Saat Rupiah Ditekan Dolar, Haruskah Indonesia Mencari Teman Baru?
Bagi sebagian orang, nilai tukar rupiah mungkin hanya angka di layar ponsel. Namun bagi importir kecil yang membeli bahan baku dari luar negeri, pelaku usaha yang bergantung pada barang impor, atau orang tua yang menyiapkan biaya kuliah anak di luar negeri, nilai tukar rupiah adalah rasa aman. Ketika rupiah melemah, yang terganggu adalah perasaan banyak orang tentang apakah ekonomi masih terkendali.
Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 setelah rupiah mengalami tekanan dan sempat menyentuh sekitar Rp18.190 per dolar AS. BI menyebut langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran di tengah tingginya volatilitas global. Cadangan devisa Indonesia juga turun menjadi sekitar US$144,9 miliar pada Mei 2026, level terendah hampir dua tahun terakhir.
Namun setelah tekanan itu, rupiah mulai menunjukkan perbaikan. Kurs JISDOR BI pada 15 Juni 2026 tercatat Rp17.719 per dolar AS. BI juga mencatat respons positif investor setelah kenaikan suku bunga dan peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik, termasuk masuknya dana asing ke lelang SRBI dan kembalinya minat asing pada SBN tenor pendek-menengah.
Dalam situasi seperti ini, persoalan nilai tukar bukan hanya soal harga dolar hari ini, tetapi soal seberapa kuat ekonomi memiliki pilihan ketika pasar global berubah arah.
Apa itu Panda Bond?
Di tengah kondisi ini muncul istilah “Panda Bond”. Panda Bond adalah obligasi berdenominasi yuan yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar domestik Tiongkok. Pemerintah menargetkan penerbitan Panda Bond pada Juni 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan APBN agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber pendanaan.
Di sinilah paradoksnya. Ketika rupiah ditekan dolar, Indonesia mencari ruang pembiayaan dalam mata uang lain. Di satu sisi, ini terlihat masuk akal. Jangan menaruh seluruh risiko pembiayaan dalam satu keranjang dolar. Di sisi lain, muncul pertanyaan: apakah Indonesia sedang memperkuat ketahanan ekonomi, atau hanya mengganti ketergantungan ke yuan?
Secara teori, langkah diversifikasi pembiayaan dapat dibaca melalui dua konsep penting: currency mismatch dan original sin. Currency mismatch terjadi ketika kewajiban dalam mata uang asing tidak sejalan dengan sumber pendapatan dalam mata uang yang sama. Jika rupiah melemah, beban pembayaran utang valas bisa meningkat.
Sementara original sin menggambarkan kesulitan negara berkembang untuk memperoleh pembiayaan internasional dalam mata uangnya sendiri. Akibatnya, banyak negara berkembang harus berutang dalam mata uang seperti dolar AS, euro, yen, atau yuan.
Dalam kerangka itu, Panda Bond adalah upaya memperluas pilihan. Indonesia tidak ingin seluruh pembiayaan eksternal berjalan melalui pintu dolar AS. Ketika nilai dolar AS menguat, suku bunga AS tinggi, dan sentimen investor berubah cepat, negara berkembang sering ikut terseret. Maka mencari sumber pembiayaan dalam mata uang lain dapat menjadi bagian dari strategi mengurangi tekanan konsentrasi risiko.
Panda Bond adalah instrumen pembiayaan pemerintah. Sementara BI bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, menjaga stabilitas sistem keuangan, memperdalam pasar keuangan, serta mengembangkan sistem pembayaran yang semakin efisien. Karena itu, ketika pemerintah mencari pembiayaan dalam yuan, BI memiliki kepentingan agar pasar valas, likuiditas renminbi, transaksi lintas negara, dan infrastruktur keuangan berjalan lebih dalam dan tertata.
Hal ini terlihat dari kerja sama BI dan People’s Bank of China (PBOC). Pada Juni 2026, BI dan PBOC memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara. Kemudian memperkuat konektivitas pembayaran, menjajaki perluasan Bilateral Currency Swap Arrangement, mendorong Local Currency Transaction, membangun RMB Clearing Bank di Indonesia. Selain itu, meluncurkan implementasi pembayaran QRIS lintas negara Indonesia–Tiongkok.
Dampak kebijakan ini sangat dekat dengan masyarakat. Pelaku usaha Indonesia yang berdagang dengan Tiongkok dapat bertransaksi lebih langsung dalam rupiah dan yuan. Pembayaran QRIS lintas negara makin mudah. Wisatawan, investor dan pelaku usaha dapat merasakan transaksi yang lebih cepat dan efisien. Di sinilah kebijakan BI dapat bermuara pada hal sederhana: biaya transaksi yang lebih rendah, harga yang lebih stabil, dan kepercayaan yang lebih terjaga.
Namun demikian Panda Bond bukan obat ajaib agar nilai tukar rupiah menguat. Rupiah tetap dipengaruhi oleh arus modal, neraca transaksi berjalan, harga komoditas, suku bunga global, persepsi risiko fiskal, kualitas belanja pemerintah, dan produktivitas ekonomi domestik. Jika struktur ekonomi masih bergantung pada impor, mengganti mata uang pembiayaan tidak menyelesaikan akar persoalan.
Diversifikasi atau Ketergantungan Baru?
Pendukung Panda Bond akan mengatakan bahwa diversifikasi adalah langkah rasional. Jika pasar Tiongkok besar, likuid, dan menawarkan biaya pembiayaan yang menarik, Indonesia perlu memanfaatkannya. Mempertimbangkan besarnya hubungan dagang Indonesia–Tiongkok, penggunaan yuan dapat dianggap selaras dengan realitas ekonomi.
Namun pengkritiknya akan bertanya: apakah risiko dolar sedang dikurangi, atau risiko yuan sedang ditambah? Jika yuan menguat terhadap rupiah, beban pembayaran tetap bisa meningkat. Jika hubungan geopolitik berubah, akses pembiayaan juga dapat terpengaruh.
Mempertimbangkan hal tersebut, ukuran keberhasilan Panda Bond adalah apakah instrumen ini memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Utang murah tetap menjadi beban jika digunakan untuk belanja yang tidak produktif. Sebaliknya, pembiayaan yang dikelola disiplin dapat memperkuat infrastruktur, industri, ekspor, dan produktivitas nasional.
Panda Bond sebaiknya dibaca sebagai bagian dari strategi. Pemerintah mengelola pembiayaan. Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah, memperkuat pasar keuangan, mendorong transaksi mata uang lokal, dan memastikan sistem pembayaran berjalan semakin efisien. Keduanya harus bergerak dalam orkestrasi yang sama yaitu mengurangi kerentanan tanpa menciptakan ketergantungan baru.
Saat rupiah ditekan dolar, Indonesia dapat mencari teman baru. Namun pertanyaannya adalah: Apakah teman baru itu benar-benar membuat ekonomi kita lebih kuat, atau hanya membuat kita berpindah dari satu ketergantungan ke ketergantungan lain?
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
