Saham Emiten Sawit TAPG, SIMP hingga AALI Menguat Ditopang Lonjakan Harga CPO

Karunia Putri
20 Agustus 2025, 19:40
saham
Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/8/2025). IHSG ditutup naik 72,53 poin atau 0,96% ke level 7.605 pada perdagangan di awal pekan ini.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga saham sejumlah emiten pengelola sawit melonjak dalam tiga bulan terakhir seiring kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Pada perdagangan Rabu (20/8), harga CPO terkoreksi 1% ke level 4.476 ringgit Malaysia per ton. Namun, dalam tiga bulan terakhir, harga komoditas ini sudah melesat 14,33% ditopang oleh peningkatan permintaan dari India dan Cina serta pengetatan pasokan dari Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten sawit ikut terdongkrak. Saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 2,61% atau 40 poin ke level 1.575, menyentuh posisi tertinggi sejak awal tahun. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham TAPG telah melonjak 65,79% dan 105,88% sejak awal tahun.

Namun saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) stagnan di level 7.400. Meski demikian, dalam tiga bulan terakhir saham AALI sudah naik 23,33% dan menguat 19,35% secara year to date.

Adapun saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) naik 2,29% atau 15 poin ke level 670. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham SIMP tercatat melonjak 58,77% dan melesat 77,25% sejak awal tahun.

Prospek dan Target Harga

Mengutip Bloomberg, Direktur Penjualan Manzoor Trading, Abdul Hameed menyebut kenaikan harga CPO didorong oleh kuatnya permintaan dari Cina dan aksi restocking India menjelang perayaan Diwali pada Oktober 2025. Dari sisi suplai, kenaikan harga juga dipengaruhi pengetatan pasokan dari Indonesia seiring rencana implementasi campuran biodiesel B50 dan penyitaan lahan sawit ilegal.

Stockbit Sekuritas menyebutkan bahwa dalam jangka pendek, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperkirakan harga CPO global akan bertahan di atas 4.300 ringgit Malaysia per ton. Prospek ini didukung oleh berkurangnya pasokan ekspor CPO dan minyak kedelai sebagai substitusi, seiring meningkatnya permintaan biodiesel di Indonesia, Amerika Serikat, dan Brasil.

MPOB memproyeksikan program B50 akan mendorong tambahan permintaan CPO di Indonesia sebesar 3 juta ton per tahun mulai 2026. Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan kenaikan pasokan global yang diperkirakan hanya 1,6 juta ton.

Selain itu, konsumsi minyak kedelai AS untuk biodiesel diperkirakan meningkat 17%, dari 6 juta ton pada 2024 menjadi 7 juta ton pada 2026. Ini akan menjadi pertama kalinya sekitar 50% produksi minyak kedelai AS dialokasikan untuk biodiesel. Sementara itu, Brasil juga menaikkan kewajiban campuran biodiesel dari 14% menjadi 15%, efektif per 1 Agustus 2025.

Dari sisi rekomendasi, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan TAPG berpotensi menguat menuju target harga Rp 1.600 – Rp 1.650 dalam waktu dekat. AALI diproyeksikan menuju Rp 7.600 – Rp 7.777, sedangkan SIMP dipatok di kisaran Rp 750 – Rp 790 per saham.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...