OPEC+ Gagal Capai Target Produksi, Harga Minyak Turun ke Bawah US$ 90

Kegagalan OPEC+ mencapai target produksinya pada Juli dan Agustus menahan kejatuhan harga minyak hari ini yang dipicu kekhawatiran pelemahan permintaan.
Happy Fajrian
19 September 2022, 19:19
harga minyak, opec
Arief Kamaludin|KATADATA
Berdasarkan perkiraan, Blok Mahakam masih menyisakan cadangangan 57 juta barel minyak (Million Barel Oil/MMBO), 45 juta barel kondensat, dan 4,9 triliun standar kaki kubik (Triliun Standard Cubic Feet/TSCF).

Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1,5%, kembali ke level di bawah US$ 90 per barel tertekan prospek melemahnya permintaan global dan penguatan nilai tukar dolar AS. Ketatnya pasokan menahan kejatuhan harga minyak lebih dalam lagi.

Negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya termasuk Rusia, atau lebih dikenal dengan sebutan OPEC+, gagal mencapai target produksi minyak sebesar 3,58 juta barel per hari (bph) pada Agustus. Sebelumnya pada Juli OPEC+ juga meleset dari target produksi 2,89 juta bph.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun US$ 1,49, atau 1,6%, menjadi US$ 89,86 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Oktober turun US$ 1,57, atau 1,8%, menjadi US$ 83,54.

Bank sentral di seluruh dunia pasti akan meningkatkan biaya pinjaman minggu ini dan ada beberapa risiko kenaikan 1 poin persentase oleh Federal Reserve AS. “Pertemuan Fed mendatang dan dolar yang kuat menahan harga minyak,” kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM, seperti dikutip Reuters, Senin (19/9).

Advertisement

Harga minyak juga berada di bawah tekanan dari harapan meredanya krisis pasokan gas Eropa. Pembeli Jerman memesan kapasitas untuk menerima gas Rusia melalui pipa Nord Stream 1 yang ditutup, tetapi ini kemudian direvisi dan tidak ada gas yang mengalir.

Harga minyak mentah telah melonjak tahun ini, dengan patokan Brent mendekati rekor tertinggi US$ 147 per barel pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina memperburuk kekhawatiran pasokan. Kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dan permintaan telah mendorong harga lebih rendah.

Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dua dekade menjelang keputusan The Fed dan bank sentral lainnya minggu ini. Dolar yang lebih kuat membuat komoditas berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan cenderung membebani minyak dan aset berisiko lainnya.

Pasar juga telah ditekan oleh perkiraan permintaan yang lebih lemah, seperti prediksi minggu lalu oleh Badan Energi Internasional bahwa akan ada pertumbuhan permintaan nol pada kuartal keempat. Terlepas dari kekhawatiran permintaan tersebut, kekhawatiran pasokan membuat penurunan tetap terkendali.

“Pasar masih memiliki awal sanksi Eropa terhadap minyak Rusia yang menggantung di atas harga minyak. Karena pasokan terganggu pada awal Desember, pasar tidak mungkin melihat respons cepat dari produsen AS,” kata analis ANZ.

Pelonggaran pembatasan Covid-19 di Cina, yang telah mengurangi prospek permintaan di konsumen energi terbesar kedua di dunia, juga dapat memberikan optimisme, kata para analis.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait