Efisiensi Energi Kunci Dekarbonisasi Industri

Aulia Ramadhan dan Daniel Maynard Samosir
Oleh Aulia Ramadhan - Daniel Maynard Samosir
2 April 2026, 07:05
Aulia Ramadhan dan Daniel Maynard Samosir
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

“Masyarakat modern memiliki kecenderungan terobsesi pada inovasi baru, sementara pekerjaan mendasar seperti memperbaiki dan meningkatkan sistem yang sudah ada seringkali terabaikan.”

 — Lee Vinsel dan Andrew Russell, sejarawan teknologi.

Kutipan itu terasa relevan ketika kita membicarakan dekarbonisasi industri. Diskusi tentang industri rendah karbon kerap langsung melompat pada teknologi canggih seperti hidrogen hijau, penangkapan karbon, atau elektrifikasi skala besar. Semuanya terdengar modern, ambisius, dan menjanjikan. 

Namun, dalam praktiknya, perjalanan menuju industri rendah karbon sering kali tidak dimulai dari teknologi yang paling mutakhir. Ia justru dimulai dari langkah yang lebih mendasar, yaitu memahami bagaimana energi digunakan di pabrik, lalu memperbaiki titik-titik pemborosan yang selama ini luput dari perhatian.

Konteks global belakangan makin menegaskan urgensi tersebut. Ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan isu energi kembali menunjukkan betapa eratnya hubungan antara energi dan daya saing industri. Ketika harga energi berfluktuasi dan rantai pasok global terganggu, biaya produksi ikut tertekan. Dalam situasi seperti ini, efisiensi energi bukan lagi sekadar agenda teknis. Ia menjadi strategi bertahan sekaligus strategi bersaing.

Dalam konteks tersebut, pemerintah juga mulai mengambil langkah konkret. Pada rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis, 19 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan peningkatan efisiensi energi di berbagai sektor strategis sebagai respons terhadap potensi krisis minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Potensi Besar yang Sudah Ada di Depan Mata

Melalui Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), sebuah kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Jerman yang bertujuan mendorong transisi energi berkelanjutan di sektor industri dan bangunan melalui pendampingan teknis, pelatihan, dukungan kebijakan, serta akses pembiayaan, telah dilakukan audit energi pada lima fasilitas industri. Audit ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penggunaan energi dalam operasional sehari-hari.

Hasilnya menunjukkan potensi yang sangat besar. Total peluang penghematan energi dari fasilitas yang dianalisis mencapai 58,4 juta kWh per tahun. Jumlah ini setara dengan konsumsi listrik sekitar 19.500 hingga 29.200 rumah tangga selama satu tahun. Dari sisi biaya, potensi penghematannya mencapai sekitar Rp44,9 miliar per tahun. Dari sisi emisi, potensi pengurangannya mencapai 50.804 ton CO2 per tahun.

Angka-angka tersebut menyampaikan pesan yang sederhana tetapi penting. Pengurangan emisi yang signifikan sebenarnya bisa dimulai sekarang, tanpa harus menunggu teknologi masa depan yang mahal dan kompleks.

Salah satu temuan paling penting dari audit energi SETI adalah bahwa pemborosan energi seringkali tidak berasal dari persoalan yang rumit. Sumbernya justru berada pada sistem yang paling dasar dalam operasi pabrik. 

Boiler, sistem kompresor udara (air compressor), dan sistem pemanasan menjadi contoh yang paling sering muncul. Di beberapa fasilitas, efisiensi boiler hanya berada pada kisaran 70% sampai 80%. Artinya, sebagian energi yang dibeli dan digunakan perusahaan sebenarnya terbuang sebelum memberi manfaat maksimal bagi proses produksi.

Pada sistem kompresor udara, persoalannya sering bukan pada kurangnya teknologi, melainkan pada cara pengoperasiannya. Banyak kompresor masih dijalankan secara manual, tanpa kendali otomatis, tanpa pengaturan tekanan yang terintegrasi, dan tanpa penyesuaian terhadap kebutuhan aktual. 

Ditambah lagi, kebocoran pada tiga komponen utama sistem, yakni pipa, flange, dan fitting, masih sering ditemukan. Akibatnya, sebagian listrik yang digunakan terbuang percuma. Dari audit yang dilakukan, optimalisasi kontrol operasi dan perbaikan kebocoran udara berpotensi menghemat 2,9 juta kWh per tahun, dengan potensi pengurangan emisi sekitar 2.534 ton CO2 per tahun.

Potensi serupa juga terlihat pada sistem pemanasan. Di industri alas kaki (footwear), proses pembersihan minyak dan pencucian masih banyak menggunakan pemanas listrik (electric heater) untuk suhu 50-60 derajat Celsius. Padahal, teknologi heat pump dapat memberikan hasil yang sama dengan konsumsi energi yang jauh lebih rendah. 

Penggantian ini berpotensi menghemat 2,8 juta kWh per tahun dan menurunkan emisi sekitar 2.425 ton CO2 per tahun. Di sektor makanan dan minuman, peluang efisiensi juga muncul dari penggantian sebagian kebutuhan panas berbasis boiler dengan heat pump suhu tinggi.

Semua ini menunjukkan hal yang sama. Dekarbonisasi industri tidak selalu harus dimulai dari lompatan teknologi besar. Dalam banyak kasus, ia justru dimulai  dari membenahi sistem yang sudah ada.

Mengapa Belum Menjadi Prioritas?

Salah satu jawabannya adalah data. Banyak perusahaan belum memiliki sistem manajemen energi yang memadai untuk memahami pola konsumsi energinya secara rinci. Tanpa data, titik pemborosan sulit dikenali. Tanpa ukuran yang jelas, manfaat investasi juga sulit diyakini.

Hambatan lainnya adalah persaingan prioritas. Upaya efisiensi energi, meski sering memiliki periode pengembalian investasi yang cepat, tetap harus bersaing dengan kebutuhan lain seperti ekspansi produksi, biaya tenaga kerja, atau target bisnis jangka pendek. Dalam situasi ini, efisiensi energi kerap dipandang sebagai urusan teknis, bukan keputusan strategis.

Padahal, ketika energi digunakan lebih efisien, biaya produksi turun, produktivitas membaik, dan daya tahan perusahaan terhadap gejolak harga energi menjadi lebih kuat. Dalam iklim persaingan yang semakin ketat, ini jelas bukan isu pinggiran. Temuan audit energi SETI menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan pelengkap dalam dekarbonisasi industri. Dalam banyak kasus, justru inilah titik awal yang paling realistis.

Alasannya jelas. Investasinya relatif lebih rendah dibandingkan dengan teknologi dekarbonisasi skala besar, hasilnya dapat dirasakan lebih cepat, dan manfaat ekonominya langsung terlihat dalam pengurangan biaya energi. Bagi banyak industri, ini adalah pintu masuk yang paling masuk akal untuk memulai transisi.

Agar potensi ini berkembang lebih luas, dibutuhkan ekosistem yang mendukung. Kapasitas teknis industri perlu diperkuat melalui pelatihan, audit energi, dan pertukaran praktik baik. Akses pembiayaan inovatif seperti pembiayaan hijau, kemitraan dengan perusahaan jasa energi, dan model pembiayaan berbasis kinerja juga perlu diperluas. Pada saat yang sama, kebijakan pemerintah perlu memberi sinyal jelas bahwa efisiensi energi merupakan bagian dari strategi daya saing industri nasional.

Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa dekarbonisasi industri memang membutuhkan inovasi teknologi dalam jangka panjang. Namun, perjalanan itu tidak harus menunggu semuanya sempurna. Ia dapat dimulai dari langkah yang paling masuk akal, yaitu dengan memahami bagaimana energi digunakan di dalam pabrik, melihat di mana energi terbuang, lalu memperbaiki sistem yang sudah ada agar bekerja lebih efisien.

Dalam perjalanan menuju ekonomi rendah karbon, terkadang perubahan terbesar justru dimulai dari hal yang paling mendasar. Bila langkah-langkah ini dilakukan secara luas, dampaknya akan besar, bukan hanya untuk menurunkan emisi, tetapi juga untuk menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing industri Indonesia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Aulia Ramadhan dan Daniel Maynard Samosir
Aulia Ramadhan
SETI Senior Lead, WRI Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...