Wall Street Rontok Tiga Hari Berturut-turut Efek Data Tenaga Kerja AS

Nur Hana Putri Nabila
7 Desember 2023, 06:25
wall street, bursa saham AS
Pixabay/Rabbimichoel
Ilustrasi. Dow Jones Industrial Average turun 70,13 poin atau 0,19% ke level 36.054,43. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi sebesar 0,39% menjadi 4.549,34, dan Nasdaq Composite turun 0,58% menjadi 14.146,71.

Indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) turun selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu (6/12). Investor bereaksi terhadap data terbaru yang menunjukkan penurunan inflasi dan laporan pekerjaan yang mengkhawatirkan.

Mengutip CNBC, Dow Jones Industrial Average turun 70,13 poin atau 0,19% ke level 36.054,43. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi sebesar 0,39% menjadi 4.549,34, dan Nasdaq Composite turun 0,58% menjadi 14.146,71. Ini merupakan hari kerugian ketiga bagi 30 saham Dow dan S&P 500, pertama kalinya sejak Oktober.

Penurunan itu telah menimbulkan pertanyaan mengenai apakah reli yang terjadi pada akhir 2023 sedang mengalami jeda atau apakah pasar telah naik terlalu cepat dan terlalu jauh. Meskipun demikian, ketiga indeks utama AS ini diperkirakan menutup kuartal keempat dan tahun kalender dengan angka yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Saham-saham menurun  pada penutupan perdagangan meski  sebelumnya mengalami kenaikan. Indeks Dow Jones misalnya,  sempat naik hingga hampir 170 poin,  Selama hari itu, ketiga indeks bergerak naik turun. 

Pasar awalnya mendapat dorongan dari data ekonomi yang dirilis pada pagi hari. Penurunan biaya tenaga kerja memberikan efek positif pada pergerakan inflasi, sedangkan lonjakan produktivitas menandakan potensi ekonomi untuk menghindari resesi.

Selain itu, data penggajian swasta pada November dari Automatic Data Processing (ADP) memberikan indikasi terbaru bahwa pasar tenaga kerja, yang telah lama dianggap sebagai titik masalah bagi The Federal Reserve, mulai menunjukan tanda-tanda pemulihan

Kepala Strategi Pasar Global di Platform Investasi Online TradeStation, David Russell mengatakan data penggajian ADP menunjukkan bahwa kebijakan anti inflasi The Fed kini benar-benar mulai berlaku. Angka-angka ini menunjukkan adanya 'soft landing', suatu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat tetapi tetap stabil. Namun, ada kekhawatiran investor terkait potensi resesi jika kebijakan tetap terlalu agresif. 

“Ini adalah pertarungan yang harus dimenangkan oleh The Fed pada saat ini," kata Russel dikutip dari CNBC, Kamis (7/12). 

Namun, laporan dari ADP pada Rabu  itu hanyalah salah satu dari sejumlah data terkait tenaga kerja yang diperhatikan oleh para investor selama sepekan. Padahal pada Selasa (5/12) lalu, data dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan jumlah lapangan kerja yang tersedia pada Oktober turun ke level terendah sejak Maret 2021.

Investor juga akan memanrau angka klaim pengangguran pada hari ini, Kamis (7/12) sebelum kemudian memfokuskan perhatian pada data yang lebih luas terkait penggajian nonpertanian November. Data itu mencakup upah serta tingkat pengangguran yang akan dirilis pada Jumat (8/12).

"Tidak dapat dipungkiri bahwa data pada akhir pekan adalah yang ditunggu-tunggu oleh semua orang," kata Craig Erlam, Analis Pasar Senior di Oanda.

 Data pemerintah terbaru menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja mengalami penurunan yang lebih besar dari perkiraan para ekonom. Sementara produktivitas meningkat lebih tinggi di luar ekspektasi.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...