Terkerek Kesepakatan AS-Iran, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.708 per Dolar AS

Image title
15 Juni 2026, 16:31
rupiah, nilai tukar rupiah, perang iran vs as-israel
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menghitung uang rupiah di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah ditutup menguat ke level Rp 17.708 per dolar AS pada perdagangan Senin (15/6) sore seiring melemahnya indeks dolar Amerika Serikat (AS).  Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut AS dan Iran sudah sepakat untuk mengakhiri perang di Timur Tengah menjadi sentimen yang positif dan menopang penguatan nilai tukar rupiah. 

Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 151 poin atau sekitar 0,85% ke level Rp 17.708 per dolar AS pada Senin (15/6), dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp 17.860 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 185 poin.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh melemahnya indeks dolar AS setelah Presiden AS Donald Trump dan pejabat tinggi Iran mengumumkan telah tercapainya kesepakatan awal untuk mengakhiri perang, serta membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Menurutnya, AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada pekan ini. Kesepakatan tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama lebih dari tiga bulan mengalami gangguan akibat konflik.

“Trump mengatakan pada hari Minggu (14/6) bahwa Selat Hormuz akan dibuka bebas biaya dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan berakhir,” kata Ibrahim.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair global. Karena itu, setiap perkembangan menuju normalisasi lalu lintas energi langsung direspons positif oleh pasar.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada agenda sejumlah bank sentral dunia pekan ini, terutama keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

“Bank sentral seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin selama tahun ini. Namun, penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE), dan Federal Reserve (Fed), untuk memperketat kebijakan,” ujarnya.

Penurunan Harga Minyak Dunia Kurangi Tekanan Fiskal

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai turunnya harga minyak mentah dunia hingga berada di bawah level US$ 80 per barel menjadi sentimen positif bagi perekonomian Indonesia.

Penurunan harga energi dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekaligus memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah.

Pasar juga mencermati potensi efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta rencana penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih hingga 50%.

Di sisi lain, stabilitas kondisi global turut mendorong meningkatnya minat masyarakat untuk melepas kepemilikan dolar AS dan beralih ke rupiah. Hal ini terjadi setelah adanya imbauan dari Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad agar masyarakat menukarkan simpanan dolar AS ke mata uang domestik guna mendukung stabilitas nilai tukar.

"Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat rupiah yang sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati level Rp 18.200 per dolar AS," kata Ibrahim.

Pelaku pasar saat ini juga menunggu hasil rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026.

Menurut Ibrahim, langkah pre-emptive tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global serta menahan potensi keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...