Potensi EBT Tersebar dan Beragam Jadi Modal RI Hindari Krisis Energi

Pemerintah akan mengembangkan seluruh potensi EBT yang ada sehingga meminimalisir risiko krisis energi terjadi di Indonesia.
Image title
27 Januari 2022, 13:08
krisis energi, ebt, energi terbarukan, energi baru terbarukan,
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.
Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (EDSM), Jakarta, Senin (24/5/2021).

Kementerian ESDM menyampaikan krisis energi yang melanda Eropa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Pasalnya, negara ini memiliki potensi sumber energi baru terbarukan (EBT) yang tersebar dan beragam di beberapa wilayah.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menjelaskan krisis energi di Eropa terjadi lantaran sumber EBT yang tidak terdiversifikasi. Sehingga ketika terdapat gangguan di pembangkit EBT, maka opsi untuk menghidupkan kembali PLTU batu bara menjadi hal yang tak bisa terhindarkan.

"Karena hanya mempunyai potensi EBT yang tidak bervariasi di kita, mengembangkan surya dan angin skala besar di satu wilayah. Sehingga begitu ada gangguan cuaca, angin berkurang dan secara sistem ini belum siap mengikuti perubahan tersebut," kata dia dalam Indonesia Economic Outlook 2022 Rabu (26/1).

Melihat hal tersebut pemerintah pun akan terus menggenjot pengembangan EBT yang beragam ini secara bersamaan. Sehingga risikonya dapat diminimalkan ketika terjadi gangguan cuaca seperti yang ada di Eropa.

Advertisement

Dadan menyadari dari sisi pemanfaatan masih terdapat jarak yang cukup jauh dari target. Pada 2018 misalnya, bauran EBT terhadap bauran energi nasional hanya mencapai 8,6% sementara target saat itu 11,6%.

"Selisihnya 3%. Per sekarang pun demikian, 2021 perhitungan kami capaian EBT 11,5%. Sedangkan target dalam RUEN angkanya 14,% jadi persis selisihnya 3%," katanya. Meski demikian, dia optimistis target bauran EBT 23% pada 2025 dapat tercapai.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro sebelumnya mengatakan pada akhirnya krisis energi membuat suatu negara mencari energi yang paling murah dan sesuai dengan kondisi negara tersebut. Sehingga proses transisi ke energi bersih juga perlu ditinjau kembali mengenai keekonomian harga.

"Jika ada energi terbarukan yang lebih murah bisa saja negara dapat beralih menggunakan EBT. Namun jika tidak ada pengganti akan seperti Inggris bahwa Indonesia kemungkinan akan tetap menggunakan batu bara dalam jangka panjang," ujar Komaidi kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Apalagi menurut dia porsi listrik RI dari batu bara saat ini sekitar 65%. Sementara jika proyek 35 ribu megawatt (MW) selesai, maka porsi listrik batu bara diproyeksikan lebih dari 70%.

Sehingga, ketergantungan Indonesia pada batu bara masih akan cukup besar untuk beberapa tahun ke depan. Jika berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional alias RUEN yang ditetapkan pemerintah hingga 2050, konsumsi batu bara secara volume masih sangat besar meskipun porsinya turun.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait