Rupiah Melemah Rp 18.000 per Dolar saat Mata Uang Regional Menguat, Ini Kata BI
Rupiah tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Kamis (4/6), di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan tingginya kebutuhan valuta asing domestik.
Melansir Bloomberg pada pukul 13.26 WIB, rupiah berada di level Rp 18.046 per dolar AS atau melemah 0,44% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS.
Pada perdagangan hari ini, selain rupiah dan ringgit Malaysia yang melemah, sejumlah mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,44% ke posisi MYR 4.015 per dolar AS.
Dong Vietnam menguat 0,03% ke posisi VND 26.335 per dolar AS, Baht Thailand menguat 0,24% ke posisi THB 32,66 per dolar AS, peso Filipina menguat 0,24% ke posisi PHP 61,599 per dolar AS, yuan Cina menguat tipis 0,04% ke posisi CNY 6,775 per dolar AS
Menanggapi kondisi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi eskalasi konflik Timur Tengah yang kembali meningkat.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara-negara berkembang (emerging market),” ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6).
Selain faktor eksternal, Destry mengatakan kebutuhan domestik terhadap dolar AS juga masih cukup besar, terutama untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).
BI Siapkan Berbagai Instrumen untuk Intervensi Pasar
Menurut dia, BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen intervensi.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” katanya.
BI akan melakukan intervensi secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market agar tetap menarik bagi aliran modal asing ke aset domestik.
Destry mengatakan koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
BI juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Saat ini kerja sama LCT telah dilakukan dengan sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan. Pada April 2026 nilainya mencapai sekitar US$ 22,7 miliar dibandingkan full year tahun lalu sekitar US$ 25,7 miliar,” ujar Destry.
Ia menambahkan, secara umum pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional. Secara year to date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44%. Meski demikian, BI memastikan ketahanan eksternal Indonesia masih cukup kuat dengan posisi cadangan devisa yang tetap tinggi.
“Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026,” katanya.
