Dirut BEI: Ketidakpastian Ekonomi AS Picu Kepanikan Investor

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual justru lebih banyak dilakukan oleh investor domestik dibandingkan investor asing.
Hari Widowati
6 Februari 2018, 17:35
Bursa saham
ANTARA FOTO/M. Agung Rajasa
Beberapa siswa berfoto dengan latar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (24/2).

Kejatuhan indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) yang merembet ke bursa-bursa Asia dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi AS, khususnya yang menyangkut kenaikan suku bunga The Fed. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), aksi jual justru lebih banyak dilakukan oleh investor domestik dibandingkan investor asing.

Pada penutupan perdagangan Selasa (6/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,69% ke level 6.478 poin. Investor asing mencatat penjualan bersih Rp 1,75 triliun. Adapun total nilai transaksi bursa mencapai Rp 15,49 triliun.

Penurunan IHSG tidak sedalam penurunan tajam bursa Asia lainnya, Indeks Hang Seng yang merosot 5,12%, Nikkei 225 terkoreksi 4,73%, disusul Indeks Shanghai yang turun 3,35% dan Indeks Strait Times 2,2%.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, penurunan indeks ini disebabkan persepsi negatif investor terhadap ekonomi AS. "Penyerapan tenaga kerja di AS menguat, upah naik sehingga ada kekhawatiran inflasi naik. Kalau inflasi naik, suku bunga The Fed dikhawatirkan naik lebih cepat," kata Tito.

Advertisement

Tito juga mengungkapkan, aksi jual justru lebih banyak dilakukan oleh investor domestik meskipun investor asing mencatat penjualan bersih (net sell). "Investor asing keluar dari satu saham biasanya akan masuk di saham lain, dia beli dengan harga yang lebih murah," ujar dia.

(Baca juga: Mengekor Bursa AS, Indeks di Bursa Saham Global Berjatuhan)

Berkaca pada fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, BEI optimistis minat investor berinvestasi di pasar modal Indonesia masih tinggi. Tito berharap semakin banyak emiten yang merilis kinerja tahun buku 2017 untuk memberikan sentimen positif ke pasar. Saat ini baru 9 emiten yang sudah melaporkan kinerja 2017. Kesembilan emiten itu memiliki total aset Rp 2.115,5 triliun dan mencatat kenaikan pendapatan 22,6% menjadi Rp 265,12 triliun pada 2017.

Berdasarkan data yang dikumpulkan BEI sejak awal tahun hingga 5 Februari 2018, IHSG masih mencatat imbal hasil (return) 1,12%. Nilai imbal hasil ini merupakan nomor tiga tertinggi di dunia setelah Indeks Bursa Shanghai sebesar 3,19% dan Hang Seng sebesar 2,46%. Di sisi lain, Indeks Nikkei 225 mencatat imbal hasil negatif terburuk 6,89% disusul Indeks FTSE-100 yang minus 4,59%.

Saham-saham yang mencatat kenaikan tertinggi di BEI antara lain Bank Agris Tbk (AGRS) yang melejit 24,65% menjadi Rp 354 per saham, Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) 12,27% menjadi Rp 183 per saham, dan Tri Banyan Tirta 8,6% menjadi Rp 404 per saham. Adapun saham yang mengalami penurunan paling tajam adalah Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) sebesar 6,91% menjadi Rp 350 per saham disusul Medco Energi International yang turun 6,67% menjadi Rp 1.190 per saham.  

 

 

 

 

Reporter: Hari Widowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait