Keyakinan Konsumen AS Cetak Rekor, Rupiah Melemah ke 14.513 per US$
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,03% ke level Rp 14.490 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Rabu (28/4). Rupiah kian melemah setelah data survei kepercayaan konsumen Negeri Paman Sam melonjak.
Mengutip Bloomberg, rupiah kian melemah ke Rp 14.513 per dolar AS hingga pukul 10.00 wib. Mayoritas mata uang Asia turut melemah pagi ini. Yen Jepang turun 0,12%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,06%, won Korea Selatan 0,17%, peso Filipina 0,06%, yuan Tiongkok 0,05%, ringgit Malaysia 0,12%, dan baht Thailand 0,15%.
Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, membaiknya data survei tingkat kepercayaan konsumen AS bulan April membantu mendorong penguatan dolar AS. "Prospek pemulihan ekonomi negara tersebut semakin membaik," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (28/4).
Indeks dolar AS terlihat naik tipis 0,05% ke level 90.95 pagi ini. Mata uang Negeri Paman Sam pun menguat terhadap mayoritas mata uang utama seperti euro, pound Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss.
Di sisi lain, Ariston menyebutkan bahwa imbal hasil alias yield obligasi AS kembali naik ke 1,63%. Peningkatanyield terjadi menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Fed pada Kamis dini hari nanti.
Menurut dia, ekspektasi bahwa The Fed akan memberikan gambaran pemulihan ekonomi dan kenaikan inflasi yang lebih positif kemungkinan mendorong kenaikan yield. "Potensi pelemahan rupiah ke kisaran Rp 14.530 dengan potensi support di sekitar Rp 14.460 per dolar AS," ujar dia.
Reuters melaporkan, tingkat kepercayaan konsumen AS mencetak rekor tertinggi sejak Februari 2020. Data Conference Board menunjukkan, indeks kepercayaan Negeri Adidaya naik menjadi 121,7 pada bulan April 2021 dari 109 pada revisi bulan sebelumnnya dan proyeksi para ekonom di level 112.
Kenaikan tersebut ditopang optimisme percepatan vaksinasi, menurunnya kasus harian Covid-19, dan pemulihan ekonomi AS yang tidak terduga. Dengan demikian, kecemasan masyarakat di sana mulai reda.
Di sisi lain, saham Asia bergerak beragam karena penilaian yang sudah tinggi. Hal tersebut membuat investor enggan membeli ekuitas menjelang pertemuan Fed yang diawasi ketat.
Ketua Fed Jerome Powell diharapkan kembali menegaskan bahwa kebijakan moneter yangakan tetap berlaku untuk periode yang lama. Selain itu, pengurangan pembelian obligasi kemungkinan tidak akan terjadi.
"Kami memperkirakan nada Fed pada ekonomi menjadi lebih positif pada pertemuan nanti, mencerminkan kenaikan data yang sedang berlangsung, tetapi kami tidak mengharapkan sinyal baru yang substantif tentang penurunan," tulis Analis TD Securities dalam sebuah catatan penelitian.
Presiden AS Joe Biden juga akan berpidato di sesi gabungan kongres. Di sana ia akan berkomentar tentang tambahan belanja infrastruktur dan stimulus. Perkembangan tersebut biasanya akan berdampak positif bagi saham, tetapi analis mengatakan begitu banyak optimisme ekonomi sudah diperhitungkan ke pasar ekuitas sehingga sulit untuk membeli saham lebih jauh dari level saat ini.
