Dolar AS Makin Perkasa, Bitcoin Rontok

Hari Widowati
17 April 2024, 17:19
Ilustrasi dollar vs bitcoin
vecteezy.com/sasirin pamai
Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mengincar rekor lima hari terbaiknya sejak Februari 2023, sementara Bitcoin (BTC) mengalami penurunan selama kurun waktu tersebut.
Button AI Summarize

Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mengincar rekor lima hari terbaiknya sejak Februari 2023, sementara Bitcoin (BTC) mengalami penurunan selama kurun waktu tersebut. Proyeksi suku bunga acuan bank sentral AS yang bakal tetap tinggi turut menekan laju Bitcoin menjelang halving pada 20 April.

The Kobeissi Letter menyebut penguatan dolar AS kemungkinan besar didorong oleh ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dan berkelanjutan. "Kurang dari sebulan yang lalu, pasar mengantisipasi The Fed akan mulai memangkas suku bunga di bulan Juni. Tetapi, suku bunga akan menjadi lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama," tulis The Kobeissi Letter dalam sebuah unggahan di X, Rabu (17/4).

Rencana pemangkasan suku bunga acuan AS mundur hingga September dan diperkirakan hanya akan berlangsung dua kali, lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya sebanyak tiga kali.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong investor asing untuk mengambil keuntungan dari imbal hasil yang lebih besar dari obligasi dan deposito berjangka, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Bloomberg Dollar Spot Index (BBDXY), yang mengikuti pergerakan dolar AS terhadap sepuluh mata uang utama, sudah naik sekitar 2% dalam lima hari terakhir. Sementara itu, sejak awal tahun ini BBDXY sudah naik 5%.

Menurut BBDXY, skor Indeks Dolar AS berada di 106,34, meningkat dari 105,28 lima hari sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa dolar AS telah menguat terhadap sembilan mata uang lainnya, antara lain euro, poundsterling Inggris, dan yen Jepang.

Sementara itu, data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin telah mengalami penurunan harga sebesar 9% selama lima hari terakhir menjadi US$63.936 (Rp 1,02 miliar). Meskipun tidak selalu berkorelasi, Bitcoin dan dolar telah menunjukkan hubungan terbalik selama bertahun-tahun.

Reuters melaporkan, Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell mengatakan tingkat inflasi negara tersebut - saat ini 3,5% - tidak bergerak ke arah target 2% dari bank sentral. Ini berarti The Fed akan membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk memangkas suku bunga acuannya.

CoinTelegraph mengutip unggahan trader Justin Spittler di X pada 16 April bahwa setiap kali dolar AS mencapai "level overbought", maka dengan cepat diikuti oleh koreksi Bitcoin yang signifikan.

Bitcoin, yang dipandang sebagai aset yang fluktuatif, biasanya mengalami lonjakan permintaan ketika dolar AS melemah.

Namun, faktor lain ikut berperan dengan Bitcoin halving yang dijadwalkan berlangsung tiga hari lagi, yakni 20 April 2024. Halving adalah sebuah proses yang mengurangi jumlah imbalan yang diberikan kepada penambang (miner) per blok sebesar 50%.

Tiga hari sebelum tahun 2020, dominasi Bitcoin - rasio kapitalisasi pasar Bitcoin dibandingkan dengan kapitalisasi pasar kumulatif semua mata uang kripto lainnya - mencapai 15% lebih tinggi dari level saat ini.

Pada saat itu, dolar AS 6% lebih lemah pada saat itu dibandingkan dengan kekuatannya saat ini. Menurut CoinStats, dominasi Bitcoin saat ini mencapai 52%.

Sementara itu, kenaikan dolar AS selama lima hari terakhir juga membuat sentimen pasar kripto yang dilacak oleh Crypto Fear & Greed Index turun 11 poin sejak 10 April.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...