Rupiah Tertekan Usai Sri Mulyani Dicopot, Investor Tunggu Aksi Menkeu Baru
Rupiah diprediksi masih melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini (10/9). Sentimen utama datang dari pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan, yang kini digantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Kondisi dalam negeri masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah terutama seputar pencopotan menteri keuangan Sri Mulyani,” kata analis pasar uang Ariston Tjendra kepada Katadata.co.id, Rabu (10/9).
Menurut dia, transisi di Kementerian Keuangan memberikan sentimen negatif ke pasar. Ariston mengatakan, pasar masih ingin melihat terlebih dahulu kemampuan menteri keuangan yang baru.
Dari sisi global, dolar AS masih tertekan, karena ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September. “Jadi mungkin tekanan dolar AS ke rupiah bisa terbatas,” ujar Ariston.
Oleh karena itu, ia memproyeksikan rupiah masih tertekan namun terbatas di level Rp 16.480 per dolar AS. Pergerakan ini dengan potensi support di sekitar Rp 16.380 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka menguat pada level Rp 16.469 per dolar AS. Level ini naik 12 poin atau 0,07% dari penutupan sebelumnya.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga memproyeksikan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. “Ini dipicu oleh kekhawatiran fiskal pemerintah Indonesia pasca-penggantian Bu Sri Mulyani,” ujar Lukman.
Lukman memperkirakan rupiah berada di level Rp 16.400 hingga Rp 16.550 per dolar AS.
Peneliti mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga memperkirakan rupiah masih melanjutkan pelemahan. “Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.480 hingga Rp 16.540 per dolar AS,” kata dia.
Menurut Ibrahim, pencopotan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan memicu kekhawatiran investor global atas arah fiskal Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto. Ibrahim menyebut Sri Mulyani adalah simbol stabilitas dan kepastian bagi investor domestik maupun.
“Sri Mulyani merupakan jangkar sentimen investor berkat pengalaman dan rekam jejaknya, berbagai krisis mulai dari anjloknya rupiah pada 2018 hingga pandemi Covid-19, selalu tampil sebagai figur yang menenangkan pasar,” kata Ibrahim.
