares (MVS).
ANTARA FOTO/REUTERS/Brendan McDermid/WSJ/dj
Brendan McDermid /WSJ/ Fasad depan gedung Pasar Bursa Saham New York (NYSE) terlihat di Kota New York, Amerika Serikat, Senin (29/3/2021).

Di Singapura, MVS baru diterapkan pada 2018, dengan satu perusahaan tercatat, yang sebelumnya sudah tercatat di bursa AS. Sama seperti Singapura, Bursa Hong Kong juga memberlakukan MVS pada 2018 dengan 5 perusahaan yang pertama kali IPO, dan 7 perusahaan dari bursa AS.

Di Shanghai stock exchange China, aturan MVS berlaku pada 2018 untuk menyambut dua perusahaan. Sementara itu, aturan MVS di Bursa Shenzen China baru berlaku pada 2020 dan belum ada perusahaan yang IPO.

Advertisement

di Jepang, bursa Negeri Sakura sudah menerapkannya sejak 2008 dan merevisi pada 2014. Namun, hanya ada satu perusahaan yang tercatat dengan struktur tersebut.

Berdasarkan data BEI, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia bisa bertambah hingga Rp 553,9 triliun jika enam unicorn yang ada di Indonesia mencatatkan sahamnya di bursa nasional. Nilai itu tercatat 7,69% dari total kapitalisasi pasar yang ada saat ini sebesar Rp 7.279 triliun. Asumsi nilai kapitalisasi diperoleh dari perkiraan nilai valuasi terkini dan data kapitalisasi pasar per 16 Juli 2021.

"Manfaat bagi pasar modal jika unicorn IPO (initial public offering), salah satunya pottensi peningkatan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp 553,9 triliun," ujar Aditya.

Dari 12 unicorn yang terdapat di kawasan Asia Tenggara, enam di antaranya berada di Indonesia. Aditya mengklaim Indonesia menjadi penghasil perusahaan unicorn terbanyak di kawasan ini "12 unicorn di Asia memiliki valuasi pre-IPO gabungan sebesar US$ 38,2 miliar," katanya.

Sejumlah perusahaan unicorn yang ada di Indonesia antara lain, Bukalapak, Traveloka, J&T Express, JD.id, dan OVO. Sementara itu, perusahaan gabungan antara Gojek Indonesia dan Tokopedia, GoTo, kini masuk ke dalam jajaran decacorn.

Di kawasan Asia Tenggara, terdapat 70 perusahaan centaur atau perusahaan rintisan (startup) dengan valuasi US$ 100 juta - US$ 1 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak 39% atau 27 perusahaan di antaranya berasal dari Indonesia.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement