Rupiah Dibuka Melemah ke 14.868/US$ Jelang Rilis Data Inflasi AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 15 poin ke level Rp 14.868 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Pelemahan terjadi di tengah penantian pasar terhadap rilis data inflasi AS malam ini.
Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan pelemahan ke arah Rp 14.870 pada pukul 09.15 WIB. Ini semakin jauh dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.853 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Rupee India terkoreksi paling dalam 0,52% disusul peso Filipina 0,36%, won Korea Selatan 0,26%, dolar Taiwan 0,12%, yuan Cina 0,06%, ringgit Malaysia 0,05% dan yen Jepang 0,01%. Sebaliknya, baht Thailand menguat 0,23% bersama dolar Singapura 0,05%.. Sedangkan nilai tukar dolar Hong Kong stagnan.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah bisa tertekan ke arah Rp 14.880-Rp 14.900 seiring penantian pasar terhadap rilis data inflasi AS. Namun, nilai tukar juga bisa menguat ke arah Rp 14.830 terdorong sentimen data ekonomi domestik yang berkinerja baik.
"Bila data inflasi AS di atas 9% yoy, dolar AS bisa menguat lagi karena pasar berekspektasi the Fed akan kembali agresif menaikan bunga acuannya," kata Ariston dalam risetnya, Rabu (10/8).
Perkiraan Dow Jones, inflasi harga konsumen di AS sudah mencapai puncaknya dan mereda pada bulan Juli. Inflasi diperkirakan turun ke 8,7% secara year-on-year pada Juli, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 9,1%. Namun, inflasi inti diperkirakan masih akan lebih tinggi dari bulan Juni 5,9% menjadi 6,1% pada Juli.
Ariston menyebut kekhawatiran terhadap data inflasi AS ini bisa diredakan dengan sentimen positif pasar terhadap perekonomian Indonesia. Data pertumbuhan ekonomi Kuartal II yang dirilis akhir pekan lalu masih bisa menahan pelemahan rupiah hari ini.
Analis Bank Mandiri Reny Eka Putri memperkirakan rupiah bisa bergerak menguat hari ini ke rentang Rp 14.835-Rp 14.902 per dolar AS. Senada dengan Ariston, sentimen penguatan bersumber dari data ekonomi domestik yang positif.
Ia menyebut, kinerja konsumsi masyarakat dan ekspor yang meningkat telah mendukung pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II yang mencapai 5,44%. "Perkembangan ini direspons positif oleh pelaku pasar sehingga modal asing kembali masuk ke pasar domestik dan mendukung penguatan rupiah," kata Reny.
Selain dari internal, pergerakan rupiah hari ini juga dibayangi sentimen eksternal terutama kenaikan suku bunga The Fed. Anggota Dewan Gubernur The Fed Michelle Bowman mengatakan bahwa bank sentral masih mungkin menaikkan suku bunga sampai inflasi melandai. Ia bahkan menyebut kenaikan dengan besaran yang sama dengan keputusan sebelumnya, 75 bps, masih mungkin dilakukan.
