Melacak Bisnis Ojek Online Hasan Azhari yang Gugat Hak Cipta Gojek

Hasan Azhari menawarkan jasa ojek onlinenya melalui laman blog, media sosial, di sekitaran BIntaro, Jakarta, dan sekitarnya pada 2008 hingga 2011. Belakangan, bisnisnya kalah bersaing dengan Gojek.
Image title
4 Januari 2022, 06:00
gojek, ojek online, hasan azhari, gugatan hak cipta
ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/hp.
Pengemudi ojek online membawa penumpang di Jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/7/2020).

Hasan Azhari alias Arman Chasan telah menggugat PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) dan pendirinya Nadiem Makarim terkait pelanggaran hak cipta ojek online. Dia mengklaim telah menciptakan model bisnis tersebut sejak 2008, dua tahun sebelum decacorn Gojek pada 2010.

Kuasa hukum Hasan, Rochmani mengatakan kliennya sudah sejak 2008 menciptakan model bisnis ojek online menggunakan program komputer. Ia juga mengklaim, Hasan telah mempunyai sertifikat hak cipta yang diumumkan pada Desember 2008.

"Hak cipta ini telah dilindungi oleh pemerintah. Jadi kalau ada orang yang memanfaatkan secara komersial hasil ciptanya, kami merasa dirugikan," ujar Rochmani dalam sesi wawancara di channel YouTube Hersubeno Point pada akhir pekan lalu (1/1).

Diketahui, kiprah Hasan yang dianggap sebagai penemu model bisnis ojek online ini sebenarnya pernah diungkap oleh televisi nasional hingga televisi Jepang, NHK TV pada 2008. Awalnya Hasan mengembangkan bisnis ojek online ini menggunakan blogspot bernama ojekbintarorempoa.blogspot.com.

Advertisement

Ia juga menawarkan layanan ojek online melalui media sosial, Facebook. Dengan akun Facebook bernama Ojek Bintaroonline ia menawarkan jasa ojek hanya sekitaran Bintaro, Jakarta, dan sekitarnya.

Pelanggannya akan memberikan pesan SMS ke Hasan terlebih dahulu untuk mendapatkan layanan. Setelahnya, Hasan berangkat menggunakan sepeda motornya sesuai rute perjalanan.

Namun, menurut Rochmani bisnis ojek online yang dirintis Hasan kini telah tutup. "Sampai 2011 masih menjalankan bisnisnya, tapi dengan adanya Gojek, klien kami tidak lagi berjalan bisnisnya," ujarnya.

Kini, Hasan telah menggugat Gojek dan Nadiem ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Berdasarkan surat gugatan dengan nomor 86/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2021/PN Niaga Jkt.Pst itu, Hasan menyatakan bahwa Gojek dan Nadiem telah melanggar hak cipta.

Dia menggugat Gojek dan Nadiem membayar ganti rugi sebesar Rp 10 miliar dan membayar royalti Rp 24,9 triliun. "Menyatakan putusan dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun tergugat mengajukan perlawanan atau kasasi (uitvoerbaar bij voorad)," demikian petitum Hasan dikutip dari Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada akhir pekan lalu (31/12).

Namun, pihak Gojek menyebut gugatan Hasan tak berdasar. "Kami melihat bahwa klaim (Hasan) tersebut tidak berdasar. Gojek juga telah menjalankan bisnis sesuai dengan hukum yang berlaku," kata Chief of Corporate Affairs Gojek Nila Marita kepada Katadata.co.id, Senin (3/1).

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait