BPS Catat Ekspor Masker Selama Februari Melonjak 34 Kali Lipat

Ekspor masker pada Februari melonjak 34 kali lipat dibandingkan Januari 2020 menjadi US$ 75,2 juta.
Agatha Olivia Victoria
16 Maret 2020, 17:04
ekspor masker, badan pusat statistik, virus corona, larangan ekspor masker
ANTARA FOTO/REUTERS/Navesh Chitrakar/wsj/cf
Warga memakai masker pelindung di tengah-tengah kekhawatiran akan penyebaran virus corona (COVID-19). Permintaan masker yang membeludak di dunia membuat ekspor masker melonjak hingga 34 kali lipat menurut data BPS.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan ekspor masker kesehatan sepanjang Februari 2020, seiring merebaknya virus corona Covid-19 di dunia.

Pada Januari 2020 nilai ekspor masker hanya mencapai US$ 2,1 juta. Namun bulan lalu nilai ekspornya melonjak hingga lebih 34 kali menjadi US$ 75,2 juta atau meningkat hingga 3.480%.

"Komoditas ekspor yang meningkat pada golongan barang tekstil jadi lainya salah satunya masker," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di Jakarta, Senin (16/3).

Adapun ekspor masker periode Februari 2020 juga naik hingga 74.600% atau 75 kali lipat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisement

(Baca: Permintaan Membeludak, Pemerintah Akan Larang Ekspor Masker)

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan bahwa pemerintah akan mengeluarkan aturan larangan ekspor masker untuk sementara waktu. Agus menjelaskan masa berlaku aturan ini bergantung pada kebutuhan di dalam negeri.

"Aturan itu nanti disesuaikan sampai kebutuhan masker dalam negeri cukup atau ada stok yang berlebih," ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3).

Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir juga menyatakan akan menyetop ekspor masker, termasuk oleh perusahaan pelat merah. Penghentian ekspor ini merupakan instruksi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Salah satu perusahaan pelat merah yang mengekspor masker kesehatan yaitu Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI. Perusahaan pelat merah ini pada akhir Januari 2020 mengekspor 3 juta lembar masker ke Tiongkok.

(Baca: Ekspor Masker Dilarang, RNI Mengaku Tak Jual Produknya ke Luar Negeri)

Perkembangan Ekspor Lainnya

Selain masker, komoditas ekspor dalam golongan barang tekstil jadi lainnya yang turut mencatatkan peningkatan yakni seprai kasur. Ekspor seprai kasur sepanjang Februari naik 33,3% menjadi US$ 400 ribu dari US$ 300 ribu pada Januari. Sementara itu, ekspor seprai juga meningkat 300% dibanding bulan Februari 2019 yang tercatat hanya US$ 100 ribu.

Kendati demikian, ekspor tali sepatu tak mencatatkan pertumbuhan sama sekali baik secara bulanan maupun secara tahunan dengan nilai US$ 900 ribu.

Dari perkembangan komoditas tersebut, Yunita memaparkan bahwa ekspor golongan barang tekstil jadi lainnya pun meningkat 404,9% menjadi US$ 89,8 juta dari US$ 17,8 juta pada Januari 2020. "Naik US$ 72 juta," kata dia.

(Baca: Impor dari Tiongkok Anjlok, Neraca Dagang Februari Surplus US$ 2,34 M)

Selain itu, peningkatan ekspor nonmigas Februari 2020 juga terjadi pada golongan logam mulia, perhiasan/permata yang naik US$ 263,9 juta atau 44,17%, kendaraan dan bagiannya US$ 133,3 juta atau 21,61%, lemak dan minyak hewan/nabati US$ 130,4 juta atau 8,57%, serta bahan bakar mineral US$ 62,4 juta atau 3,55%.

Di sisi lain, penurunan ekspor terjadi pada besi dan baja US$ 211,3 juta atau 25,73%, alas kaki US$ 86,4 juta atau 20,36%, tembaga dan barang daripadanya US$ 44 juta atau 26,21%, pulp dari kayu US$ 41,7 juta atau 17,36%, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan) US$ 24,8 juta atau 8,15%.

Secara keseluruhan, ekspor pada Februari naik 11% secara tahunan. Kenaikan ekspor pada barang nonmigas pada Februari 2020 mencapai US$ 13,12 miliar, naik 14,64% secara tahunan atau 2,38% secara bulanan. "Ekspor migas dibanding Januari turun 0,02% menjadi US$ 13,94 miliar, secara year on year-nya turun 26,51%," ujarnya.

(Baca: Impor Mesin hingga Plastik dari Tiongkok Anjlok akibat Pandemi Corona)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait