Filantropi, Kunci Transisi Energi Bersih Indonesia

Lucky Nurrahmat
Oleh Lucky Nurrahmat
6 Desember 2023, 08:05
Lucky Nurrahmat
Katadata/Bintan Insani

Dalam COP28, panggung telah disiapkan untuk mengejar peluang dalam membangun dan meningkatkan kemitraan ekonomi antara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan pasar-pasar baru seperti Indonesia.

Namun, mari kita tengok kembali ke COP26, saat semua pihak setuju untuk memperbarui dan memperkuat rencana iklim mereka guna memenuhi Paris Agreement, serta saat Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP) lahir.

Ketika itu, delapan dari sepuluh negara ASEAN termasuk Indonesia, menetapkan target emisi yang ambisius, seperti meningkatkan tujuan dekarbonisasi jangka pendek hingga tahun 2030 atau mempercepat rencana untuk mencapai net-zero emission dari tahun 2060 menjadi 2050.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa biaya awal infrastruktur energi bersih sangat besar, yang menegaskan bahwa setiap negara tidak bisa melakukannya sendiri — dibutuhkan dukungan sektor swasta dan publik, baik di dalam maupun di luar Asia Tenggara. Kebutuhan ini menambah urgensi dari diskusi dan hasil COP28.

Bekerja sama Melawan Perubahan Iklim

Asia Tenggara, yang sangat rentan terhadap perubahan iklim karena memiliki banyak wilayah pantai dan pulau, diperkirakan akan mengalami peningkatan kebutuhan energi sebanyak tiga kali lipat pada tahun 2050. Keadaan mendesak ini menuntut inovasi yang cost-effective untuk mempercepat dekarbonisasi. Meskipun pemerintah mendukung sustainability, kurangnya pendanaan dan keahlian menghambat penyelesaian proyek tepat waktu.

Regulasi energi terbarukan juga bervariasi, yang menjadi tantangan bagi para investor. Praktik energi pada umumnya yang cenderung memprioritaskan opsi yang terjangkau dan mudah seperti batu bara dan minyak bumi menyebabkan Asia Tenggara menggandakan emisi CO2-nya dari tahun 1990 hingga 2020, dimana pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan wilayah lainnya sepanjang tahun 1990 hingga 2010.

Kesampingkan dulu pertumbuhan ekonomi, sebab kenaikan suhu yang tidak terkendali mendorong peningkatan bencana, penurunan hasil pertanian, kesehatan memburuk, produktivitas rendah, dan penurunan pariwisata. Perkiraan kerugian PDB wilayah Asia Tenggara pada akhir abad ini berkisar antara 10% (ADB) hingga 37% (Swiss Re), membawa konsekuensi serius mengingat populasi wilayah tersebut yang terus berkembang.

Menurut Bank Dunia, Indonesia menghadapi ancaman perubahan iklim yang signifikan, terutama bagi ekonomi kelautan dan masyarakat sekitarnya. Sektor perikanan, yang berkontribusi sebesar US$26,9 miliar setiap tahun (sekitar 2,6% dari PDB), setengah dari protein nasional, dengan 7 juta pekerjaan, menjadi sangat rentan.

Dampak perubahan iklim pada sektor perikanan akan sangat mempengaruhi mata pencaharian, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Dampak-dampak ini meluas ke berbagai sektor dan wilayah dimana dapat mengakibatkan kerugian ekonomi antara 2,5% hingga 7% dari PDB negara.

Hal tersebut membuat saat ini menjadi waktu yang penting bagi dunia untuk bersatu dan membantu Asia Tenggara beralih ke energi terbarukan. Jika tidak, upaya dekarbonisasi ekonomi maju bisa sia-sia.

Untungnya, ada banyak peluang di wilayah ini. Beberapa pasar di Asia Tenggara yang disebut sebagai 'pasar perintis', menarik investor dengan berbagai peluang yang belum dikembangkan. Namun, lokasi-lokasi ini berisiko dan membutuhkan modal filantropi sebagai fondasi awal bagi progres selanjutnya.

Halaman:
Lucky Nurrahmat
Lucky Nurrahmat
Country Delivery Lead
Editor: Dini Pramita

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...