Kepercayaan Investor Institusi Turun Selama 2019 Akibat Ekonomi Global

Perang dagang AS-Tiongkok menjadi penyebab utama turunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan.
Image title
Oleh Happy Fajrian
31 Desember 2019, 21:39
katadata investor confidence index, kepercayaan investor institusi,
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Layar pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Katadata mencatat kepercayaan investor institusi terhadap kondisi perekonomian dan pasar keuangan menurun di 2019 yang disebabkan gejolak ekonomi global.

Tahun 2019 penuh dengan tantangan bagi investor institusi dalam mengarungi perekonomian dan pasar keuangan. Hal ini terlihat dari tingkat kepercayaan investor institusi yang merosot berdasarkan hasil survei Katadata Investor Confidence Index (KICI).

Menurut survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) tersebut, tingkat kepercayaan investor institusi terhadap kondisi perekonomian dan pasar keuangan sepanjang 2019 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan hasil survei KICI, gejolak ekonomi global serta kondisi geopolitik yang tidak stabil menjadi faktor utama yang menyebabkan merosotnya kepercayaan investor, terutama pada kuartal terakhir 2019.

Pada kuartal IV 2019, indeks kepercayaan investor berada pada level 127,7 turun dari level 139,1 pada tahun sebelumnya. Tingkat kepercayaan investor sempat melonjak level 149,6 pada kuartal I 2019, namun turun menjadi 146,8 pada kuartal II, dan 128,6 pada kuartal III.

(Baca: Investor Minta Tim Ekonomi Kabinet Baru Tuntaskan Pengangguran dan CAD)

Adapun angka indeks 101-200 menunjukkan kondisi investor yang optimistis terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan, indeks 100 netral, sedangkan indeks 0-99 menunjukkan investor yang pesimistis.

Gejolak ekonomi global tersebut terutama disebabkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang telah berlangsung lebih dari 17 bulan. Investor meyakini perang dagang akan berdampak buruk terhadap kondisi perekonomian nasional.

Selain itu perang dagang juga menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi global karena turunnya aktivitas ekonomi di AS dan Tiongkok, yang merupakan dua ekonomi terbesar di dunia, merembet ke sejumlah negara lainnya di dunia.

Sama halnya dengan isu geopolitik dari meningkatnya ketegangan antara AS dengan Iran dan Korea Utara, serta ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Iran diduga sebagai dalang di balik serangan pesawat tanpa awak (drone) terhadap kilang minyak milik Saudi Aramco pada Agustus 2019.

(Baca: Infografik: Investor Menilai Kinerja Pemerintah Menurun)

Investor meyakini kondisi geopolitik yang tidak stabil ini akan berdampak buruk terhadap perekonomian nasional karena akan mengganggu rantai pasok global.

Investor Tetap Percaya Kondisi Ekonomi Domestik

Meski demikian, sepanjang tahun ini investor menunjukkan keyakinan yang cukup tinggi terhadap kondisi perekonomian dan keamanan nasional. Hal tersebut  dibarengi dengan turunnya kekhawatiran investor terhadap kondisi politik dengan berakhirnya pemilu legislatif dan pemilihan presiden (pilpres).

Keyakinan investor yang tinggi terhadap perekonomian nasional tercermin dari banyaknya investor yang menyatakan puas terhadap laju pertumbuhan ekonomi, terutama pada dua kuartal pertama 2019. Namun pada kuartal III dan IV investor cenderung bersikap netral terhadap pertumbuhan Indonesia.

Selain itu, investor pun cukup puas dengan sejumlah indikator ekonomi lainnya seperti inflasi, tingkat suku bunga, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Investor menilai ketiga indikator tersebut masih cukup baik dan sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

(Baca: Usai Pemilu, Kepercayaan Investor Merosot Akibat Lesunya Ekonomi Dunia)

Tingkat inflasi sepanjang 2019 stabil sesuai dengan target, dan cenderung turun. Bank Indonesia (BI) pun sepanjang 2019 empat kali menurunkan suku bunga acuan, BI 7 Days Reverse Repo Rate, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5%. Sedangkan nilai tukar rupiah dinilai stabil sesuai dengan fundamentalnya.

Pada awal tahun 2019 isu utang pemerintah yang meningkat sempat menjadi perhatian. Meski demikian, faktanya hal tersebut tidak terlalu dikhawatirkan oleh investor, termasuk soal penggunaan utang tersebut yang dinilai sudah cukup sesuai.

Investor Puas dengan Kinerja Pemerintah

Turunnya tingkat kepercayaan investor salah satunya juga disebabkan oleh turunnya penilaian investor terhadap kinerja pemerintah, walaupun secara keseluruhan tingkat kepuasan investor terhadap kinerja pemerintah di 2019 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

(Baca: Kepercayaan Investor Institusi Terhadap Kinerja Pemerintah Merosot)

Pasalnya, pada dua kuartal pertama 2019, tingkat kepuasan investor terhadap kinerja pemerintah naik cukup signifikan hingga ke angka 175,8 pada kuartal II 2019. Namun pada dua kuartal terakhir tingkat kepuasan tersebut turun menjadi 161,5 pada kuartal III, walau sedikit membaik menjadi 169,1 pada kuartal IV. Angka tersebut lebih baik dibandingkan kuartal IV 2018 yang berada pada angka 156,2.

Adapun investor memberikan penilaian yang rendah terhadap kinerja pemerintah dalam memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan. Penilaian terendah berikutnya yaitu terhadap kinerja pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi meskipun dalam aspek ini nilai indeksnya masih mencapai 161,8 yang artinya investor puas dengan kinerja pemerintah.

Video Pilihan

Artikel Terkait