BPS Ungkap Penyebab Ekonomi Melambat ke 5,04%: Konsumsi dan Investasi Lesu

Rahayu Subekti
5 November 2025, 14:56
ekonomi
ANTARA FOTO/Andri Saputra/agr
Pedagang menyortir bawang merah di Pasar Barito Ternate, Maluku Utara, Kamis (23/10/2025). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dari 38 provinsi di Indonesia sebanyak 25 provinsi berhasil menjaga tekanan inflasi tetap dalam kisaran level nasional sementara itu Sumatera Utara mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 5,32 persen dan Maluku Utara mengalami deflasi 0,17 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 hanya mencapai 5,04% secara tahunan (year on year/yoy). Laju ini melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,12% yoy.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud menjelaskan perlambatan ini merupakan tren musiman yang lazim terjadi setiap kuartal III.

“Pada kuartal III selalu lebih rendah dibandingkan kuartal II,” kata Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/11).

Menurutnya, pelemahan terutama terlihat dari konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang masih lesu. Padahal kedua komponen tersebut memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, yakni 82,23% dari total PDB kuartal III 2025.

Konsumsi Rumah Tangga Turun Tipis

Konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dengan menyumbang 2,54% terhadap PDB. Namun, lajunya melambat menjadi 4,89%, dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,97% dengan kontribusi 2,64%.

“PKRT secara kuartalan dan tahunan memang mengalami perlambatan,” ujar Edy.

BPS mencatat sejumlah komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) mengalami perlambatan tahunan, seperti makanan dan minuman selain restoran, kesehatan dan pendidikan, transportasi dan komunikasi, serta restoran dan hotel.

Secara kuartalan, kelompok makanan dan minuman selain restoran, pakaian dan alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, serta restoran dan hotel juga tercatat menurun.

“Jadi ini yang mengalami pelemahan (untuk PKRT) secara tahunan maupun kuartalan,” kata Edy.

Meski demikian, konsumsi untuk transportasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,41%, didorong oleh peningkatan mobilitas penduduk, penjualan bahan bakar, dan jumlah penumpang angkutan rel serta laut.

Investasi Melambat, Tapi Masih Tumbuh Positif

Komponen PMTB atau investasi yang mencakup pengeluaran untuk barang modal, seperti bangunan dan mesin, tumbuh 5,04% pada kuartal III 2025. Namun, angka ini turun dari kuartal sebelumnya yang mencapai 6,99%.

“Komponen yang mempengaruhi adalah jenis barang modal, mesin, dan perlengkapan,” ujar Edy.

Meski melambat, PMTB tetap tumbuh positif, terutama pada subkomponen mesin dan perlengkapan yang naik 17%, serta kendaraan yang meningkat 6,24%.

“Pertumbuhan PMTB juga sejalan dengan peningkatan realisasi investasi BKPM sebesar 13,89%,” kata Edy.

Ketidakpastian Politik dan Inflasi Makanan Tekan Konsumsi

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh ketidakpastian politik pada akhir Agustus 2025 yang memengaruhi kepercayaan konsumen.

“Ini meredam kepercayaan konsumen, serta normalisasi dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring melambatnya impor barang modal,” kata Josua.

Menurutnya, beberapa faktor positif seperti penjualan ritel yang kuat, penjualan sepeda motor, dan kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan sempat menahan penurunan lebih dalam. Namun dampaknya diimbangi oleh penurunan penjualan mobil, inflasi makanan yang meningkat, dan berakhirnya pola musiman Idulfitri pada kuartal II 2025.

“Penurunan kepercayaan konsumen ini terjadi di tengah ketidakpastian politik, inflasi makanan yang meningkat, dan normalisasi pola musiman perayaan keagamaan,” katanya.

Sementara itu, perlambatan PMTB juga dipicu oleh penurunan konsumsi semen dan melemahnya impor barang modal. Meski begitu, Josua menilai PMI manufaktur yang kembali di atas 50 menjadi sinyal positif bagi investasi.

Peneliti makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menambahkan perlambatan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2025 juga terjadi karena hilangnya faktor musiman yang kuat pada kuartal sebelumnya.

“Pada kuartal II ada dorongan dari liburan panjang dan perayaan keagamaan, termasuk Idulfitri dan liburan sekolah. Faktor itu tidak terjadi lagi di kuartal III,” kata Riefky.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...