BI Sudah Naikkan Suku Bunga 100 Bps, Apakah Masih Akan Naik Lagi?
Keputusan Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% memunculkan pertanyaan: apakah siklus kenaikan suku bunga masih akan berlanjut?
Dengan kenaikan terbaru tersebut, BI telah mengerek suku bunga hingga total 100 bps hanya dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026, kemudian kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026, sebelum kembali naik menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17-18 Juni 2026.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga masih terbuka meskipun sejumlah risiko global mulai mereda.
Menurut David, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memang memberikan sinyal positif karena mengurangi kemungkinan terjadinya lonjakan inflasi global yang ekstrem. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan BI untuk menjaga stabilitas makroekonomi domestik.
"Kesepakatan AS-Iran memberikan sinyal positif tidak terjadinya skenario ekstrem kenaikan inflasi. Namun, BI sebenarnya masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menjamin stabilitas dan daya tarik aset rupiah sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan," ujar David kepada Katadata.co.id, Jumat (19/6).
Pandangan lain disampaikan Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman. Menurutnya, arah kebijakan BI selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan risiko global maupun domestik dalam beberapa bulan ke depan.
Faisal menilai kenaikan suku bunga pada Juni mencerminkan langkah antisipatif BI untuk meredam kenaikan premi risiko aset keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama setelah sikap Federal Reserve yang lebih hawkish dari perkiraan pasar.
Meski demikian, Permata Bank memperkirakan BI-Rate akan bertahan di level 5,75% hingga akhir tahun dalam skenario dasar mereka.
"Kami mempertahankan proyeksi bahwa BI-Rate akan tetap berada di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun jika tekanan eksternal maupun domestik bertahan atau bahkan meningkat, terdapat kemungkinan BI kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.
Faktor Geopolitik dan Risiko Inflasi
Menurut Faisal, sejumlah faktor masih menjadi sumber risiko. Dari sisi global, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda, kesepakatan damai AS-Iran dinilai masih rapuh karena isu program nuklir Iran belum sepenuhnya terselesaikan. Selain itu, konflik yang melibatkan Israel dan Lebanon juga berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
Kondisi tersebut membuat risiko inflasi global masih relatif tinggi dan berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Di dalam negeri, tekanan inflasi juga dinilai masih perlu diwaspadai. Permata Bank melihat adanya risiko kenaikan inflasi impor akibat pelemahan rupiah sebelumnya dan dampak tertunda (lagging effect) dari kenaikan harga energi terhadap harga konsumen.
Selain itu, risiko pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga meningkat seiring perlambatan ekonomi global yang dapat menekan ekspor, sementara kebutuhan impor energi dan barang antara masih cukup tinggi.
Faisal menyatakan investor juga masih mencermati sejumlah agenda penting, termasuk evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dan penilaian peringkat utang Indonesia oleh S&P dalam beberapa waktu ke depan.
Karena itu, meskipun BI berpeluang menghentikan sementara siklus kenaikan suku bunga setelah mencapai level 5,75%, peluang pengetatan lanjutan masih terbuka apabila tekanan terhadap rupiah, inflasi, dan stabilitas pasar keuangan kembali meningkat.
